kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.004.000   -55.000   -1,80%
  • USD/IDR 16.985   10,00   0,06%
  • IDX 7.337   -248,32   -3,27%
  • KOMPAS100 1.020   -39,17   -3,70%
  • LQ45 751   -25,47   -3,28%
  • ISSI 257   -9,75   -3,65%
  • IDX30 397   -12,77   -3,11%
  • IDXHIDIV20 493   -13,82   -2,73%
  • IDX80 115   -4,19   -3,52%
  • IDXV30 133   -4,17   -3,04%
  • IDXQ30 129   -4,15   -3,13%

Likuiditas Bank Masih Longgar, Ruang Ekspansi Kredit Makin Terbuka


Senin, 09 Maret 2026 / 19:34 WIB
Likuiditas Bank Masih Longgar, Ruang Ekspansi Kredit Makin Terbuka
ILUSTRASI. BI Tambah Insentif Likuiditas Makroprudensial untuk Perbankan (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Likuiditas perbankan terpantau masih dalam posisi yang longgar di bulan-bulan awal tahun, memberi ruang bagi perbankan untuk leluasa mendorong ekspansi kredit. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio likuiditas bank dari loan to deposit ratio (LDR) berada di posisi 84,93% per Januari 2026, turun dari 87,64% pada periode yang sama tahun lalu. 

Sejalan dengan itu, sejumlah bank juga terpantau mengalami penurunan LDR dalam periode ini. Dari jajaran kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) IV, Bank Negara Indonesia (BNI) mencatatkan penurunan LDR tertinggi, dari posisi 102,65% menjadi 85,05%. 

Baca Juga: LPS Siapkan Proses Pembayaran Klaim Penjaminan Simpanan Nasabah BPR Koperindo

Kemudian, Bank Central Asia (BCA) tercatat turun dari 79,7% menjadi 77,44% dan Bank Mandiri turun dari 93,75% menjadi 92,41%. 

Namun, ada juga bank yang mencatatkan kenaikan LDR, di antaranya Bank Tabungan Negara (BTN) yang naik dari 83,65% menjadi 94,13% dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) dari 88,92% menjadi 90,53%. 

Sementara itu, Bank Syariah Indonesia (BSI) menjadi salah satu yang cenderung stabil, hanya turun tipis dari 87,3% menjadi 87,1%. 

Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar menyebut, pihaknya memang terus berupaya mengoptimalkan fungsi intermediasi dengan menjaga keseimbangan komposisi rasio dana yang ample dan kontribusi pembiayaan ke sektor dan program yang sejalan dengan visi negara. 

Dari sisi pendanaan, Wisnu bilang tabungan menjadi mesin pertumbuhan, khususnya dengan keberadaan tabungan haji yang hingga akhir tahun lalu tumbuh 10,03% mencapai 6,93 juta nasabah. 

Kemudian dari sisi penyaluran pembiayaan, mesin pertumbuhan baru yang diandalkan bank adalah pembiayaan emas. “Pembiayaan emas terbukti agile dan mampu mendongkrak pertumbuhan pembiayaan di BSI,” kata Wisnu kepada Kontan, Senin (9/3/2026). 

Dengan dual lisensi yang dimiliki bank saat ini, yakni sebagai bank syariah dan bank emas, Wisnu menyebut pihaknya optimis melanjutkan bisnis yang terbukti resilience di tahun ini. Selain emas, bank juga terus membidik haji dan umrah yang memang menjadi keunikan bank syariah. 

Baca Juga: Pembiayaan UMKM BSI Tembus Rp 52,58 Triliun, Fokus Dorong Ekspor

“Tentu dengan tetap menjaga konsistensi pertumbuhan pembiayaan di segmen eksisting seperti konsumer, UMKM, wholesale maupun bisnis lainnya,” imbuh Wisnu.

Bank optimistis dengan berbagai stimulus dan kebijakan pro kerakyatan yang diberikan, tahun ini pertumbuhan dana dan pembiayaan bakal tumbuh positif, sehat, dan berkelanjutan.

Dari sisi bank digital, Allo Bank terpantau mencatatkan penurunan LDR dari 134,46% menjadi 102,91%. Meski posisi LDR saat ini masih cenderung tinggi, penurunan ini mencerminkan melonggarnya likuiditas bank. 

Menurut Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo, longgarnya likuiditas perbankan dipengaruhi oleh sikap kehati-hatian pelaku usaha dan lesunya konsumsi rumah tangga di tengah dinamika ekonomi global maupun domestik. 

Ketidakpastian global, kata Destya, memang masih menjadi faktor yang membuat sebagian pelaku usaha dan konsumen cenderung lebih selektif dalam mengambil pembiayaan. Pun dari sisi nasabah dana, kecenderungan untuk menyimpan dana juga masih cukup kuat.

Namun demikian, bank tetap optimistis permintaan kredit bakal membaik secara bertahap seiring dengan stabilisasi ekonomi dan meningkatnya aktivitas konsumsi serta transaksi digital tahun ini. Di Allo Bank sendiri, Destya bilang kredit masih didorong utamanya oleh segmen ritel dan digital konsumer yang secara karakteristik sejalan dengan model bisnis bank.

Baca Juga: Menkeu Mau Tambah Likuiditas Rp 100 Triliun ke Perbankan, Apa Urgensinya?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Financial Statement in Action AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×