kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.641.000   -14.000   -0,53%
  • USD/IDR 18.035   45,00   0,25%
  • IDX 5.873   -113,12   -1,89%
  • KOMPAS100 763   -18,32   -2,34%
  • LQ45 583   -12,03   -2,02%
  • ISSI 203   -3,37   -1,63%
  • IDX30 330   -6,18   -1,83%
  • IDXHIDIV20 410   -5,48   -1,32%
  • IDX80 87   -1,95   -2,19%
  • IDXV30 111   -1,67   -1,48%
  • IDXQ30 107   -1,52   -1,40%

OJK Tanggapi Ramainya Revisi RBB di Industri Perbankan


Rabu, 08 Juli 2026 / 18:57 WIB
OJK Tanggapi Ramainya Revisi RBB di Industri Perbankan
ILUSTRASI. Dian Ediana Rae , Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih mengevaluasi usulan revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 yang diajukan sejumlah bank.

Revisi tersebut dilakukan menyusul perubahan kondisi makroekonomi sepanjang tahun ini, mulai dari kenaikan suku bunga, pelemahan nilai tukar rupiah, tingginya biaya dana (cost of fund), hingga ketidakpastian ekonomi global.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengatakan, pihaknya belum menyelesaikan evaluasi terhadap seluruh revisi RBB yang diajukan industri perbankan.

"Belum lengkap analisis kita. Ada yang naik (targetnya), ada yang turun. Nanti kita ambil rata-ratanya," ujar Dian saat ditemui di DPR RI, Selasa (7/7/2026).

Menurut Dian, OJK saat ini masih mengevaluasi revisi RBB dari sekitar 105 bank. Karena proses penelaahan masih berlangsung, regulator belum dapat memastikan apakah mayoritas bank menaikkan atau justru menurunkan target bisnisnya.

Meski demikian, Dian menilai secara umum prospek industri perbankan masih cukup optimistis.

"Kalau melihat kemarin sih masih optimistis. Mudah-mudahan rata-ratanya naik. Tapi saya belum hitung berapa jumlahnya," katanya.

Baca Juga: Sejumlah Bank Mulai Revisi Target RBB 2026 di Tengah Tekanan Kondisi Makro

Ia menjelaskan, keputusan bank merevisi RBB sangat bergantung pada kondisi dan strategi masing-masing. Setiap bank akan mempertimbangkan profil risiko, proyeksi pertumbuhan kredit, hingga rencana aksi korporasi yang akan dijalankan sepanjang tahun.

"Tentu mereka melihat risiko mereka sendiri. Kita juga melihat kemungkinan ekspansi kreditnya seperti apa, kemudian corporate action apa yang akan dilakukan. Banyak hal yang menjadi pertimbangan," ujarnya.

Dian menegaskan, OJK tidak akan langsung menyetujui setiap usulan revisi RBB. Sebelum diputuskan, regulator akan menggelar prudential meeting bersama masing-masing bank untuk memastikan target yang diajukan tetap realistis dan sesuai prinsip kehati-hatian.

"Yang paling penting dalam proses RBB yang baru itu pasti akan ada konsultasi dengan kita. Tidak akan langsung kita setujui apakah naik atau turun. Akan ada yang kita sebut sebagai prudential meeting," katanya.

Hingga Mei 2026, data OJK mencatat kredit industri perbankan tumbuh 11,51% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 8.918 triliun. Capaian ini menandakan kinerja yang melaju dari pertumbuhan 9,98% yoy pada April 2026.

Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit investasi masih menunjukkan performa terbaik dengan pertumbuhan 21,95% yoy, melanjutkan pertumbuhan 19,48% yoy pada bulan sebelumnya. 

Kredit modal kerja tumbuh 8,09% yoy atau melaju dari pertumbuhan 6,04% yoy pada bulan sebelumnya. Tampil berbeda, kredit konsumsi tumbuh 5,89% yoy atau melambat dari pertumbuhan 6,13% yoy pada bulan sebelumnya.

Baca Juga: Soal Revisi Aturan RBB, OJK Pastikan Tak Ikut Campur dalam Keputusan Perbankan

Kredit korporasi masih menopang kinerja dengan pertumbuhan 18,39% yoy. Namun, kredit di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga berhasil mencatatkan kinerja positif. Hingga Mei 2026, kredit UMKM berhasil tumbuh 0,6% yoy, melaju dari pertumbuhan 0,16% yoy pada bulan sebelumnya. 

Dari sisi profil risiko, tercatat rasio kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) industri terpantau stabil di posisi 2,17%, sama seperti bulan sebelumnya, pun NPL net tetap di posisi 0,84%. 

Dana pihak ketiga (DPK) perbankan hingga Mei 2026 tumbuh melaju 13,49% yoy dari pertumbuhan 11,4% yoy pada bulan sebelumnya. Sementara rasio kredit terhadap deposito (loan to deposit ratio/LDR) turun tipis menjadi 86,63% dari 86,88% pada bulan sebelumnya.

Adapun tahun ini OJK menargetkan pertumbuhan kredit dan DPK masing-masing di level 10%-12% dan 7%-9%.

Sejumlah bank sebelumnya memang telah mengonfirmasi melakukan penyesuaian target bisnis tahun ini.

Presiden Direktur Citi Indonesia, Batara Sianturi mengatakan perseroan merevisi RBB karena sejumlah asumsi ekonomi yang digunakan saat penyusunan rencana bisnis pada akhir tahun lalu telah berubah.

"Kondisi makro sudah berubah. Ada kenaikan suku bunga, pelemahan rupiah, hingga lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik. Karena itu kami menyesuaikan kembali asumsi dalam RBB," ujar Batara kepada Kontan.

Dalam revisi tersebut, Citi Indonesia membidik pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) pada kisaran high single digit, sedangkan pertumbuhan kredit dipatok pada level mid single digit.

Meski melakukan penyesuaian target, Batara menilai kinerja perseroan hingga lima bulan pertama tahun ini masih cukup positif.

"Kami cukup puas dengan kinerja lima bulan pertama tahun ini. Kami melihat pertumbuhan kredit yang baik dan pertumbuhan dana pihak ketiga yang juga kuat," ujarnya.

Baca Juga: Sambut Rencana Aturan Baru, Citi Indonesia Siap Sesuaikan RBB Jika Diperlukan

Berdasarkan laporan keuangan bulanan, hingga Mei 2026 Citi Indonesia membukukan laba bersih Rp 906,20 miliar atau turun 18,07% secara tahunan (year on year/YoY). Di sisi lain, kredit masih tumbuh 5,80% YoY menjadi Rp 28,16 triliun, sedangkan DPK meningkat 20,21% YoY menjadi Rp 72,89 triliun.

Penyesuaian target juga dilakukan PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank). Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie mengatakan perseroan akan menurunkan target pertumbuhan kredit yang sebelumnya dipatok sekitar 15% agar lebih realistis mengikuti perkembangan ekonomi.

"Target kredit pasti akan berubah karena keadaan makronya sudah berubah. Kami sekarang fokus terhadap kualitas. Kami tidak mau memaksakan pertumbuhan kredit hanya untuk mengejar volume," ujar Kunardy.

Menurutnya, KB Bank akan lebih mengedepankan kualitas aset dengan memperketat seleksi debitur dan memperkuat pemantauan portofolio kredit. Sementara itu, target penghimpunan DPK tetap dipertahankan tumbuh dua digit dengan fokus pada dana murah (sticky fund) yang lebih berkelanjutan.

Hingga Mei 2026, kredit KB Bank tumbuh 3,84% YoY menjadi Rp 43,52 triliun, sedangkan DPK meningkat 6,03% YoY menjadi Rp 44,08 triliun.

Baca Juga: Revisi Aturan RBB Direncanakan Terbit pada Kuartal III-2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×