Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wacana pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan batubara 2026 dinilai berpotensi memengaruhi kinerja industri asuransi umum.
Pengurangan kuota produksi yang signifikan diperkirakan berdampak pada sejumlah lini bisnis yang selama ini bergantung pada aktivitas pertambangan batubara.
Pengamat asuransi Irvan Rahardjo menilai, potensi pemotongan kuota produksi batubara tahun 2026 yang dilaporkan bisa mencapai 40% menurut Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia-Indonesian Coal Mining Association (APBI-ICMA), akan berdampak negatif pada perusahaan asuransi, khususnya di lini marine cargo, alat berat, dan asuransi energi.
Baca Juga: OJK Beberkan Tantangan Industri Asuransi, dari Bencana Alam hingga Spin Off Syariah
“Penurunan produksi akan mengurangi volume pengiriman batubara, sehingga premi marine cargo berpotensi turun. Utilisasi alat berat yang lebih rendah juga berdampak pada premi asuransi alat berat dan engineering,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (1/3/2026).
Menurutnya, selain menekan pendapatan premi, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko klaim.
Gangguan kontrak, penundaan proyek, hingga penurunan utilisasi alat berpotensi memicu klaim, terutama jika terjadi perselisihan kontraktual atau kerusakan alat akibat idle yang berkepanjangan.
Irvan menambahkan, lini asuransi marine cargo, alat berat, serta property all risk di situs tambang berpotensi paling terpapar.
Penurunan volume produksi dan ekspor akan mengurangi aktivitas pengiriman barang, menurunkan kebutuhan alat berat, dan mengurangi eksposur risiko aset tertanggung. Dampaknya, premi yang dibukukan berpotensi menyusut.
Baca Juga: Bencana Alam Berpotensi Dongkrak Klaim, Tugu Insurance Pastikan Rasio Tetap Terjaga
“Penurunan volume produksi/ekspor mengurangi aktivitas pengiriman barang (marine cargo), menurunkan kebutuhan alat berat, dan mengurangi risiko aset tertanggung, yang berdampak pada penurunan premi dan potensi klaim,” ungkapnya.
Lebih jauh, target penurunan produksi batubara menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026 juga diperkirakan berdampak luas pada industri pendukung. Sektor jasa pertambangan, kontraktor alat berat, hingga ketenagakerjaan akan terkena imbasnya.
Industri turunan seperti pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) serta sektor lain yang bergantung pada batubara juga perlu melakukan penyesuaian operasional. Kondisi ini turut memengaruhi lini asuransi lain, seperti asuransi tenaga kerja, asuransi pengangkutan, hingga liability.
Sementara itu, PT Asuransi Jasa Indonesia atau Asuransi Jasindo menilai dampak kebijakan tersebut masih bergantung pada kebijakan final serta implementasinya di lapangan.
Baca Juga: Tokio Marine Life Nilai Produk Unitlink Masih Berpotensi Diminati ke Depannya
Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo Brellian Gema Widayana mengatakan, hingga saat ini situasi dinilai masih berada dalam koridor yang terkendali.
“Kami memandang dampaknya terhadap industri asuransi masih akan sangat bergantung pada kebijakan final serta implementasinya di lapangan. Pada tahap ini, kami melihat situasi masih dalam koridor yang terkendali,” ujar Brellian kepada Kontan, Jumat (27/2/2026).
Ia menjelaskan, secara umum portofolio asuransi kerugian mayoritas berbasis aset dan memiliki periode pertanggungan tertentu. Dengan karakteristik tersebut, perubahan volume produksi batu bara dalam jangka pendek tidak serta-merta berdampak langsung terhadap kinerja premi.
Namun demikian, Brellian mengakui pada lini tertentu seperti marine cargo, potensi penyesuaian dapat terjadi apabila terdapat perubahan signifikan pada aktivitas distribusi.
“Untuk lini tertentu seperti marine cargo, potensi penyesuaian dapat terjadi apabila terdapat perubahan signifikan pada aktivitas distribusi. Namun, hal tersebut masih bersifat situasional,” jelasnya.
Baca Juga: OJK Proyeksi Aset Asuransi Bisa Tumbuh 5%-7% pada 2026, Ini Kata AXA Mandiri
Ke depan, Jasindo menegaskan akan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam mengelola risiko. Diversifikasi portofolio juga menjadi strategi utama untuk menjaga ketahanan kinerja di tengah dinamika sektor pertambangan.
“Kami terus memantau perkembangan kebijakan serta memastikan pengelolaan risiko dilakukan secara prudent guna menjaga kinerja yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Pandangan serupa disampaikan PT Asuransi Digital Bersama Tbk atau PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII). Perusahaan menilai dampak rencana pemangkasan RKAB batubara terhadap industri asuransi umum akan bergantung pada portofolio masing-masing perusahaan.
Corporate Secretary YOII Rahmat Dwiyanto mengatakan, perusahaan yang memiliki eksposur signifikan pada sektor pertambangan berpotensi mengalami penurunan premi, khususnya dari lini yang berkaitan langsung dengan aktivitas produksi dan distribusi batubara.
“Secara umum, dampaknya akan sangat bergantung pada komposisi portofolio. Perusahaan dengan paparan besar di sektor tambang tentu berpotensi terdampak, terutama pada lini yang terkait produksi dan distribusi batubara,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (27/2/2026).
Ia menambahkan, secara industri, selain lini pengangkutan dan operasional tambang, asuransi engineering termasuk Construction All Risk (CAR) juga berpotensi terpengaruh, terutama apabila terjadi penundaan ekspansi proyek tambang atau pembangunan infrastruktur pendukung.
Baca Juga: Produk Tradisional Masih Jadi Kontributor Premi Terbesar Tokio Marine Life
Namun demikian, Rahmat memastikan rencana pemangkasan RKAB batubara tidak memberikan tekanan signifikan terhadap kinerja YOII. Pasalnya, komposisi portofolio perusahaan lebih berfokus pada produk asuransi berbasis gaya hidup (lifestyle insurance) dan segmen ritel, sehingga tidak didominasi risiko sektor pertambangan.
“Dengan komposisi tersebut, potensi penurunan produksi batubara diperkirakan tidak berdampak langsung terhadap pendapatan premi Perseroan,” jelasnya.
Rahmat bilang, pihaknya akan tetap menjaga diversifikasi portofolio dan memperkuat lini bisnis dengan permintaan stabil dari segmen ritel dan lifestyle. Perusahaan juga terus mengembangkan produk melalui kanal distribusi digital guna meminimalkan ketergantungan pada sektor tertentu.
“Selain itu, kami tetap memantau perkembangan sektor-sektor industri utama sebagai bagian dari manajemen risiko portofolio, guna memastikan komposisi bisnis tetap sehat dan berkelanjutan dalam berbagai kondisi siklus ekonomi,” lanjutnya.
Pandangan lain disampaikan PT Asuransi Wahana Tata (Aswata). Presiden Direktur Aswata Christian Wanandi mengatakan, potensi dampak penyesuaian RKAB batubara terhadap industri asuransi tetap terbuka, namun sangat bergantung pada rencana kerja masing-masing perusahaan tambang.
Baca Juga: Zurich Sebut Inflasi Medis Jadi Tantangan bagi Industri Asuransi Kesehatan
“Dampaknya mungkin saja terjadi, tetapi semuanya tergantung pada rencana RKAB masing-masing perusahaan batubara,” ujarnya kepada Kontan, Senin (2/3/2026).
Christian menambahkan, apabila terjadi penurunan aktivitas produksi dan distribusi, maka pertumbuhan premi pada lini yang berkaitan langsung dengan sektor pertambangan dipastikan tidak akan terjadi.
“Yang pasti, pertumbuhan premi asuransi alat berat dan marine cargo tidak terjadi apabila aktivitasnya memang menurun,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













