Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank-bank besar di tanah air telah mengumumkan laporan keuangan per Januari 2025. Mayoritas, laba bank yang masuk kategori KBMI 4 ini tumbuh secara moderat.
Jika diurutkan, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menjadi bank KBMI 4 yang memiliki kinerja paling apik. Bagaimana tidak, laba BNI mampu tumbuh 9,7% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 1,63 triliun.
Salah satu perbaikan yang terjadi di BNI adalah pendapatan bunga bersih. Mengawali tahun 2025, bank berlogo 46 ini mencatat pendapatan bunga bersih senilai Rp 3,17 triliun atau naik 1,69% YoY.
Baca Juga: Laba BNI di Januari Meningkat 9,7%, Kredit Tumbuh 10,3%
Hasil ini tentu lebih baik mengingat tahun 2024, pendapatan bunga bersih BNI mengalami koreksi 1,9% YoY. Di mana, beban bunga tinggi membayangi kinerja BNI di tahun tersebut.
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar mengatakan, di awal tahun ini memang pihaknya mulai mampu menyiasati tingginya cost of fund (CoF) Secara perlahan, Royke bilang CoF bisa turun.
“Kami menurunkan Cost of Fund dengan cara dorong transaction banking via Wondr dan BNI Direct,” ujar Royke kepada KONTAN, Jumat (28/2).
Di sisi lain, Royke bilang BNI tidak jor-joran dalam menyalurkan kredit. Di mana, kualitas kredit tentu menjadi fokus lainnya yang perlu dijaga.
Ia menambahkan tahun 2024 pencadangan BNI sudah banyak dinaikkan. Alhasil, beban pencadangan di Januari 2025 tampak turun 20,68% YoY menjadi Rp 514 miliar.
“Kami kan sudah naikkan pencadangan di tahun 2024 dan kualitas kredit juga membaik,” tambahnya.
Selanjutnya, ada PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang mampu mencatatkan laba bersih sebesar Rp 4,73 triliun secara bank only, tumbuh 5,8% YoY dibandingkan Januari 2024 yang mencapai Rp 4,47 triliun.
Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan peningkatan pendapatan bunga bersih yang naik 6,7% YoY menjadi Rp 6,7 triliun.
Baca Juga: Bank Mandiri Cetak Laba Rp 4 Triliun Di Januari 2025, Ini Rekomendasi Analis
Di sisi lain, beban bunga BCA justru mengalami penurunan 3,2% YoY menjadi sekitar Rp 1 triliun, yang turut mendukung pencapaian laba yang lebih tinggi.
Dari sisi intermediasi, kredit BCA (bank only) tumbuh 15% YoY pada Januari 2025. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tetap tumbuh sebesar 3,9% YoY, menunjukkan stabilitas penghimpunan dana.
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja bilang tahun ini sejatinya merupakan tahun yang menarik karena sedang ada proses transisi pemerintahan.
Alhasil, ada kebijakan-kebijakan yang pastinya mendukung kondisi perekonomian tanah air.
Di sisi lain, industri perbankan sejatinya memiliki permodalan maupun likuiditas yang cukup ample. Alhasil, ada ruang bagi bank untuk melakukan ekspansi kredit.
“Cuma mau berapa besar pertumbuhannya? Harus dianalisis yaitu melihat buying power,” ujar Jahja dalam acara emiten talk BCA, Jumat (28/2).
Jahja bilang bahwa perlu diakui bahwa daya beli saat ini memang sedang melemah. Alhasil, bank-bank harus jeli melihat sektor atau daerah mana yang masih memiliki daya beli kuat.
“Misalnya Sulawesi masih cukup baik. Kenapa? Karena perkembangan pertambangan di sana, proyek-proyek besar itu ada di sana. Jadi untuk buying power di sana bagus,” ujarnya.
Baca Juga: Lampaui Bank Konvensional, Laba Bersih Perbankan Syariah Tumbuh Dua Digit pada 2024
Terakhir, ada PT Bank Mandiri Tbk yang juga masih mencatatkan pertumbuhan laba per Januari 2025. Laba mereka tercatat sebesar Rp 4 triliun pada periode tersebut atau naik 4,44% YoY.
Adapun, pendapatan bunga bersih tercatat sebesar Rp 6,54 triliun per Januari 2025, meningkat 11,22% YoY, dibandingkan pada Januari 2024 sebesar Rp 5,88 triliun.
Dari sisi fungsi intermediasi, Bank Mandiri telah menyalurkan kredit sebesar Rp 1.307,18 triliun pada tahun 2025, meningkat 19,3% yoy jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1.095,77 triliun.
Bank Mandiri juga berhasil menjaring DPK sebesar Rp 1.394,40 triliun per Januari 2025, meningkat 44,4% yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 965,34 triliun pada 2024.
Corporate Secretary Bank Mandiri M Ashidiq Iswara menjelaskan bahwa pihaknya berfokus pada menjaga keseimbangan antara ekspansi yang sehat dan profitabilitas yang terjaga.
Dari sisi kredit, ia juga bilang bank berlogo pita emas ini akan tetap mengukuhkan dominasi di industri perbankan dengan menjaga pertumbuhan kredit di atas industri.
“Kami menargetkan pertumbuhan pada sektor-sektor prospektif dan resilien sesuai Loan Portfolio Guideline internal kami, seperti industri makanan & minuman, jasa kesehatan, telekomunikasi, dan energi,” ujarnya.
Selanjutnya: Rupiah Jeblok ke Level Terburuk Sejak 1998, IHSG Tembus ke 6.270 di Akhir Pekan Ini
Menarik Dibaca: IDEC 2025 Dorong Inovasi di Industri Kesehatan Gigi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News