Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menjadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo, program tiga juta rumah tentu menjadi perhatian. Terlebih, program ini membutuhkan likuiditas yang besar dari perbankan untuk memberikan pembiayaan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun berpandangan perbankan memiliki sumber alternatif pendanaan untuk bisa memenuhi likuiditas tersebut. Saat ini, ada instrumen Efek Beragun Aset (EBA) berbentuk Surat Partisipasi (SP) yang bisa dimanfaatkan.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan, optimalisasi instrumen EBA-SP perlu dilakukan. Menurutnya, itu akan bisa memperkuat pelaksanaan program tiga juta rumah secara memadai.
Baca Juga: Putar Otak Cari Dana Program Tiga Juta Rumah
Sebagai informasi, EBA-SP adalah surat berharga yang terdiri dari sekumpulan KPR yang diterbitkan melalui proses sekuritisasi. Alhasil, ini menjadi instrumen investasi pendapatan tetap yang dapat ditransaksikan di pasar sekunder.
“Dengan begitu, jumlah pembiayaan, pendanaan maupun juga likuiditas akan lebih besar lagi untuk program yang penting ini,” ujar Mahendra, Selasa (14/1).
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menambahkan, EBA-SP memang menjadi instrumen yang dapat dimengengkapi sumber pendanaan dan menjamin stabilitas likuiditas bank.
Dian menilai ruang pemanfaatan EBA-SP masih cukup besar. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia pada 13 Januari 2025, terdapat 9 EBA-SP yang diperdagangkan dengan total nilai sebesar Rp 2,21 triliun.
Lebih lanjut, Dian memastikan bakal ada upaya lain yang bakal dikomunikasikan dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan. OJK tentu harus berbicara dengan Bank Indonesia dan kita juga harus berbicara dengan Kementerian Keuangan.
“Karena ada kebijakan moneter dan kebijakan fiskal yang terkait dengan isu-isu ini,” ujar Dian.
Baca Juga: OJK: Industri Perasuransian Buka Peluang Terlibat Dalam Program 3 Juta Rumah
Di sisi lain, Dian melihat sebenarnya perbankan masih memiliki likuiditas yang tergolong ample untuk menjalankan program tiga juta rumah. Menurutnya, itu tercermin dari rasio likuiditas atau LDR yang di level 87,34% per November 2024.
“Likuiditas masih memadai dalam mengantisipasi peningkatan penyaluran kredit untuk mendukung program tiga juta rumah,” tambahnya.
Namun, ia berpesan bank senantiasa diminta untuk tetap memenuhi manajemen risiko dalam aktivitas operasional perkreditan ketika berpartisipasi pada program pemerintah tersebut. Alhasil, kondisi likuiditas bank tetap juga terjaga
Selanjutnya: Merasa Bersalah, Banyak Tentara Israel Mulai Enggan Bertempur di Gaza
Menarik Dibaca: Hujan Turun di Daerah Mana Saja? Ini Ramalan Cuaca Besok (15/1) di Jawa Barat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News