kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.819.000   -17.000   -0,93%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

DPK melandai, perbankan berbondong terbitkan surat utang


Rabu, 02 Oktober 2019 / 20:27 WIB
DPK melandai, perbankan berbondong terbitkan surat utang
ILUSTRASI. Pelayanan Nasabah di Bank Negara Indonesia (BNI)


Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di penghujung tahun, sejumlah bank mulai getol mencari pendanaan anorganik. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang melambat serta likuiditas yang masih ketat jadi alasannya. Dari catatan Bank Indonesia pertumbuhan DPK pada Agustus tercatat sebesar 7,3% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Juli 2019 sebesar 8,0% (yoy). Perlambatan terutama disebabkan melambatnya simpanan berjenis giro, dan deposito.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI, anggota indeks Kompas100) misalnya baru saja merilis Obligasi Berkelanjutan III Tahap 1/2019 senilai Rp 5 triliun yang ditargetkan dapat menghimpun dana hingga Rp 20 triliun. Sisa Rp 15 triliun akan diterbitkan tiap semesternya masing-masing Rp 5 triliun hingga 2021 mendatang.

Baca Juga: Penyaluran kredit menurun, NPL perbankan malah meningkat

“Hasil penjualan obligasi ini seluruhnya akan kita pergunakan untuk ekspansi kredit, yang mayoritasnya akan kami salurkan ke segmen UMKM. Termasuk sisa penerbitan Rp 15 triliun hingga 2021 nanti,” kata Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo di Jakarta, Rabu (2/10).

Surat utang ini akan ditawarkan dalam tiga Seri. Seri A menawarkan kupon 6,35%-7,00% dengan tenor 370 hari, Seri B berkupon 7,19%-7,79% dengan tenor 3 tahun, dan terakhir Seri C dengan kupon 7,51%-8,21% dan tenor 5 tahun. Sedangkan nilai masing-masing Seri akan dibagi sama rata.

Yang menarik, obligasi ini disebut Haru juga akan menyasar investor ritel. Dari niali penerbitan RP 5 triliun, Rp 1 triliun ditargetkan untuk bisa dibeli investor ritel. Bahkan jika antusiasmenya tinggi, BRI bisa menambah alokasinya. “Ini merupakan pertama kalinya kami juga menyasar investor ritel. Kami menawarkan mulai denominasi Rp 50 juta kepada investor ritel,” lanjutnya.

Menyasar investor ritel juga jadi strategi perseroan untuk tetap menjaga para deposannya. Maklum pertumbuhan simpanan di bank dengan aset terbesar di tanah air ini mulai melandai di akhir tahun.

Baca Juga: Bank Mandiri targetkan penjualan ORI016 sebanyak Rp 800 miliar

Per Agustus 2019, DPK perseroan cuma tumbuh 9,6% (yoy) menjadi Rp 892,70 triliun. Pertumbuhan tersebut jauh lebih rendah dibandingkan yang diraih pada akhir semester 1-2019 lalu sebesar 12,8% (yoy). Sedangkan pertumbuhan depositonya jauh lebih kecil sebesar 9,1% (yoy). “(Obligasi) ini jadi alternatif bagi nasabah kami, belilah obligasi BRI. Agar mereka justru tidak keluar dan membeli obligasi emiten lain,” kata Haru.

Sebelumnya, pada Maret 2019, BRI juga telah menerbitkan obligasi global bertajuk Global Sustainability Bond senilai US$ 500 juta yang laris manis di pasaran. Permintaan terhadap obligasi global yang memiliki bunga 3,95% tersebut mencapai US$ 4,1 miliar, atau oversubscribed hingga delapan kali.

Adapula PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR, anggota indeks Kompas100) yang ambil langkah serupa. Perseroan juga baru saja menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap III/2019 senilai Rp 248 miliar. Ini merupakan lanjutan penerbitan obligasi yang telah dilakukan perseroan sejak 2017.

Total penerbitan Obligasi Berkelanjutan I BJB senilai Rp 3,50 triliun. Tahap I/2017 telah diterbitkan Rp 1,5 triliun, kemudian Tahap II/2018 diterbitkan Rp 1,752 triliun. “Seluruh hasil penjualan Obligasi I BJB akan digunakan untuk ekspansi kredit kami,” kata Corporate Secretary BJB Muhammad Asadi Budiman kepada Kontan.co.id.

Baca Juga: Suku bunga turun, BRI berupaya sesuaikan bunga kredit

Sedangkan Obligasi Tahap III/2019 ini juga menawarkan tiga seri. Seri A senilai Rp 66 miliar dengan kupon tetap 8,25% dan tenor 3 tahun. Seri B senilai Rp 108 miliar berkupon tetap 8,50% dan tenor 5 tahun. Dan terakhir Seri C senilai Rp 74 miliar dengan kupon 8,75% dan tenor 7 tahun. Kupon seluruh seri akan dibayarkan triwulanan.

Per Agustus 2019, DPK perseroan juga baru tumbuh 5,3% (yoy) menjadi Rp 86,49 triliun. Sementara deposito perseroan tumbuh lebih rendah sebesar 4,9% (yoy) menjadi Rp 48,94 triliun di akhir Agustus 2019. “Mulai tahun depan kami juga rencananya akan kembali menerbitkan obligasi dengan nilai Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun. Penggunaannya juga masih sama untuk ekspansi kredit,” lanjut Asadi.

Sementara dari data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) tercatat beberapa bank lainnya juga telah menerbitkan surat utang di akhir triwulan III/2019 ini. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI, anggota indeks Kompas100) misalnya menerbitkan Negotiable Certificate Deposit (NCD) III/2019 dengan nilai total Rp 2,39 triliun.

Ada lima seri yang ditawarkan perseroan. Seri A senilai Rp 430 miliar dengan kupon 6,306% dan tenor 3 bulan. Seri B senilai Rp 250 miliar dengan kupon 6,500% dan tenor 6 bulan, Seri C senilai Rp 50 miliar dengan kupon 6,599% dan tenor 9 bulan. Seri D senilai Rp 1,60 triliun dengan kupon 6,698% dan tenor 12 bulan. Terakhir Seri E senilai Rp 60 miliar dengan kupon 6,798% dan tenor 12 bulan.

Baca Juga: Perkuat ketahanan pangan, Bank Mandiri dan Pertamina bangun sentra pengolahan beras

“Dampak penerbitan NCD ini yakni untuk menunjang pengembangan bisnis emiten khususnya dalam ekspansi kredit,” kata Corporate Secretary BNI Meilana dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia.

Kemudian ada PT Bank Bukopin Tbk (BBKP, anggota indeks Kompas100) yang menerbitkan Efek Beragun Aset (EBA) senilai Rp 480,40 miliar. EBA perseroan berasal dari kumpulan tagihan kredit pensiunan perseroan yang dialihkan kelas A1 (EBA A1). Surat utang ini menawarkan kupon sebesar 9,25% yang akan dibayarkan triwulanan dengan masa tenor selama 3 tahun.

Selain menerbitkan EBA, Bank Bukopin juga akan menggelar rights issue bertajuk Penawaran Umum Terbatas V untuk memperkuat struktur modalnya. Rencananya, perseroan akan melepas saham kelas B sebanyak-banyaknya 40% dari jumlah saham yang ditempatkan atau setara 4,66 miliar lembar saham.

Baca Juga: Pasar keuangan tertekan, kinerja reksadana pasar uang masih tumbuh positif

“Penambahan modal untuk menguatkan modal kerja perusahaan, sehingga perseroan akan memiliki pendanaan yang cukup untuk menjalankan strategi usahanya,” tulis Direksi perseroan dalam keterbukaan informasi.

Kemudian ada PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) yang menerbitkan NCD IX/2019 dengan total nilai Rp 380 miliar. Ada dua seri yang ditawarkan, Seri A dengan nilai Rp 40 miliar berkupon 6,50% dan tenor 6 bulan. Seri B senilai Rp 340 miliar dengan kupon 6,75% dan tenor 12 bulan.

Selanjutnya ada PT Bank KEB Hana Indonesia yang juga menerbitkan NCD bertajuk NCD V/2019 senilai Rp 950 miliar. Hanya ada satu seri yang ditawarkan dengan kupon 6,89% dan tenor selama 12 bulan.

Terakhir ada PT Bank Commonwealth yang menerbitkan NCD VI/2019 dengan senilai total Rp 600 miliar. Ada dua seri yang ditawarkan, Seri A senilai Rp 270 milair dengan kupon 6,55% dan tenor 6 bulan, serta Seri B senilai Rp 330 miliar berkupon 6,65% dan tenor 12 bulan.

Baca Juga: PPA terbitkan surat berharga komersil Rp 100 miliar di kuartal IV-2019

Masih ramai pada 2020

Sedangkan beberapa bank lainnya diprediksi akan menerbitkan varian surat utang pada tahun depan. Dua bank yaitu PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN, anggota indeks Kompas100), dan PT Bank OCBC NISP (NISP) jadi calon kuatnya.

Direktur Keuangan BTN Nixon Napitupulu menjelaskan pihaknya akan menerbitkan junior global bond dengan kisaran nilai US$ 200 juta hingga US$ 250 juta. “Rencananya pada kuartal 1/2020. Karena kalau di bulan November atau Desember, investor asing kecenderungannya mengurangi portofolio," katanya kepada Kontan.co.id.

Sementara sebelumnya kepada Kontan.co.id, Presiden Direktur Bank OCBC NISP Parwati Surdaudaja bilang sejatinya perseroan masih punya jatah untuk menerbitkan obligasi berkelanjutan senilai Rp 7 triliun tahun ini. Parwati mengaku tak akan terburu-buru menerbitkan obligasi tersebut, lantaran pihaknya masih ingin memantau kondisi pasar, dan kesiapan investor untuk menyerap obligasinya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×