kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.944   -29,00   -0,16%
  • IDX 5.999   115,16   1,96%
  • KOMPAS100 778   14,20   1,86%
  • LQ45 588   9,58   1,66%
  • ISSI 208   4,74   2,33%
  • IDX30 333   5,83   1,78%
  • IDXHIDIV20 409   6,49   1,62%
  • IDX80 88   1,57   1,82%
  • IDXV30 111   2,39   2,20%
  • IDXQ30 107   1,91   1,82%

Ini Upaya Strategis yang Bisa Mendorong Ekosistem Asuransi Kesehatan Berkelanjutan


Kamis, 25 Juni 2026 / 16:52 WIB
Ini Upaya Strategis yang Bisa Mendorong Ekosistem Asuransi Kesehatan Berkelanjutan
ILUSTRASI. Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia (Inhealth) (Dok Inhealth/Inhealth)


Reporter: Ade Priyatin | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri asuransi kesehatan masih dibayangi sejumlah tantangan, mulai dari tingginya inflasi medis, lonjakan rasio klaim, hingga persaingan tarif antarperusahaan.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Utama PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia, Marihot H. Tambunan mengatakan asuransi kesehatan saat ini tidak lagi hanya diposisikan sebagai pembayar klaim.

"Artinya, perusahaan asuransi juga melakukan berbagai upaya preventif, promotif, dan mendorong peserta menjadi pasien yang pintar," ujarnya saat pemaparan Webinar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Institute tentang Perlindungan Kesehatan dan Ketahanan Finansial: Peran Asuransi dalam Menghadapi Risiko Masa Depan, Kamis (25/6/2026).

Menurutnya, perubahan pendekatan tersebut menjadi penting mengingat inflasi medis di Indonesia masih berada pada level yang tinggi.

Saat ini, inflasi medis Indonesia menjadi yang tertinggi di Asia dengan level mencapai 17,9%. Sementara itu, menurut Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) loss ratio asuransi kesehatan pada tahun 2025 masih sebesar 127,39%.

Baca Juga: Perkuat Ekosistem Asuransi Kesehatan, OJK Beberkan Target Task Force hingga 2028

Kondisi ini dipandang sebagai titik bagi industri asuransi untuk membenahi strategi agar industri tetap bisa memberikan perlindungan kesehatan secara berkelanjutan tanpa mengurangi kualitas layanan.

Salah satu strateginya adalah penerapan risk-based pricing atau penetapan premi berdasarkan profil risiko masing-masing peserta.

Selain itu, mendorong penerapan clinical pathway dan formularium obat berbasis evidence-based medicine agar tindakan medis dan penggunaan obat diharapkan lebih terstandarisasi sehingga bisa mengurangi risiko pelayanan yang berlebihan maupun pelayanan yang kurang memadai.

Industri juga diharapkan bisa mempercepat digitalisasi melalui pemanfaatan artificial intelligence (AI) dan layanan telemedicine untuk meningkatkan layanan peserta, mendeteksi potensi fraud, serta meningkatkan efisiensi pengelolaan klaim dan administrasi kesehatan.

Baca Juga: Biaya Medis Terus Naik, Industri Asuransi Kesehatan Hadapi Tantangan Ganda

Di sisi lain, Marihot juga mengimbau agar industri asuransi melakukan penguatan kolaborasi dengan rumah sakit, BPJS Kesehatan, regulator, dan seluruh pemangku kepentingan melalui optimalisasi Koordinasi Antar Penyelenggara Jaminan (KAPJ), implementasi utilization review, dan penguatan manajemen risiko. 

"Sinergi antara asuransi, provider, peserta, regulator, BPJS, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk menyediakan perlindungan kesehatan yang berkelanjutan," ujar tegasnya.

Lanjutnya, peningkatan literasi dan inklusi asuransi kesehatan juga dipandang sebagai faktor penting untuk memperluas kepesertaan dan mendukung distribusi risiko yang lebih baik.

Dengan makin banyak peserta yang terlindungi, industri asuransi kesehatan diharapkan akan tumbuh secara berkelanjutan dan terus menyediakan perlindungan kesehatan yang lebih luas bagi masyarakat.

Baca Juga: Inhealth Ganti Logo, Fokus Perkuat Sinergi Grup

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×