kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Industri DPLK, mati satu tumbuh seribu


Rabu, 29 Januari 2014 / 12:31 WIB
Industri DPLK, mati satu tumbuh seribu
ILUSTRASI. Knitwear Nona


Reporter: Christine Novita Nababan | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Pepatah yang berbunyi, mati satu tumbuh seribu sepertinya ada benarnya. Industri Dana Pensiun Lembaga Keuangan alias DPLK tengah mengalaminya saat ini. Buktinya, usai pembubaran DPLK Nusantara Jiwa yang membuat pemain industri menciut menjadi 23 DPLK, dikabarkan bakal ada beberapa calon pemain baru.

Ricky Samsico, Kepala Bidang Humas Asosiasi DPLK menyebut, beberapa perusahaan asuransi jiwa asing tengah melirik bisnis jaminan pensiun. “Kabarnya malah beberapa telah mengajukan izin usaha ke regulator,” ujarnya kepada KONTAN, Rabu (29/1).

Asosiasi, sambung dia, menyambut baik jika industri DPLK kedatangan pemain baru. Diharapkan, malah bisa meramaikan industri tahun ini juga. Sehingga, menciptakan persaingan bisnis yang sehat dan menggarap lebih banyak potensi pasar yang tersedia.

Asal tahu saja, tahun lalu, pemain industri DPLK masih tercatat 24 perusahaan. Tahun ini, pemainnya tersisa 23 perusahaan, setelah Otoritas Jasa Keuangan melikuidasi DPLK Nusantara Jiwa. Perusahaan ini merupakan anak usaha Asuransi Nusantara Jiwa yang izin usahanya pun sudah dicabut regulator. “Pemiliknya memang sudah tidak eksis dan menyerah,” tutur Ricky.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

[X]
×