kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Ruang penurunan suku bunga kredit masih terbuka, begini kata ekonom


Kamis, 13 Februari 2020 / 17:05 WIB
Ruang penurunan suku bunga kredit masih terbuka, begini kata ekonom
ILUSTRASI. Suasana layanan nasabah yang sudah berjalan normal terlihat di Kantor Cabang Bank Mandiri di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (12/6/2019). Tren penurunan bunga kredit nampaknya belum akan kencang di awal tahun 2020 ini. Sebab, menurut Ekonom P

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren penurunan bunga kredit nampaknya belum akan kencang di awal tahun 2020 ini. Sebab, menurut Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede saat ini transmisi kebijakan moneter masih terbatas.

Namun, bukan berarti ruang penurunan bunga kredit sudah tertutup. Pasalnya, transmisi suku bunga di pasar uang masih berjalan baik. Tercermin pada penurunan suku bunga pasar uang antar bank (PUAB) tenor 1 minggu sebesar 111 bps menjadi 5,06% dan suku bunga Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) tenor 1 minggu turun sebesar 117 bps menjadi 5,07% sejak akhir Juni 2019.

Baca Juga: Catat, BCA tawarkan bunga KPR 4,63% di ajang BCA Expoversary 2020

Walhasil, Josua memandang transmisi ke suku bunga perbankan masih akan berlanjut, meskipun belum optimal. Hal ini bisa terlihat dari rerata tertimbang suku bunga deposito pada Desember 2019 yang sebesar 6,31% turun 52 bps sejak akhir Juni 2019. Artinya, penurunan bunga deposito sebenarnya sudah terjadi bahkan sebelum Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan pada bulan Juli 2019 lalu.

Namun, penurunan bunga kredit masih terpantau pelan. Misalnya saja, suku bunga kredit modal kerja (KMK) baru turun 33 basis poin (bps) sejak akhir Juni 2019 atau 47 bps sejak Januari 2019 menjadi 10,09% pada Desember 2019. Nah, bila dibandingkan dengan periode penurunan suku bunga Bank Indonesia pada tahun 2016 silam, transmisi penurunan suku bunga tahun 2019 masih lebih terbatas.

Menurut kacamata Josua, secara umum hal ini disebabkan rendahnya spread suku bunga relatif terhadap historical yang menghambat penurunan lebih lanjut dari suku bunga kredit. "Bank cenderung mempertahankan suku bunga untuk menjaga profitabilitas," katanya kepada Kontan.co.id, Kamis (13/2).

Lebih lanjut, Ia menilai suku bunga dana masih relatif tinggi tercermin dengan masih tingginya tingkat loan to deposit ratio (LDR) bank dan struktur pendanaan lainnya.

Baca Juga: Rekening efek diblokir karena kasus Jiwasraya, WanaArtha Life kesulitan bayar klaim

Kabar baiknya, penurunan suku bunga di awal 2020 ini dipastikan masih bakal terjadi. Lantaran penyesuaian dari kebijakan penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) masih terjadi. Sebagai pengingat saja, sepanjang tahun 2019 lalu BI sudah menurunkan suku bunga acuan BI 7-day reverse repo rate (7DRRR) sebanyak 100 bps. Hingga kini, bank sentral melalui kebijakannya belum kembali menurunkan bunga acuan.




TERBARU

Close [X]
×