Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Setelah pertumbuhan kredit yang terbilang masif di akhir tahun lalu, perbankan nampaknya perlu menaruh perhatian lebih pada kualitas kredit. Pasalnya, pertumbuhan kredit akhir tahun 2025 diikuti pelonggaran kebijakan penyaluran.
Pada Desember 2025, Bank Indonesia (BI) mencatat kredit perbankan berhasil tumbuh sesuai target di level 9,69% secara tahunan. Hasil tersebut sejalan dengan Survei BI, yang mana pada kuartal IV-2025 saldo bersih tertimbang (SBT) ada di level 88,92%. Sebagai perbandingan, pada kuartal III-2025, hasil survei menunjukkan SBT berada di level 82,23%.
Namun, hasil survei juga menunjukkan pertumbuhan kredit pada kuartal IV-2025 ini diikuti pelonggaran kebijakan standar penyaluran. Yang mana, Indeks Lending Standard (ILS) pada kuartal IV-2025 berada di level -2,59, jauh di bawah level kuartal III-2025 di 5,78.
Baca Juga: AASI Proyeksikan Peluang Pemulihan Asuransi Jiwa Syariah pada 2026
Berdasarkan hasil survei, pelonggaran terjadi di antaranya dalam aspek biaya persetujuan kredit, jangka waktu kredit, suku bunga kredit, dan persyaratan administrasi. Masalahnya, premi kredit berisiko terpantau melonjak dari posisi ILS di 0,10 ke 9,62.
Hasil itu mengindikasi kecenderungan perbankan melonggarkan syarat pada akhir tahun, yang nampaknya perlu diikuti pengawasan lebih terhadap kualitas kredit.
Namun begitu, Presiden Direktur KB Bank Kunardy Lie mengaku tak melonggarkan persyaratan kredit meski mengejar target pertumbuhan kredit. Pasalnya, kata dia, kualitas kredit merupakan faktor yang sangat krusial bagi portofolio bank.
Alih-alih melonggarkan syarat, Kunardy bilang pihaknya berkompetisi dalam hal pricing dan struktur kredit. Dengan begitu, KB Bank dapat tetap menumbuhkan kredit tanpa mengurangi kualitasnya.
Sebagai gambaran, pada November 2025 KB Bank telah menyalurkan kredit sebanyak Rp 44,54 triliun, naik dari posisi Rp 41,24 triliun atau tumbuh 8% secara tahunan. Kunardy tak membeberkan posisi NPL KB Bank terbaru, tetapi ia memastikan bakal menjaga kualitas kredit ke depannya.
Baca Juga: Tertekan Tahun Lalu, Begini Prospek Industri Asuransi Syariah pada Tahun 2026
“Kami juga mengusahakan NPL turun dengan kedisiplinan dalam mencari nasabah baru,” ujar Kunardy kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).
Sementara itu, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyebut kualitas aset bank berada dalam level baik seiring kemampuan bank mempertahankan NPL di bawah 2%. Pun, mempertimbangkan faktor daya beli yang belum membaik di kuartal IV-2025, ia mengaku pihaknya tetap mengambil sikap selektif dalam menyalurkan kredit.
“Itu demi menjaga kesehatan portofolio dan profitabilitas,’ kata Lani.
Di lain sisi, Risk Management Division Head Bank Mega Syariah Rundi Dhema Perkasa menyebut pihaknya memilih menyelaraskan strategi bisnis dengan arah kebijakan regulator.
Pada awal November 2025, OJK menerbitkan POJK 19 Tahun 2025 tentang Kemudahan Akses Pembiayaan Kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Nah, kebijakan itu, kata Rundi, sejalan dengan upaya Mega Syariah dalam mendorong pertumbuhan aset pembiayaan.
Baca Juga: Penyaluran Kredit Investasi Bank Mandiri (BMRI) Melesat di Penghujung 2025
Meski begitu, ia memastikan bank tetap konsisten menjaga keseimbangan antara ekspansi dan mitigasi risiko. Rundi menjelaskan, Mega Syariah menempatkan manajemen risiko sebagai prioritas utama dalam setiap pertumbuhan bisnis.
“Kami menerapkan strategi bisnis yang tepat dengan disiplin proses yang mengedepankan prinsip kehati-hatian atau prudential banking,” tutur Rundi.
Selanjutnya: Setoran Pajak Kripto Tembus Rp719,6 Miliar, Segini Kontribusi Indodax
Menarik Dibaca: 5 Manfaat Rutin Minum Kopi Setiap Hari untuk Kesehatan Tubuh
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













