kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.631.000   29.000   1,11%
  • USD/IDR 16.870   24,00   0,14%
  • IDX 8.885   -52,03   -0,58%
  • KOMPAS100 1.226   -2,75   -0,22%
  • LQ45 867   -1,47   -0,17%
  • ISSI 324   0,11   0,04%
  • IDX30 441   1,22   0,28%
  • IDXHIDIV20 520   3,38   0,65%
  • IDX80 136   -0,29   -0,21%
  • IDXV30 144   0,32   0,22%
  • IDXQ30 142   1,10   0,79%

Kredit UMKM Masih Lesu, Bank Hati-hati Bidik Kredit Baru di 2026


Senin, 12 Januari 2026 / 19:39 WIB
Kredit UMKM Masih Lesu, Bank Hati-hati Bidik Kredit Baru di 2026
ILUSTRASI. Kredit UMKM (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terlihat belum bergairah hingga akhir 2025. Hal ini tercermin dari outstanding kredit UMKM yang semakin menyusut.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) kredit UMKM per November 2025 turun 0,64% secara tahunan menjadi Rp 1.497,4 triliun. Penurunan ini lebih dalam dari bulan sebelumnya yang terkontraksi di level 0,11%.

Sejalan dengan itu, non performing loan (NPL) kredit UMKM per November 2025 berada di level 4,5%. Capaian ini terlihat stagnan dari bulan sebelumnya.

Baca Juga: Aturan Pajak Baru Berlaku, Agen Asuransi Kirimkan Surat ke Purbaya

Berbagai insentif kembali digulirkan pemerintah untuk mendorong UMKM di tahun ini. Misalnya, pemerintah melanjutkan tarif Pajak Penghasilan (PPh) final UMKM sebesar 0,5% bagi pelaku UMKM dengan omzet tahunan hingga Rp 4,8 miliar.

Pemerintah juga kembali memberikan insentif PPh Pasal 21 DTP untuk pekerja di sektor-sektor tertentu seperti pariwisata (horeka, hotel, restoran, kafe) dan industri padat karya (alas kaki, tekstil, pakaian jadi, furnitur, kulit).

Tahun 2026, Bank Indonesia (BI) memberikan insentif likuiditas makroprudensial yang telah mencapai puluhan triliun rupiah untuk memperkuat akses perbankan bagi UMKM, termasuk upaya meningkatkan kapasitas penyaluran kredit dan penggunaan QRIS di kalangan UMKM. 

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai, pemulihan ekonomi menjadi kunci utama bagi pertumbuhan kredit UMKM ke depan. Menurutnya, selama daya beli masyarakat menunjukkan perbaikan, permintaan terhadap pembiayaan produktif, termasuk kredit UMKM, akan kembali meningkat.

“Prospek kredit UMKM masih ada. Jika ekonomi dan daya beli masyarakat membaik, kredit UMKM juga akan bertumbuh,” ujar Trioksa kepada Kontan, Senin (12/1/2026).

Meski demikian, Trioksa mengingatkan tantangan utama perbankan ke depan adalah mendorong pemulihan daya beli agar dapat menopang ekspansi kredit yang sehat dan berkelanjutan. Tanpa perbaikan daya beli, ruang pertumbuhan kredit produktif akan tetap terbatas.

Dari sisi segmen, kredit mikro diperkirakan masih menjadi motor pertumbuhan utama. Hal ini didorong oleh jumlah debitur yang besar, meski dengan nominal pinjaman yang relatif kecil.

Baca Juga: YOII Optimistis Prospek Asuransi Kendaraan Tetap Cerah pada Tahun 2026

“Kredit mikro berpotensi tumbuh lebih tinggi karena volumenya banyak. Ditambah lagi, program pemerintah yang mendorong penyaluran kredit kecil akan membuat segmen ini tumbuh lebih baik,” jelas Trioksa.

Untuk menangkap peluang tersebut sekaligus menjaga kualitas aset, perbankan dinilai perlu memperkuat sistem dan strategi penyaluran kredit. Pemanfaatan pendekatan digital menjadi salah satu kunci untuk mempercepat proses penyaluran, memperluas jangkauan nasabah, sekaligus meningkatkan efektivitas manajemen risiko.

“Strateginya adalah memperkuat sistem dan strategi penyaluran kredit, baik melalui digitalisasi maupun pendekatan lain, agar ekspansi bisa lebih cepat namun kualitas kredit tetap terjaga,” tutur dia.

Sementara itu, PT Bank Pembangunan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (BPD DIY) mencatatkan pertumbuhan kredit UMKM sepanjang 2025, meski dihadapkan pada berbagai tantangan ekonomi.

Hingga posisi Desember 2025, penyaluran kredit mikro BPD DIY tumbuh 10,67% secara tahunan, sementara kredit kecil naik 1,28%. Kinerja tersebut mencerminkan struktur portofolio UMKM yang masih didominasi oleh segmen mikro.

Direktur Pemasaran dan Usaha Syariah BPD DIY Raden Agus Trimurjanto menjelaskan, karakteristik DIY sebagai daerah pariwisata turut memengaruhi komposisi penyaluran kredit. 

Sektor perdagangan, akomodasi, dan jasa menjadi kontributor terbesar kredit UMKM. Di sisi lain, skim Kredit Usaha Rakyat (KUR) masih menjadi pilihan utama masyarakat dalam mengakses pembiayaan.

Baca Juga: Batas Pinjam Cuma 30% Gaji, Hati-Hati Pengajuan Pinjol Ditolak

Memasuki 2026, BPD DIY optimistis prospek kredit UMKM tetap positif seiring dengan kembali digulirkannya berbagai kebijakan dan insentif pemerintah untuk mendorong sektor usaha kecil. 

"Selaras dengan visi dan misi perseroan yang berfokus pada UMKM, BPD DIY menargetkan pertumbuhan kredit UMKM di kisaran 8%–11% pada 2026," ungkap Agus.

Insentif kebijakan seperti RPIM dan KLM dinilai turut membantu perseroan menjaga pertumbuhan kredit UMKM tetap berada di atas ketentuan regulator.

Meski demikian, tantangan masih membayangi penyaluran kredit tahun ini. Kondisi ekonomi, daya beli masyarakat, serta maraknya alternatif pembiayaan dari pinjaman online menjadi faktor yang perlu diantisipasi.

Namun, BPD DIY optimistis dapat menjaga kinerja berkat posisinya yang dekat dengan masyarakat, didukung jaringan kantor yang tersebar hingga tingkat kecamatan serta pengembangan digitalisasi aplikasi untuk mempermudah akses kredit.

Dari sisi segmen, kredit mikro diproyeksikan tetap menjadi motor pertumbuhan utama dibandingkan segmen kecil dan menengah.

Untuk menggenjot penyaluran kredit UMKM, perseroan menyiapkan sejumlah strategi, antara lain penguatan sumber daya manusia di sisi analis kredit, penyempurnaan aplikasi baik untuk nasabah maupun internal, percepatan layanan yang tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, serta pembaruan ketentuan dan kebijakan agar tetap relevan dengan kondisi terkini.

Baca Juga: Bank Diversifikasi Produk Demi Dorong Pertumbuhan Kredit

Adapun Direktur Finance and Business Planning Bank Sampoerna, Henky Suryaputra menyampaikan, segmen UMKM yang menjadi fokus utama bank masih menghadapi tekanan, seiring melemahnya daya beli dan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Kendati demikian, Hengky menilai penyaluran kredit di akhir tahun lalu masih sesuai target rencana bisnis kendati tak dibeberkan angka pastinya.

Memasuki 2026, Henky memperkirakan tekanan di sektor UMKM masih akan berlanjut. Meski demikian, bank menegaskan komitmennya untuk tetap melayani segmen UMKM sebagai core business, sembari memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak dalam membangun ekosistem keuangan digital.

Salah satu fokus utama ke depan adalah pengembangan layanan Bank as a Service (BaaS), yang dinilai berpotensi menjadi sumber pertumbuhan pendapatan berbasis komisi atau fee-based income di tengah tantangan pertumbuhan kredit.

Untuk menjaga kinerja tetap solid, Bank Sampoerna menyiapkan sejumlah strategi, antara lain menghimpun DPK secara berimbang dengan penyaluran kredit, meningkatkan porsi dana murah atau CASA, serta menyesuaikan tingkat bunga simpanan mengikuti kondisi pasar agar likuiditas tetap optimal.

Selain itu, bank juga akan tetap memprioritaskan pembiayaan UMKM, sembari mendiversifikasi target kredit ke sektor wholesale sebagai langkah antisipatif jika tekanan di pasar UMKM berlanjut.

"Di sisi lain, pengembangan produk dan aktivitas perbankan berbasis digital terus dipercepat guna memperkuat fondasi digital banking dan menopang profitabilitas jangka panjang," ujar Henky.

Baca Juga: Era Bunga Tinggi Berakhir, Line Bank Resmi Turunkan Bunga Tabungan Bulan Depan

Selanjutnya: Wisatawan Mancanegara yang Gunakan Layanan KA Jarak Jauh Sepanjang 2025 Naik 3,7%

Menarik Dibaca: Wisatawan Mancanegara yang Gunakan Layanan KA Jarak Jauh Sepanjang 2025 Naik 3,7%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×