Reporter: Ade Priyatin | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembiayaan produktif fintech Peer-to-Peer (P2P) lending diperkirakan masih menghadapi tantangan hingga akhir tahun 2026.
Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda mengatakan bahwa kondisi ekonomi saat ini masih lesu yang membuat pelaku usaha tertekan. Meski pembiayaan tetap tinggi, tetapi para lender cenderung berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan.
"Lender juga akan lebih selektif dalam memilih calon borrower yang akan diberikan pinjaman," ujarnya kepada Kontan, Selasa (7/7/2026).
Tingginya risiko kredit macet dinilai jadi salah satu pertimbangan lender. Apalagi, rasio kredit bermasalah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mendekati 5% membuat lender cenderung menghindari segmen yang berisiko tinggi.
Baca Juga: Tumbuh 25,60%, Pembiayaan Fintech Lending Capai Rp 103,73 Triliun per Mei 2026
Namun di tengah tantangan tersebut, pelaku industri menilai kebutuhan pembiayaan produktif UMKM masih tetap besar.
VP of Public Relation PT Amartha Mikro Fintek (Amartha), Harumi Supit mengatakan kalau pembiayaan produktif di perusahaan masih didominasi untuk kebutuhan modal kerja dan pengembangan usaha.
Hingga kini, Amartha telah menyalurkan pembiayaan kumulatif lebih dari Rp47 triliun kepada lebih dari 4 juta pelaku UMKM.
"Bagi Amartha, pembiayaan produktif tetap menjadi fokus utama bisnis," ujarnya.
Baca Juga: AFTECH Dorong Pembiayaan Produktif Fintech Lebih Banyak Mengalir ke UMKM
Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) Firlie Ganinduto juga menyampaikan bahwa pembiayaan produktif melalui fintech lending masih akan diarahkan untuk mendukung sektor UMKM sebagai salah satu alternatif pembiayaan.
"Peer-to-peer lending ini adalah salah satu alternatif pembiayaan yang digunakan banyak untuk UMKM," jelasnya saat Konferensi Pers di agenda Indonesia Digital Bank Summit 2026.
Ke depannya, Nailul memperkirakan para lender masih selektif sehingga pembiayaan ke sektor produktif berpotensi kembali menurun. Namun, kenaikan suku bunga acuan yang berpotensi mendorong bunga kredit perbankan ikut naik justru bisa membuat permintaan terhadap pembiayaan melalui fintech lending meningkat.
Baca Juga: Kebutuhan Pembiayaan Produktif Masih Besar, Amartha Fokus ke UMKM
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














