kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Pertumbuhan Kredit Bank Makin Jauh di Bawah Target, Hanya Naik 7,03% Per Juli 2025


Rabu, 20 Agustus 2025 / 14:54 WIB
Pertumbuhan Kredit Bank Makin Jauh di Bawah Target, Hanya Naik 7,03% Per Juli 2025
ILUSTRASI. Pertumbuhan kredit perbankan per Juli 2025 hanya mencapai 7,03% secara YoY, padahal target BI di kisaran 8%-11%


Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laju pertumbuhan kredit perbankan kian melambat hingga Juli 2025 ini. Bahkan, pertumbuhannya pun kian menjauhi kisaran target Bank Indonesia (BI) yang berada di antara 8% hingga 11%.

BI mencatat pertumbuhan kredit perbankan per Juli 2025 hanya mencapai 7,03% secara tahunan (YoY). Di mana, ini melambat dari bulan sebelumnya yang tumbuh 7,77% YoY.

Jika ditarik ke belakang, pertumbuhan kredit perbankan ini juga tetap menjadi yang terendah sejak Maret 2022. Di mana, kala itu, kreditnya tumbuh 6,65% YoY.

"Kredit perbankan masih perlu terus ditingkatkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo pada Rabu (20/8/2025).

Baca Juga: Bank Indonesia Pangkas BI Rate 25 bps Jadi 5%

Perry melihat perilaku perbankan masih cenderung berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Hal tersebut tercemin pada standar penyaluran kredit atau lending standar yang meningkat. 

Padahal, Perry menilai perbankan memiliki likuiditas yang longgar. Hal tersebut juga ditopang oleh pertumbuhan Dan Pihak Ketiga (DPK) pada Juli 2025 yang meningkat sebesar 7% seiring ekspansi keuangan pemerintah.

“Perbankan lebih memilih menempatkan kelebihan likuiditasnya pada instrumen surat-surat berharga,” tambah Perry.

Dari sisi permintaan, Perry menjelaskan pertumbuhan kredit lebih banyak ditopang oleh sektor-sektor yang berorientasi ekspor, khususnya pertambangan dan perkebunan, serta sektor transportasi, industri, dan jasa sosial.

Ia pun menilai perlambatan kredit juga mencerminkan permintaan dari pelaku usaha yang belum kuat dan cenderung menggunakan pembiayaan internal bagi usahanya.

Baca Juga: Kredit Macet Sejumlah Perbankan Syariah Meningkat di Semester I-2025

Secara rinci, berdasarkan penggunaan, pertumbuhan kredit konsumsi dan kredit modal kerja belum kuat yang masing-masing tumbuh sebesar 8,11% YoY dan 3,08% YoY. Sedangkan kredit investasi tumbuh tinggi sebesar 12,42% YoY sejalan dengan tingginya pertumbuhan investasi.

"Bank Indonesia akan terus mendorong penyaluran kredit  perbankan termasuk melalui kebijakan makroprudensial yang longgar dan memperat sinergi dan koordinasi kebijakan dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan atau KSSK," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×