Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA.
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan biaya kesehatan menjadi tantangan bagi industri asuransi dalam menjaga kualitas portofolio dan kemampuan membayar klaim.
Kondisi ini mendorong perusahaan asuransi memperkuat proses seleksi risiko atau underwriting dengan memanfaatkan data dan teknologi.
Mercer dalam Health Trends 2026 memproyeksikan medical trend rate Indonesia mencapai 17,8% pada 2026. Angka tersebut jauh melampaui proyeksi inflasi umum sebesar 2,5%.
Ketua Perkumpulan Underwriter Jiwa Indonesia (Peruji), Dessy Kusumayati mengatakan, perkembangan risiko membuat proses underwriting tidak lagi cukup hanya mengandalkan pengalaman.
Menurut Direktur Life and Health Business PT Indoperkasa Suksesjaya Reasuransi (Inare) itu, underwriter perlu menggabungkan kualitas data, disiplin proses dan kemampuan mengambil keputusan.
Perannya juga berkembang dari sekadar menyeleksi risiko menjadi mitra strategis perusahaan dalam menjaga pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio.
Baca Juga: Jumlah Tertanggung Asuransi Syariah Capai 25,96 Juta Jiwa di Paruh Pertama 2026
Teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat membantu membaca pola, meningkatkan konsistensi serta mengurangi pekerjaan berulang. Namun, keputusan dan tanggung jawab tetap di tangan manusia. “Teknologi harus kita jadikan teman, bukan ancaman,” ujar Dessy, dalam keterangannya, Kamis (10/9).
Deputi Komisioner Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Iwan Pasila mengatakan, fungsi underwriting menjadi penting untuk menjaga kualitas pengelolaan risiko industri sejak tahap awal.
“Underwriter itu menjadi gawang pertama dan gawang awal yang sangat penting untuk menjaga kita bisa mencapai tujuan kita,” kata Iwan.
Berdasarkan data OJK per Juli 2026, total aset sektor perasuransian, penjaminan dan dana pensiun (PPDP) mencapai Rp 2.964,56 triliun dengan nilai investasi Rp 2.276,91 triliun.
Dari sisi permodalan, risk based capital (RBC) industri asuransi jiwa tercatat 455,23%. Sedangkan RBC industri asuransi umum dan reasuransi mencapai 322,01%.
OJK menargetkan rasio aset industri asuransi terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 20% pada 2045, dari 9,1% pada 2025.
Iwan mendorong underwriter memahami kesesuaian target pasar dan produk, sekaligus memanfaatkan data, teknologi digital dan AI dalam proses underwriting dengan tetap menjaga akurasi data.
Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Albertus Wiroyo mengatakan, kompetensi dan kolaborasi lintas fungsi juga perlu diperkuat.
"AAJI mendukung pengembangan kompetensi, penyusunan standar industri, penyiapan talenta, serta dialog bersama regulator guna memperkuat profesi underwriter jiwa di Indonesia,” ujar Albertus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














