Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) menunda rencana penerbitan obligasi global berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) pada semester II-2026. Keputusan ini diambil di tengah dinamika pasar keuangan global dan domestik yang memengaruhi biaya serta persyaratan pendanaan.
Padahal, sebelumnya KB Bank telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mendukung rencana penerbitan obligasi global senior tersebut.
Salah satunya dengan menunjuk kantor akuntan publik (KAP) untuk mengaudit laporan keuangan interim konsolidasian yang berakhir pada 30 Juni 2026.
Baca Juga: Tumbuh 7,91%, Piutang Pembiayaan Syariah Multifinance Rp 32,17 T per September 2026
Dalam keterbukaan informasi sebelumnya, Finance Director KB Bank Jang Hyuk Im menyebutkan bahwa laporan keuangan interim yang telah diaudit akan disampaikan paling lambat 30 September 2026 sesuai ketentuan yang berlaku.
Audit tersebut menjadi salah satu persiapan perseroan untuk mendukung rencana penerbitan obligasi global senior pada paruh kedua 2026.
Jang Hyuk Im menyampaikan bahwa perseroan kini melakukan evaluasi terhadap strategi pendanaan, termasuk rencana penerbitan obligasi dalam mata uang dolar AS.
"Dalam menyikapi dinamika pasar keuangan global dan domestik, KB Bank senantiasa melakukan evaluasi terhadap strategi pendanaan Bank, termasuk rencana penerbitan obligasi dalam mata uang dolar AS (US Dollar Bond)," ujar Jang Hyuk Im kepada Kontan.co.id, Rabu (4/11/2026).
Menurutnya, keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan perkembangan kondisi pasar global dan domestik, termasuk pergerakan suku bunga serta aspek biaya dan persyaratan pendanaan.
Penundaan tersebut merupakan bagian dari langkah KB Bank dalam mengelola strategi pendanaan secara terukur dan penuh kehati-hatian. Meski demikian, keputusan ini tidak mengubah strategi pendanaan jangka panjang KB Bank.
KB Bank juga tetap mengevaluasi berbagai alternatif pendanaan yang sesuai dengan kebutuhan bisnis dan kondisi pasar. Dalam menjalankan strategi tersebut, perseroan mendapat dukungan penuh dari KB Kookmin Bank selaku pemegang saham mayoritas dan KB Financial Group.
Baca Juga: Merger MI Danantara Jadi Momentum Peningkatan GCG dan Manajemen Risiko
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, keputusan KB Bank menunda penerbitan obligasi global mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap instrumen utang dari Indonesia, termasuk risiko spesifik terkait fundamental KB Bank.
Menurut Nafan, investor mempertimbangkan sejumlah aspek sebelum berinvestasi, mulai dari risiko negara atau country risk, stabilitas makroekonomi, tata kelola pasar keuangan, hingga kualitas aset dan profitabilitas perbankan.
"Sentimen negatif pascaperingatan MSCI terkait transparansi pasar modal Indonesia, ditambah perubahan outlook peringkat kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional, turut meningkatkan risk premium yang diminta investor," jelas Nafan.
Meski begitu, Nafan menilai penundaan penerbitan obligasi global tersebut tidak serta-merta menunjukkan KB Bank sedang mengalami krisis likuiditas. Menurutnya, kondisi tersebut lebih mencerminkan adanya ketidaksesuaian antara tingkat imbal hasil yang bersedia ditawarkan emiten dengan kompensasi risiko yang diminta investor.
Namun, keputusan tersebut berpotensi menambah tantangan bagi pengelolaan likuiditas dan struktur pendanaan KB Bank. Terutama apabila dana hasil penerbitan obligasi sebelumnya telah diperhitungkan untuk kebutuhan refinancing, pengelolaan kewajiban valuta asing, maupun mendukung ekspansi bisnis.
Sebagai informasi, KB Bank sebelumnya telah menerbitkan obligasi global senior unsecured notes senilai US$ 300 juta pada Oktober 2024. Penentuan harga atau pricing obligasi tersebut dilakukan pada 23 Oktober 2024 di Singapura, dengan penyelesaian transaksi pada 30 Oktober 2024.
Baca Juga: Penyaluran Pembiayaan Industri Pergadaian Tumbuh 34,93% per September 2026
Obligasi global perdana tersebut memiliki tenor tiga tahun dan akan jatuh tempo pada 30 Oktober 2027. Instrumen utang itu tercatat di Singapore Stock Exchange (SGX-ST) dan diterbitkan berdasarkan ketentuan Regulation S (Reg S) dalam US Securities Act.
Penerbitan obligasi global tersebut merupakan bagian dari strategi KB Bank untuk mendiversifikasi sumber pendanaan jangka panjang sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman luar negeri jangka pendek.
Terlebih, KB Bank masih memiliki kewajiban obligasi global yang akan jatuh tempo pada Oktober 2027. Karena itu, perseroan perlu mempersiapkan alternatif pendanaan sejak dini agar tidak menghadapi tekanan likuiditas menjelang jatuh tempo.
Dari sisi fundamental, kondisi KB Bank juga masih menghadapi tantangan. Pada kuartal III-2026, perseroan mencatatkan rugi bersih sebesar Rp184,17 miliar, berbalik dari laba bersih Rp288,15 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain itu, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross KB Bank tercatat sebesar 10,26% pada September 2026.
Nafan bilang, dampak penundaan penerbitan obligasi terhadap likuiditas operasional bank akan sangat bergantung pada ketersediaan dana pihak ketiga (DPK), aset likuid, akses pendanaan dari induk usaha, serta kemampuan perseroan mengelola jatuh tempo kewajibannya.
Menurutnya, terdapat sejumlah alternatif pendanaan yang bisa ditempuh KB Bank. Pertama, memperoleh dukungan pendanaan dari induk usaha, KB Kookmin Bank di Korea Selatan. Dukungan tersebut dapat berupa fasilitas pinjaman, pembiayaan antarperusahaan, maupun penguatan modal sesuai ketentuan regulator.
Kedua, mengoptimalkan penerbitan instrumen pendanaan di pasar domestik, seperti obligasi, obligasi subordinasi, maupun instrumen utang lainnya.
Ketiga, memperkuat permodalan melalui pemegang saham. Keempat, mengoptimalkan penghimpunan DPK, khususnya dana murah atau current account and savings account (CASA), agar struktur pendanaan lebih efisien dan tidak terlalu bergantung pada instrumen utang berbiaya tinggi.
Baca Juga: OJK Catat Nilai Aset Program Pensiun Wajib Tumbuh 7,02% pada September 2026
Sebagai catatan, KB Bank telah menerbitkan obligasi subordinasi di pasar domestik pada Oktober 2026 dengan kupon sebesar 8,95% dan 9,30%.
Nafan menambahkan, tuntutan imbal hasil atau yield yang lebih tinggi dari investor berpotensi meningkatkan biaya dana atau cost of fund KB Bank apabila perseroan kembali menerbitkan obligasi internasional ketika kondisi pasar belum kondusif.
Kenaikan biaya pendanaan tersebut dapat menekan net interest margin (NIM), terutama apabila tidak diimbangi dengan peningkatan imbal hasil kredit maupun efisiensi biaya operasional.
"Dalam jangka menengah, kondisi tersebut juga berpotensi membatasi ruang ekspansi kredit karena bank harus lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan dengan mempertimbangkan profil risiko dan potensi imbal hasilnya," ungkap Nafan.
Oleh karena itu, kata Nafan KB Bank perlu memprioritaskan penguatan kualitas aset, perbaikan rasio NPL, peningkatan CASA, serta efisiensi operasional. Pemulihan profitabilitas juga menjadi penting untuk memperkuat kepercayaan investor dan memperbaiki persepsi risiko terhadap perseroan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
