kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.603.000   -7.000   -0,27%
  • USD/IDR 18.057   49,00   0,27%
  • IDX 6.270   35,66   0,57%
  • KOMPAS100 822   4,26   0,52%
  • LQ45 627   3,11   0,50%
  • ISSI 217   0,85   0,40%
  • IDX30 352   2,10   0,60%
  • IDXHIDIV20 432   1,75   0,41%
  • IDX80 94   0,41   0,44%
  • IDXV30 119   0,32   0,27%
  • IDXQ30 112   0,43   0,39%

AAUI: Penggunaan AI Dapat Membantu Mengelola Klaim Kesehatan di Industri Asuransi


Selasa, 04 Agustus 2026 / 11:08 WIB
AAUI: Penggunaan AI Dapat Membantu Mengelola Klaim Kesehatan di Industri Asuransi
ILUSTRASI. AAUI menerangkan penggunaan kecerdasan buatan (AI) berpotensi memberikan dampak positif bagi industri asuransi, khususnya asuransi kesehatan. (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menerangkan penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berpotensi memberikan dampak positif bagi industri asuransi, khususnya yang memiliki produk asuransi kesehatan.

Terkait lini asuransi kesehatan, Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengatakan, penerapan AI memang memiliki potensi yang cukup besar untuk membantu pengelolaan klaim kesehatan. 

"Dengan volume transaksi yang tinggi, teknologi dapat membantu membaca pola klaim dalam jumlah besar dan mengidentifikasi transaksi yang menyimpang dari pola normal dengan jauh lebih cepat," ujarnya kepada Kontan, Senin (3/8/2026). 

Baca Juga: Asippindo Ungkap Tantangan Jamkrida Perseroda Gaet Investor, Ini Strateginya

Sebagai contoh, Budi menerangkan sistem dapat memberikan tanda atau flag apabila ditemukan frekuensi klaim yang tidak wajar, pengajuan klaim berulang atau duplikasi, biaya tindakan medis yang jauh berbeda dari pola normal, ketidaksesuaian antara diagnosis dengan tindakan atau obat yang diberikan, pola penggunaan layanan tertentu yang tidak lazim, maupun pola transaksi yang berulang antara peserta dan provider tertentu.

"Selain itu, AI juga dapat membantu melihat pola yang sulit teridentifikasi apabila klaim diperiksa satu per satu, karena analisis dilakukan terhadap data historis dan keterkaitan data dalam jumlah yang sangat besar," ungkapnya.

Namun, Budi menekankan bahwa flagging dari AI bukan berarti seseorang atau provider otomatis dinyatakan melakukan fraud. Dia mengatakan AI berfungsi sebagai early warning system untuk membantu perusahaan menentukan klaim mana yang membutuhkan verifikasi atau investigasi lebih lanjut. 

"Keputusan akhir tetap memerlukan proses validasi dan penilaian manusia," tuturnya.

Bagi AAUI, Budi mengatakan, pemanfaatan AI pada akhirnya bukan semata-mata mengenai efisiensi atau menekan klaim, tetapi cara teknologi dapat membantu menciptakan ekosistem asuransi kesehatan yang lebih sehat, transparan dan berkelanjutan, sekaligus tetap memastikan hak serta pelayanan kepada peserta terlindungi.

Sementara itu, Budi menyampaikan belum seluruh perusahaan asuransi umum yang memiliki portofolio kesehatan sudah menggunakan Artificial Intelligence secara penuh. 

"Tingkat adopsinya masih berbeda-beda, tergantung pada skala bisnis, volume transaksi dan klaim, kesiapan infrastruktur teknologi, kualitas data, serta strategi digital masing-masing perusahaan," ucapnya.

Pada beberapa perusahaan, Budi menyebut pemanfaatannya juga dilakukan secara bertahap. Misalnya, dimulai dari digitalisasi proses klaim, otomatisasi verifikasi dokumen, analisis data, hingga kemudian dikembangkan untuk fraud detection dan predictive analytics.

Baca Juga: Ciputra Life: Penggunaan AI Dapat Tingkatkan Efektivitas Pengelolaan Klaim Kesehatan

Untuk industri asuransi umum, data AAUI mencatat, rasio klaim asuransi kesehatan mencapai 36% pada kuartal I-2026. Angkanya menurun, jika dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar 45%. 

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan AI mulai dimanfaatkan industri perasuransian, khususnya pada lini asuransi kesehatan. Adapun pemanfaatan AI bertujuan untuk mendukung peningkatan efisiensi operasional dan kualitas layanan. 

Secara rinci, OJK menyebut pemanfaatan AI pada lini asuransi kesehatan digunakan dalam proses underwriting, pengelolaan klaim, deteksi potensi fraud, analisis data kesehatan, serta layanan pelanggan melalui chatbot. Selain itu, digunakan juga untuk pengembangan produk yang lebih sesuai dengan profil risiko dan kebutuhan nasabah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×