kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.700.000   20.000   0,75%
  • USD/IDR 17.907   25,00   0,14%
  • IDX 6.289   -84,45   -1,32%
  • KOMPAS100 822   -14,08   -1,69%
  • LQ45 625   -9,23   -1,46%
  • ISSI 217   -2,83   -1,28%
  • IDX30 349   -5,07   -1,43%
  • IDXHIDIV20 425   -4,25   -0,99%
  • IDX80 94   -1,56   -1,63%
  • IDXV30 117   -1,01   -0,85%
  • IDXQ30 111   -1,31   -1,17%

Kenaikan BI rate ancam kesehatan kredit konsumer


Rabu, 26 Januari 2011 / 12:29 WIB


Reporter: Roy Franedya | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Perbankan Indonesia yang gencar menyalurkan kredit konsumer harus berhati-hati dengan kenaikan suku bunga acuan (BI rate). Pasalnya, kenaikan BI rate akan menimbulkan kenaikan kredit bermasalah atawa non performing loan (NPL).

Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Mirza Adityaswara mengatakan, kenaikan BI rate akan membuat NPL kredit konsumsi meningkat karena cicilan bunga kredit akan ikut naik sementara banyak pendapatan masyarakat yang tetap. "Hal ini membuat pembayaran cicilannya macet," ujarnya, Selasa (26/1).

Mirza bilang, ini pernah terjadi di Amerika Serikat (AS) pasca pemboman World Trade Center (WTC) dimana Bank Sentral AS, Federal Reserve menaikkan suku bunga dari 1% menjadi 5%. "Waktu itu, ekonomi AS langsung terpukul karena AS masih menumpukan ekonominya pada domestik," kata Mirza.

Mirza mengungkapkan, berdasarkan konsensus pasar tahun ini BI rate akan berada dikisaran 7-7,5%. "Sedangkan untuk kredit akan tumbuh 20-23%," kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×