kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.830   2,00   0,01%
  • IDX 8.132   99,86   1,24%
  • KOMPAS100 1.146   13,97   1,23%
  • LQ45 829   8,49   1,03%
  • ISSI 288   4,60   1,62%
  • IDX30 431   4,26   1,00%
  • IDXHIDIV20 519   5,74   1,12%
  • IDX80 128   1,62   1,28%
  • IDXV30 141   1,99   1,43%
  • IDXQ30 140   1,49   1,07%

BI bisa terapkan pajak atau menahan dana panas


Jumat, 29 Oktober 2010 / 10:13 WIB
BI bisa terapkan pajak atau menahan dana panas
ILUSTRASI. Perusahaan Dengan Karyawan Terbanyak di indonesia - PT Astra International Tbk


Reporter: Andri Indradie | Editor: Uji Agung Santosa

JAKARTA. Aliran modal asing ke pasar negara-negara berkembang bakal semakin kencang jika The Fed menyuntikkan likuiditas November nanti. Untuk menahan dampak negatif aliran modal asing (capital inflow), bukan tidak mungkin Bank Indonesia (BI) memperpanjang masa wajib pegang Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Kemungkinan lain, BI menerapkan pajak transaksi terhadap dana asing yang masuk ke pasar keuangan.

Itulah prediksi Kepala Ekonom Deutsche Bank Singapura Taimur Baig dan sejumlah ekonom di Indonesia. "Kemungkinan perubahan kebijakan ini bisa terjadi begitu regulator AS mengumumkan kebijakan quantitative easing," ujar Baig dalam laporannya, Rabu (27/10).

Sayang, BI belum dapat memastikan kemungkinan tersebut. Perry Warjiyo, Direktur Riset dan Moneter BI, menilai, Indonesia justru harus bisa memanfaatkan tingginya ekses likuiditas dan persepsi positif investor asing terhadap Indonesia.

Indonesia bisa mendorong dana panas ini menuju investasi jangka menengah-panjang, misalnya, penyertaan modal asing (PMA) atau mengarahkan dana tersebut ke penawaran saham perdana alias initial public offering (IPO). "Ini untuk mendorong ekonomi dan kinerja perusahaan," tutur Perry.

Sejatinya, BI juga telah melakukan intervensi untuk menjaga nilai tukar rupiah di Rp 8.900-Rp 9.300 per dollar AS. Biaya intervensi itu mencapai US$ 2,6 juta. Gubernur BI Darmin Nasution menyatakan, kisaran tersebut dianggap level yang nyaman bagi para eksportir.

Anton Hendranata, Ekonom Bank Danamon, menjelaskan, dua bulan terakhir secara rata-rata, rupiah justru melemah terhadap dollar AS. Pasalnya, mata uang regional menguat lebih banyak terhadap dollar AS. "Bila dollar AS masih dalam tren melemah, rupiah masih bisa dibiarkan menguat terhadap dollar AS tanpa harus mengorbankan daya saing ekspor," tulis Anton dalam risetnya.

Ekonom Senior Bank Mandiri Doddy M. Arifianto bilang, BI tidak akan kekurangan daya tahan. "Daya tahan BI bisa dikatakan tak terbatas karena BI bisa mencetak rupiah sebanyak-banyaknya sesuai kebutuhan," ujar Doddy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×