kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.844.000   -183.000   -6,05%
  • USD/IDR 16.775   -30,00   -0,18%
  • IDX 8.123   199,87   2,52%
  • KOMPAS100 1.137   29,35   2,65%
  • LQ45 824   17,48   2,17%
  • ISSI 289   10,45   3,75%
  • IDX30 430   9,01   2,14%
  • IDXHIDIV20 515   9,13   1,81%
  • IDX80 127   3,21   2,60%
  • IDXV30 141   5,28   3,90%
  • IDXQ30 139   1,96   1,43%

Modal Tebal, Perbankan Siap Tancap Gas di Tahun 2026


Selasa, 03 Februari 2026 / 18:41 WIB
Modal Tebal, Perbankan Siap Tancap Gas di Tahun 2026
ILUSTRASI. Rasio kecukupan modal perbankan meningkat (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Setelah melewati tahun penuh gejolak, industri perbankan memasuki 2026 dengan bantalan modal yang tetap tebal. Rasio kecukupan modal (CAR) perbankan nasional masih bertengger jauh di atas ketentuan regulator, memberi ruang bagi bank untuk tetap ekspansif sembari mengantisipasi risiko.

Menjelang akhir tahun, rasio kecukupan modal alias capital adequacy ratio (CAR) perbankan terpantau masih tinggi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, CAR industri ada di level 26,05% per November 2025. 

Hingga akhir tahun lalu, sejumlah bank juga mencatatkan posisi CAR yang solid. Misal Bank Negara Indonesia (BNI), dengan CAR sebesar 20,7% per Desember 2025. 

Baca Juga: Suku Bunga Merangkak Naik, Pasar Uang Antar Bank Mulai Semarak?

Meski turun dari posisi 21,4% pada akhir tahun 2024, CAR bank saat ini masih jauh di atas ketentuan regulator. Pun, Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena memastikan modal yang kuat itu bakal dimanfaatkan bank dengan maksimal tahun ini. 

“Kecukupan modal saat ini memberi ruang bagi BNI mendukung ekspansi bisnis ke depannya serta mengantisipasi risiko,” ujar Paolo, Selasa (3/2/2026). 

Senada, EVP Corporate Communication & Social Responsibility Bank Central Asia (BCA) Hera F. Heryn juga bilang kecukupan modal bank saat ini bakal dimanfaatkan untuk mengantisipasi risiko yang mungkin timbul di kemudian hari. Hingga akhir tahun 2025, CAR BCA ada di posisi 29,8%, naik tipis dari posisi 29,4% pada tahun sebelumnya. 

Selain untuk antisipasi risiko, modal tebal juga dimanfaatkan BCA untuk menopang aktivitas usaha dan pengembangan bisnis secara berkelanjutan. Hanya saja, Hera tak merincikan lebih lanjut rencana pengembangan yang dimaksud. 

Yang pasti, Hera bilang bank terus mencermati perkembangan pasar dan regulasi untuk memastikan posisi permodalan terjaga pada level yang memadai. Pun, dengan modal tebal saat ini, bank bakal berupaya menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dengan ekspansi kredit yang sehat. “Sembari tetap mempertimbangkan perkembangan kondisi pasar dan risiko,” kata Hera.

Sedikit berbeda, posisi CAR KB Bank terpantau lebih rendah di kisaran 15% per Desember 2025, turun dari posisi 16% pada tahun sebelumnya. Meski, memang masih di atas ketentuan. 

Baca Juga: Analis Sebut Tekanan Laba BBNI Bersifat Normalisasi, Begini Penjelasannya

Direktur Utama KB Bank Kunardy Lie menjelaskan, terjadi peningkatan pada aset tertimbang menurut risiko (ATMR) bank seiring pertumbuhan kredit pada akhir tahun lalu. Itulah, kata Kunardy, yang memengaruhi posisi CAR bank saat ini. 

“Meskipun pertumbuhan modal belum sepenuhnya mengimbangi kenaikan ATMR, posisi permodalan bank tetap dikelola secara prudent untuk mendukung pertumbuhan berkelanjtegas Kunardy. 

Dengan posisi CAR yang tetap berada pada level memadai, Kunardy bilang pertumbuhan bisnis bakal tetap dijalankan secara selektif dan prudent. Penguatan struktur permodalan juga dilakukan melalui beberapa inisiatif, demi menambah kapasitas permodalan bank serta memberikan ruang yang lebih luas untuk mendukung ekspansi usaha secara berkelanjutan. 

Dengan strategi tersebut, KB Bank optimistis mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, profitabilitas, dan ketahanan permodalan di tengah dinamika pasar. Targetnya, pada tahun 2026 ini bank bisa meningkatkan CAR di kisaran 18%. 

Menurut pengamat perbankan Moch Amin Nurdin, dengan kondisi permodalan saat ini, perbankan memiliki ruang yang cukup luas untuk ekspansi, termasuk untuk penguatan bisnis berbasis komisi maupun investasi pada transformasi digital. 

“Potensi ekspansi terbuka, khususnya pada sektor-sektor yang memiliki fundamental kuat dan risiko yang terkelola, seperti pembiayaan rantai pasok, UMKM yang bankable, serta sektor-sektor yang didukung kebijakan pemerintah,” jelas Amin. 

Namun begitu, Amin bilang tantangannya kini tak hanya soal ketersediaan modal, tetapi juga kemampuan bank dalam menyeimbangkan pertumbuhan dan kualitas aset.

Baca Juga: Tugu Insurance Jaga Kinerja Asuransi Kendaraan di Tengah Penurunan Premi Industri

Sampai akhir tahun ini, bank diharapkan menjaga kualitas kredit agar risiko pembentukan CKPN tak memberatkan modal. Selain itu, bank juga bisa mengelola pertumbuhan ATMR secara disiplin, serta memastikan profitabilitas tetap terjaga sebagai sumber penguatan modal internal.

Selanjutnya: Tekanan Premi Kendaraan Berlanjut, Simak Strategi Jasindo

Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Rabu 4 Februari 2026, Peluang Banyak

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×