Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyaluran kredit sindikasi menunjukkan peningkatan yang pesat di awal tahun ini. Peningkatan ini dinilai menjadi tanda dari mulai dipacunya proyek-proyek berskala besar.
Berdasarkan data Bloomberg Table League Reports dari sisi mandated lead arranger, total kredit sindikasi yang disalurkan sampai hari ini (29/3/2026), mencapai USD 8,63 triliun. Angka tersebut naik 39,8% secara tahunan (yoy) bila dibandingkan Maret 2025 di angka USD 6,175 triliun.
Jika dikonversikan ke dalam rupiah, sesuai dengan kurs per Jumat (27/3/2026), jumlah kredit sindikasi yang disalurkan perbankan saat ini mencapai Rp 146.553 triliun.
Jumlah mandated lead arranger juga meningkat menjadi total 37 penyalur. Jumlah itu meningkat dari Maret 2025 yang sebanyak 23 penyalur.
Adapun penyalur sindikasi tertinggi sampai Maret 2026 adalah Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Central Asia (BCA), serta PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI).
Baca Juga: Kredit Sindikasi Indonesia Turun 11% pada 2025, Simak Prospeknya untuk 2026
Nilai dari lima penyalur tersebut mendominasi 64% dari total penyaluran. Bank Mandiri memimpin proporsi penyaluran dengan total kredit USD 1,753 triliun atau setara dengan 20% dari seluruh kredit sindikasi.
Di sisi lain, BCA yang pada posisi Maret 2025 lalu belum menjadi penyalur top, kini memposisikan diri di peringkat keempat. BCA menyalurkan kredit sindikasi sebesar USD 701,19 miliar, naik 185,7% secara tahunan (yoy).
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Heryn menyebut banknya selalu berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Salah satu upayanya adalah kontribusi dalam penyaluran kredit sindikasi.
"BCA turut berpartisipasi dalam kredit sindikasi dengan senantiasa mempertimbangkan faktor risk appetite, posisi likuiditas, dan modal," kata Hera kepada Kontan, Jumat (27/3/2026).
Hera bilang, BCA akan memilih proyek-proyek sindikasi yang sejalan dengan lini bisnis BCA. Adapun dari laporan tahun 2025 lalu, BCA berpartisipasi untuk proyek sindikasi jalan tol, pertambangan, kimia, polywood, telekomunikasi, pengolahan air, dan energi.
"Ke depan, tren penyaluran kredit sindikasi diperkirakan akan bergerak sejalan dengan dinamika dan kondisi perekonomian nasional," ujarnya.
Selain BCA, bank lain yang juga turut memacu kredit sindikasi awal tahun ini adalah PT Bank KB Indonesia (KB Bank). Sampai Maret 2026, KB Bank sudah mulai menyalurkan kredit sindikasi ke beberapa proyek.
Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie menyebut pertumbuhan kredit sindikasinya di sepanjang 2025 lalu cukup moderat. Ia optimistis dapat memacu pertumbuhan kredit sindikasi KB Bank di 2026 lebih pesat.
"Hingga kuartal pertama 2026, KB Bank tetap aktif membukukan transaksi sindikasi, antara lain bersama PT Petro Oxo Nusantara (PON) dan PT Ainul Hayat Sejahtera," kata Kunardy saat dihubungi, Sabtu (28/3/2026).
Baca Juga: Bank Mandiri Masih Jadi Jawara Kuasai Pasar Kredit Sindikasi di Akhir 2025
Pada pembiayaan PON, KB Bank berpartisipasi dengan menyalurkan kredit senilai USD 95,92 juta. Kunardy bilang, KB Bank masih sangat terbuka untuk proyek sindikasi lain ke depannya, utamanya dalam sektor utilitas publik, otomotif, manufaktur, infrastruktur digital, serta pertambangan.
"Kami juga akan terus mengedepankan pengambilan peran yang lebih aktif sebagai Lead Coordinator, Lead Underwriter, dan Lead Arranger dalam setiap transaksi sindikasi," tambahnya.
Di sisi bank syariah, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) juga memastikan kredit sindikasinya akan terus bertumbuh pada 2026.
Dalam catatan Kontan belum lama ini, BSI ikut menyalurkan kredit sindikasi untuk membiayai pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Betung (Sp. Sekayu) - Tempino - Jambi.
"Kami optimis tahun ini pembiayaan akan terus tumbuh seiring dengan stimulus pemerintah yang memberikan kelonggaran likuiditas bank," kata Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar saat dihubungi terkait kredit sindikasi, Jumat (27/3/2026).
Baca Juga: PT SMI Gandeng Bank Mandiri Salurkan Kredit Sindikasi Rp 4 Triliun ke Hutama Karya
Menurut Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, tren peningkatan kredit sindikasi ini menandakan bank sudah mulai gencar untuk kembali membiayai proyek-proyek berskala besar.
Adapun jika dilihat dari pertumbuhannya, Trioksa menilai kredit sindikasi pada Maret 2026 ini lebih cocok dilihat sebagai pemulihan. Ia menyebut pertumbuhan kredit sindikasi di tahun 2025 lalu cenderung menurun, sehingga pertumbuhan saat ini belum bisa dianggap agresif.
Ia juga menilai, pertumbuhan kredit sindikasi saja belum cukup untuk memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depannya. "Sindikasi lebih mencerminkan pembiayaan untuk proyek-proyek besar tertentu seperti jalan tol," kata Trioksa saat dihubungi, Minggu (29/3).
Meski bukan pertanda pertumbuhan ekonomi yang signifikan, kenaikan kredit sindikasi di awal tahun merupakan sinyal positif akan kembali pulihnya berbagai sektor industri di Indonesia.
Baca Juga: Permintaan Kredit Sindikasi Masih Lesu, Bank Lebih Selektif Hadapi 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













