CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Marak akuisisi, pemegang saham bank meraup untung besar


Sabtu, 14 Desember 2019 / 08:30 WIB
Marak akuisisi, pemegang saham bank meraup untung besar
ILUSTRASI. Pelayanan nasabah di Bank Permata, Jakarta, Selasa (8/3). Standard Chartered Bank dan Astra International akan meraup dana total Rp 37 triliun dari penjualan saham Bank Permata.

Reporter: Anggar Septiadi | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengumuman transaksi jual beli saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) menjadi aksi merger dan akuisisi perbankan Indonesia terkini sebelum tutup tahun 2019. Bangkok Bank secara mengejutkan berhasil meminang Bank Permata setelah melangkahi sejumlah pesaing.

Setelah akuisisi ini, pemegang saham Bank Permata yaitu PT Astra International Tbk (ASII), dan Standard Chartered Bank (SCB) diperkirakan bakal meraup untung besar.

Kamis (12/12) Astra dan SCB menyepakati perjanjian jual beli 89,12% kepemilikan saham mereka di Bank Permata. Ketiganya sepakat transaksi akan dilakukan seharga 1,77 kali nilai buku Bank Permata dengan harga indikatif per September 2019 Rp 1.498 per saham. merujuk hal tersebut, nilai yang akan digelontorkan Bangkok Bank untuk aksi ini bisa mencapai Rp 37,43 triliun atau setara US$ 2,6 miliar. Sebagai catatan, nilai pasti yang akan dikeluarkan Bangkok Bank bakal disesuaikan dengan laporan keuangan terakhir sebelum penyelesaian transaksi.

Baca Juga: Akan diakuisisi Bangkok Bank, bagaimana rekomendasi saham Bank Permata (BNLI)?

Standard Chartered Bank dalam pengumumannya di Bursa London, Kamis (12/12) menyatakan dari transaksi tersebut, pihaknya bakal meraih untung bersih US$ 500 juta atau setara Rp 7 triliun. Nilai yang sama juga diperkirakan bakal diraih Astra. Sedangkan dalam keterangan, Astra dan Standard Chartered mengaku keuntungan hasil penjualan ini bakal digunakan untuk mendukung modal masing-masing perusahaan dan investasi selanjutnya.

“Transaksi ini bakal meningkatkan rasio common equity tier 1 kami 50 bps senilai US$ 100 juta. Serta mengurangi risk-weighted asset menjadi sekitar US$ 9,5 miliar. Meski demikian nilai akhir baru akan ditentukan setelah penyelesaian transaksi,” tulis Standard Chartered.

Jika angka-angka tersebut tak berubah banyak, maka investasi Standard Chartered dan Astra bakal tercatat sangat menguntungkan.

Secara historis, konsorsium Standard Chartered dan Astra mengempit kepemilikan di Bank Permata pada 2004, setelah memenangi tender oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) untuk mengakuisisi 51% saham senilai Rp 1,38 triliun.

Baca Juga: Usai diakuisisi BBCA, Bank Royal Minta Nasabah Tutup Rekening dan Tarik Dana premium

Kemudian pada 2016, konsorsium kembali menambah kepemilikan saham dengan membeli 25,9% saham Bank Permata yang dipegang PT Perusahaan Pengelola Aset senilai Rp 1,80 triliun.

Investasi Rp 1,59 triliun yang masing-masing digelontorkan Standard Chartered dan Astra kini kembali berkali lipat hingga masing-masing akan meraup Rp 7 triliun.

Untung besar yang diraih pemegang saham pascajual entitas bank nasional sejatinya bukan pertama kali ini terjadi. Belum lama ini Temasek Holdings via Asia Financial juga mengeruk cuan jumbo atas aksinya melepas kepemilikan Bank Danamon kepada Mitusbishi Financial UFJ Group (MUFG).




TERBARU

Close [X]
×