kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.021.000   -21.000   -0,69%
  • USD/IDR 16.974   58,00   0,34%
  • IDX 7.137   -224,90   -3,05%
  • KOMPAS100 989   -32,34   -3,17%
  • LQ45 728   -22,86   -3,04%
  • ISSI 249   -9,93   -3,83%
  • IDX30 392   -8,64   -2,16%
  • IDXHIDIV20 487   -9,80   -1,97%
  • IDX80 111   -3,58   -3,12%
  • IDXV30 132   -2,45   -1,82%
  • IDXQ30 127   -2,57   -1,99%

Imbal Hasil Tinggi Masih Jadi Daya Tarik Lender Tempatkan Dana di Fintech Lending


Jumat, 13 Maret 2026 / 17:10 WIB
Imbal Hasil Tinggi Masih Jadi Daya Tarik Lender Tempatkan Dana di Fintech Lending
ILUSTRASI. Fintech, Pinjaman Online, Pinjol (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Imbal hasil penempatan dana di platform fintech peer to peer (P2P) lending mencapai 14% hingga 18% per tahun.

Pengamat sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai imbal hasil yang tinggi tersebut masih jadi daya tarik bagi lender untuk menempatkan dananya di fintech lending. Terlebih, bagi lender yang merasa risiko tinggi tidak menjadi masalah.

"Bunga pengembalian yang mencapai 18% per tahun menjadi daya tawar menarik, atau lebih tinggi dibandingkan di deposito, Surat Berharga Negara (SBN), bahkan pasar modal," ujarnya kepada Kontan, Kamis (12/3/2026).

Baca Juga: BRI Finance Catat Pembiayaan Kendaraan Listrik Naik 33 Kali Lipat pada Februari 2026

Dengan imbal hasil yang tinggi tersebut, Nailul juga menyebut bagi lender institusi, seperti perbankan, juga bisa menjadi pertimbangan utama dalam menempatkan dana di fintech lending. Dia bilang hal itu juga perlu dilakukan perbankan yang ingin mendiversifikasi portofolio investasinya.

"Ditambah, perbankan dapat melakukan manajemen risiko dari borrower pinjaman daring, dibandingkan lender ritel. Dengan bunga sebesar itu, ya, sangat menarik bagi perbankan untuk masuk. Paling biaya risiko mereka di angka 2% karena mereka tidak mengeluarkan biaya untuk penyaluran," tuturnya.

Bagi investor ritel, Nailul menganggap mereka juga harus melihat biaya risikonya, mulai dari karakteristik calon borrower, hingga kondisi ekonomi. 

"Jangan sampai masyarakat tidak tahu terkait dengan risikonya. Akhirnya banyak yang terjebak gagal bayar dan sebagainya, karena hanya keuntungan yang besar. Oleh karena itu, perlu melakukan riset dan belajar berinvestasi dahulu di berbagai platform," kata Nailul. 

Sebagai informasi, data OJK mencatat, industri fintech P2P lending masih membukukan pertumbuhan pembiayaan yang signifikan per Januari 2026. Adapun outstanding pembiayaan fintech P2P lending mencapai Rp 98,54 triliun per Januari 2026. Nilai itu tercatat tumbuh sebesar 25,52% secara Year on Year (YoY).

OJK juga mencatat, tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 fintech lending pada awal 2026 mengalami peningkatan. Angka TWP90 per Januari 2026 tercatat sebesar 4,38%, atau meningkat dari posisi Desember 2025 yang sebesar 4,32% dan posisi Januari 2025 yang sebesar 2,52%. 

Baca Juga: Berbagai Modus Penipuan Online Incar Nasabah Bank, BWS Imbau Masyarakat Waspada

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×