Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) baru saja mengakuisisi lini bisnis ritel dan wealth management dari Bank HSBC Indonesia. Langkah bisnis ini membuat emiten sahamnya, NISP, semakin menarik untuk dilirik.
Pada penutupan perdagangan hari ini, Jumat (8/5/2026), harga saham NISP berada di level Rp 1.350 atau turun 1,46% dibanding penutupan kemarin.
Akan tetapi, jika dilihat dalam rentang perdagangan sepekan, saham NISP sebenarnya naik harga 1,89%.
Dari aktivitas investor asing, dalam sepekan ini NISP mengalami jual bersih alias net sell sebesar Rp 8,06 miliar.
Baca Juga: OCBC NISP Kantongi Laba Rp 1,36 Triliun pada Kuartal I-2026, Kredit Juga Naik
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, aksi akuisisi yang dilakukan oleh OCBC ini membuatnya berpeluang besar untuk masuk ke jajaran Kelompok Bank Modal Inti (KBMI) IV atau yang juga sering disebut sebagai bank besar alias big banks.
Akan tetapi, Nafan menilai peluang untuk menjadi big banks ini lebih bersifat jangka panjang. Pasalnya, OCBC harus terlebih dahulu memperhatikan tingkat keuntungan dari modal yang dimiliki, tidak bisa asal ekspansi.
Terkait dengan saran investor, Nafan menilai kalau saham NISP ini tidak memiliki tingkat likuiditas yang terlalu tinggi seperti saham bank besar yang memang sudah teruji. Sebab itu, bagi investor yang ingin masuk ke NISP diharapkan untuk berhati-hati.
Kabar baiknya, Nafan menilai NISP punya potensi pertumbuhan bisnis yang besar.
Baca Juga: OCBC NISP Siap Bagi Dividen Rp 1,03 Triliun dan Buyback Saham
Dilihat dari skema bisnisnya yang semakin mengutamakan digitalisasi, Nafan optimistis NISP dapat mendorong pertumbuhan margin keuntungannya, sehingga laba bersih pun akan terus meningkat.
Untuk diketahui, hingga Maret 2026, NISP memperoleh laba bersih sebesar Rp 1,36 triliun, naik dari periode sama tahun lalu di Rp 1,29 triliun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













