kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.870   -65,00   -0,36%
  • IDX 5.821   -75,34   -1,28%
  • KOMPAS100 752   -12,33   -1,61%
  • LQ45 573   -10,72   -1,84%
  • ISSI 201   -1,70   -0,84%
  • IDX30 325   -6,09   -1,84%
  • IDXHIDIV20 401   -6,69   -1,64%
  • IDX80 86   -1,38   -1,59%
  • IDXV30 108   -1,25   -1,14%
  • IDXQ30 105   -1,88   -1,76%

Porsi Special Rate Deposito Bank Naik, Ekonom Sebut Persaingan Dana Bank Kian Ketat


Senin, 29 Juni 2026 / 23:43 WIB
Porsi Special Rate Deposito Bank Naik, Ekonom Sebut Persaingan Dana Bank Kian Ketat
ILUSTRASI. Bunga deposito (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persaingan memperebutkan dana pihak ketiga (DPK) di industri perbankan semakin memanas. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat porsi simpanan yang memperoleh bunga di atas Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) atau special rate kembali meningkat pada Mei 2026.

Berdasarkan data LPS, porsi simpanan berbunga di atas TBP mencapai 33,82% dari total simpanan pada Mei 2026, naik dibandingkan April 2026 yang sebesar 32,92%. 

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede menilai, kenaikan porsi special rate menunjukkan kompetisi memperebutkan dana, khususnya deposan besar, mulai kembali menguat.

"Menurut saya, kenaikan special rate deposito mencerminkan bahwa persaingan dana mulai kembali menguat, terutama pada deposan besar. Secara industri, likuiditas perbankan memang masih memadai, tetapi distribusinya belum merata," ujar Josua kepada Kontan, Senin (29/6/2026).

Ia menjelaskan, kondisi tersebut juga tercermin dari perkembangan suku bunga simpanan antar kelompok bank. Mengacu pada evaluasi LPS, suku bunga simpanan rupiah secara industri memang masih mengalami penurunan terbatas pada April 2026. Namun, pergerakannya berbeda di setiap kelompok KBMI.

Baca Juga: Porsi Deposito Berbunga Khusus Naik, Persaingan Perebutan Dana Diperkirakan Berlanjut

Pada kelompok KBMI 1 dan KBMI 4, suku bunga simpanan tercatat turun. Sebaliknya, pada kelompok KBMI 2 dan KBMI 3 justru mengalami kenaikan. Menurut Josua, kondisi tersebut menunjukkan kompetisi penghimpunan dana masih berlangsung karena distribusi likuiditas antarbank belum merata.

Ia menilai, permintaan special rate dari deposan besar masih cukup tinggi lantaran kelompok nasabah tersebut sangat sensitif terhadap perubahan tingkat imbal hasil dan memiliki fleksibilitas memindahkan dananya.

"Mereka tidak hanya membandingkan bunga deposito antarbank, tetapi juga dengan instrumen lain seperti SRBI, Surat Berharga Negara (SBN) jangka pendek, reksa dana pasar uang maupun simpanan valas," katanya.

Karena itu, bank yang membutuhkan tambahan likuiditas, memiliki basis dana murah (CASA) terbatas, atau sedang agresif menyalurkan kredit akan cenderung menawarkan bunga khusus agar dana dalam jumlah besar tidak berpindah ke bank lain maupun instrumen investasi lain.

Menurut Josua, tekanan terhadap biaya dana (cost of fund) kini mulai meningkat. Namun, sumber tekanan tersebut tidak semata berasal dari pemberian bunga khusus kepada deposan.

"Tekanan juga datang dari kenaikan BI Rate, persaingan dana antarbank, daya tarik instrumen pasar uang, pelemahan rupiah, serta kebutuhan menjaga likuiditas untuk mendukung pertumbuhan kredit," ujarnya.

Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan rata-rata suku bunga DPK rupiah meningkat dari 2,65% pada April 2026 menjadi 2,70% pada Mei 2026. Kenaikan tersebut mengindikasikan persaingan penghimpunan dana semakin ketat di tengah terbatasnya dana murah dan meningkatnya kebutuhan pendanaan kredit.

Pada saat yang sama, BI juga mencatat suku bunga kredit baru naik menjadi 9,31% pada Mei 2026 dari 8,95% pada April 2026. Menurut Josua, kondisi tersebut menunjukkan tekanan biaya pendanaan mulai diteruskan ke harga kredit baru, meski likuiditas industri perbankan secara umum masih terjaga.

Ke depan, Josua memperkirakan tren pemberian special rate masih akan berlanjut secara selektif pada semester II 2026.

Baca Juga: LPS Catat Special Rate Deposito Naik, Persaingan Bunga Bank Makin Ketat

Menurutnya, ruang penurunan bunga deposito semakin terbatas setelah BI menaikkan BI Rate menjadi 5,75%. Di sisi lain, BI juga masih menjaga imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tenor 6, 9, dan 12 bulan tetap menarik untuk menopang stabilitas nilai tukar rupiah.

"Dalam kondisi seperti ini, bank tidak bisa terlalu agresif menurunkan bunga deposito karena berisiko kehilangan deposan besar," jelasnya.

Ia juga menilai, kenaikan Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) LPS untuk simpanan rupiah bank umum menjadi 3,75% yang berlaku mulai 1 Juli hingga 30 September 2026 semakin mempertegas bahwa tekanan bunga simpanan belum sepenuhnya mereda.

Meski demikian, Josua menegaskan kenaikan TBP tidak berarti seluruh bank akan menaikkan bunga deposito.

"Kenaikan ini menjadi rujukan baru di pasar bahwa ruang penurunan bunga deposito makin terbatas dalam jangka pendek. Namun saya tidak melihat bunga deposito akan naik secara menyeluruh dan tajam. Tekanannya lebih bersifat selektif," ujarnya.

Menurutnya, bank-bank besar yang memiliki basis dana murah kuat masih memiliki ruang untuk menahan kenaikan biaya dana. Sebaliknya, bank menengah atau bank yang sedang agresif mengejar pertumbuhan kredit akan lebih rentan menawarkan bunga khusus kepada deposan besar.

Josua mengingatkan, ketergantungan terhadap deposan besar menjadi salah satu risiko yang perlu diwaspadai industri perbankan.

"Struktur dana seperti ini kurang sehat karena dana besar lebih mudah berpindah, lebih mahal, dan memiliki daya tawar tinggi. Bila bank terlalu sering memberi bunga khusus, biaya dana naik, margin bunga bersih (NIM) tertekan, dan bank akhirnya terdorong menaikkan bunga kredit baru atau menjadi lebih selektif dalam menyalurkan kredit," katanya.

Baca Juga: LPS Naikkan Bunga Penjaminan, Ekonom: Bank Kecil Punya Ruang Naikkan Bunga Deposito

Ia menilai, dampak kondisi tersebut dapat menjalar ke sektor riil, mulai dari UMKM, konsumsi, properti hingga pembiayaan modal kerja akibat biaya pinjaman yang semakin mahal.

Karena itu, ia menyarankan bank mengurangi ketergantungan terhadap special rate dengan memperkuat penghimpunan dana murah melalui peningkatan rekening transaksi, rekening gaji, layanan pembayaran, pengelolaan kas perusahaan, hingga tabungan ritel.

"Bank juga perlu lebih disiplin dalam memberikan bunga khusus. Jangan hanya mengejar dana besar dengan harga mahal, tetapi juga menghitung dampaknya terhadap margin, risiko likuiditas, dan kemampuan menyalurkan kredit secara sehat," ujarnya.

Di sisi regulator, Josua menilai BI dan LPS perlu menjaga keseimbangan agar persaingan penghimpunan dana tidak berubah menjadi perang suku bunga.

Menurutnya, BI perlu memastikan likuiditas jangka pendek tetap tersedia secara memadai, sementara LPS harus terus memberikan sinyal yang jelas mengenai batas tingkat bunga penjaminan agar deposan memahami risiko apabila menerima bunga yang melebihi TBP.

"Dengan begitu, stabilitas pendanaan perbankan tetap terjaga tanpa mendorong kenaikan biaya dana yang berlebihan," tutup Josua.

Baca Juga: Bank Digital Tetap Menahan Suku Bunga Deposito Saat BI Rate Naik, Ini Alasannya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×