Reporter: Aura Putri | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank digital semakin agresif menambah layanan guna mendorong transaksi nasabah sekaligus memperkuat penghimpunan dana murah (current account saving account/CASA). Sejumlah bank mulai melengkapi aplikasinya dengan pengaturan anggaran, tabungan otomatis, hingga pemantauan kesehatan kredit.
Langkah tersebut sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat mengatur keuangan. Studi Katadata Insight Center pada Mei 2026 menunjukkan 69,9% masyarakat telah merencanakan pengeluaran dan pendapatan, naik dari 68% pada 2025.
Krom Bank menjadi salah satu yang memperkuat layanan pengelolaan keuangan. Perseroan menghadirkan Money Journey untuk memantau arus kas, aset, dan pengeluaran, serta Kantong Tabungan dan Auto Save untuk membantu nasabah menabung sesuai target.
Baca Juga: Bos BTN Ungkap Penyebab NIM Turun Jadi 3,5% pada Juni 2026
Tak mau kalah, Bank Jago juga menghadirkan Inspirasi Kantong untuk membantu nasabah mengatur alokasi dana sesuai tujuan keuangan. Adapun Rapor Kredit untuk memantau kesehatan kredit sebelum mengajukan pinjaman.
Head of Retail Banking Brand & Marketing Bank Jago Michael Hartawan mengatakan, fitur tersebut dirancang agar nasabah lebih mudah mengelola keuangan.
"Kami menghadirkan Inspirasi Kantong untuk membantu pengguna menemukan komposisi kantong yang sesuai dengan situasi dan kebutuhan keuangan mereka," ujarnya, dikutip Selasa (29/7).
Per Juni 2026, jumlah nasabah Bank Jago mencapai 20,1 juta. Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 23% menjadi Rp27,6 triliun, dengan CASA sebesar Rp14,6 triliun atau 53% dari total DPK.
Allo Bank juga memperkuat layanannya melalui fitur transaksi, Allo Grow, dan Allo Deposito. Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo mengatakan, semakin sering nasabah bertransaksi, semakin besar peluang rekening Allo Bank menjadi rekening utama mereka.
"Semakin sering nasabah menggunakan aplikasi untuk kebutuhan sehari-hari, semakin besar peluang rekening Allo Bank menjadi rekening utama dalam aktivitas finansial mereka," ujarnya kepada Kontan, Selasa (29/7).
Menurut Destya, pertumbuhan CASA tidak hanya dipengaruhi suku bunga, tetapi juga aktivitas transaksi nasabah.
Per Mei 2026, CASA Allo Bank mencapai Rp1,40 triliun, naik dari Rp876,62 miliar pada Mei 2025. Rasio CASA juga meningkat menjadi 22,6% dari 15,3%.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai, persaingan bank digital kini tidak lagi hanya mengandalkan bunga simpanan.
Bhima mengatakan layanan pendukung seperti fitur perencanaan keuangan hingga kesehatan mental dapat menjadi nilai tambah untuk menarik nasabah sekaligus meningkatkan penghimpunan CASA.
"Sekarang kebutuhan layanan financial planning hingga layanan psikologi mulai meningkat terutama di kalangan generasi Z dan milenial. Ketika bank memberikan fasilitas yang relatif lebih lengkap dibanding perbankan pada umumnya, itu bisa menjadi nilai tambah sehingga CASA juga berpotensi meningkat," ujar Bhima kepada Kontan, Selasa (29/7).
Baca Juga: BCA Belum Agresif Naikkan Bunga Kredit, Ini Pertimbangannya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














