kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.824   -4,00   -0,02%
  • IDX 8.133   100,88   1,26%
  • KOMPAS100 1.146   14,31   1,26%
  • LQ45 828   7,29   0,89%
  • ISSI 288   4,65   1,64%
  • IDX30 431   4,00   0,94%
  • IDXHIDIV20 517   4,31   0,84%
  • IDX80 128   1,49   1,17%
  • IDXV30 141   1,36   0,97%
  • IDXQ30 140   1,18   0,85%

Lebih cepat dan mudah, Multifinance andalkan sumber dana dari perbankan


Minggu, 17 Maret 2019 / 19:24 WIB
Lebih cepat dan mudah, Multifinance andalkan sumber dana dari perbankan


Reporter: Ferrika Sari | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah perusahaan multifinance masih mengandalkan pendanaan dari perbankan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan tahun ini. Pasalnya, kini sumber pendanaan perbankan masih memegang porsi terbesar.

Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno sepakat, pendanaan dari bank masih dominan dan meningkat setiap tahun. Sampai saat ini, porsi sumber pendanaan industri multifinance sekitar 70% berasal dari bank, sisanya penerbitan surat utang dan ekuitas perusahaan.

“Industri multifinance masih mengandalkan pendanaan dari bank karena dinilai lebih cepat dan mudah ketimbang menerbitkan surat utang. Sedangkan pendanaan dari obligasi memerlukan jangka waktu panjang,” kata Suwandi kepada Kontan.co.id, beberapa waktu lalu.

Misalnya, PT Mandiri Tunas Finance (MTF) menargetkan penyaluran kredit sebesar Rp 29 triliun tahun ini. Direktur Utama MTF Arya Suprihadi mengaku pihaknya menyiapkan pendanaan sebesar 65% dari perbankan, yang mayoritas dari PT Bank Mandiri Tbk.

“65% itu dibiayai dari perbankan, khususnya bank dalam negeri. Sementara sisanya dari penerbitan obligasi dan menggunakan sindikasi internasional,” kata Arya.

Meski mencari pendanaan baru, tapi persedaian sumber pendanaan di awal tahun masih mencukupi terutama dari bank. Karena sejumlah platform pinjaman tahun lalu ada sebagian yang belum dimanfaatkan.

Pemain lain, PT Buana Finance Tbk memperoleh fasilitas pinjaman sindikasi sebesar Rp 1 triliun. Pinjaman sindikasi tersebut berasal dari BCA Rp 300 miliar, Bank Permata Rp 200 miliar, Bank Panin, Bank Jateng, Shinhan Bank, Bank Artha Graha Internasional yang masing-masing sebesar Rp 100 miliar. Serta Bank QNB Indonesia dan SBI Iindonesia, masing-masing Rp 50 miliar.

Direktur Utama Buana Finance Yannuar Alin mengatakan, bahwa pinjaman sindikasi tersebut akan digunakan sebagai modal kerja dalam bisnis sewa pembiayaan (leasing) dan pembiayaan konsumen.

“Ini merupakan perjanjian sindikasi yang ke empat kalinya dalam tujuh tahun terakhir yang diraih perusahaan. Keikutsertaan delapan bank ini menunjukkan kuatnya kerja sama antara Buana Finance dengan perbankan,” ungkapnya.

Sampai dengan akhir Februari 2019, Buana Finance telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 503 miliar atau meningkat 26,7% secara tahunan. Di mana sekitar 71% disalurkan untuk pembiayaan konsumen dan 29% untuk sewa pembiayaan dan factoring.

Tahun lalu Buana Finance manyalurkan total pembiayaan sebesar Rp 3,06 triliun. Dengan pencapaian tersebut, perusahaan menargetkan penyaluran pembiayaan tumbuh 7% menjadi Rp 3,26 triliun di tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×