kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.663.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 16.917   7,00   0,04%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Simpanan Nasabah Rumah Tangga Tertekan, Bank Prediksi Pemulihan Baru di 2026


Selasa, 02 Desember 2025 / 19:35 WIB
Simpanan Nasabah Rumah Tangga Tertekan, Bank Prediksi Pemulihan Baru di 2026
ILUSTRASI. Nasabah bertransaksi di ATM Bank Mandiri, Jakarta, Senin (3/6/2024). Berdasarkan laporan Distribusi Simpanan Bank Umum yang dirilis Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), nilai simpanan nasabah di bank telah tumbuh 8% secara tahunan pada April 2024 menjadi Rp 8.703 triliun. Lebih dari separuh simpanan nasabah itu ditempatkan di bank jumbo atau kelompok bank dengan modal inti (KBMI) IV. (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Ekonomi masyarakat menengah bawah terlihat masih tampak terhimpit. Hal itu tercermin dari rata-rata simpanan rumah tangga di perbankan yang masih tertekan.

Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan per Oktober 2024, rata-rata Dana Pihak Ketiga (DPK) rumah tangga per rekening di perbankan hanya Rp 6,04 juta susut dari periode sama tahun sebelumnya Rp 6,47 juta kendati mulai naik dari posisi terendah sepanjang 2025 yakni September 2025 di Rp 6 juta.

Adapun, simpanan dalam bentuk tabungan juga terlihat masih tumbuh terbatas. Di mana, rata-rata tabungan rumah tangga per rekening senilai Rp 4,02 juta kendati mulai naik dari posisi Agustus dan September 2025 tapi menurun dari Oktober 2024 senilai Rp 4,19 juta.

Baca Juga: Bunga Simpanan Turun, Pertumbuhan DPK Seabank Melandai

Head of Deposit Product Management PT Bank Mandiri Tbk, Mega Ekaputri Pujianto menyebut, berdasarkan data Mandiri Institute per pertengahan November 2025, Bank Mandiri mencatat pergerakan indeks tabungan yang berbeda antar kelompok pendapatan.

Kelompok rumah tangga berpendapatan bawah menunjukkan peningkatan indeks tabungan ke level 74,7, lebih tinggi dibandingkan 73,1 pada Oktober 2025. Kondisi ini mengindikasikan adanya upaya penyesuaian konsumsi dan preferensi menabung di tengah tekanan ekonomi.

Sebaliknya, indeks tabungan kelompok menengah–atas justru mengalami penurunan terbatas, berada pada kisaran 100 dan 93,2. Penurunan tersebut turut mendorong saldo tabungan rata-rata masyarakat menyusut.

"Meski demikian, dari sisi penghimpunan dana, Bank Mandiri masih mencatatkan pertumbuhan DPK yang solid, mencapai sekitar 15% yoy per Oktober 2025. Pertumbuhan ini menjadi sinyal positif bahwa kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan tetap terjaga," ujar Mega.

Bank Mandiri optimistis tren penghimpunan dana dapat kembali menguat ke depannya. Pemulihan daya beli rumah tangga dan meningkatnya keyakinan konsumen diyakini akan menjadi katalis perbaikan tren simpanan di masa mendatang.

Untuk memperkuat kinerja dana murah (CASA), Bank Mandiri menjalankan sejumlah strategi, antara lain, peningkatan literasi keuangan agar masyarakat lebih memahami manfaat produk simpanan.

Baca Juga: Simpanan di Atas Rp 5 Miliar Naik, Orang Kaya Mulai Tempatkan Uang di Indonesia?

Selain itu, optimalisasi produk tabungan yang lebih fleksibel dan sesuai kebutuhan berbagai segmen nasabah, dan penguatan layanan digital yang mendorong transaksi keuangan secara lebih mudah, cepat, dan efisien.

Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan juga menyadari ada pertumbuhan tabungan perorangan yang melemah. Ia menilai ini disebabkan masyarakat yang harus memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Ia memproyeksikan kondisi ini belum akan berubah dalam jangka waktu yang pendek. “Paling tidak bertahan sampai separuh pertama tahun depan,” ujarnya.

Pada Oktober 2025, DPK CIMB Niaga mencapai Rp 285,1 triliun dengan dominasi dana murah senilai Rp 194,9 triliun. Sebagai perbandingan, DPK CIMB Niaga pada Oktober 2024 senilai Rp 250,65 triliun.

Kalau Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai melemahnya simpanan rumah tangga terutama disebabkan tekanan pendapatan pada segmen menengah, kelompok yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan tabungan.

“Sektor rumah tangga masih dipengaruhi oleh melemahnya pendapatan di kelompok menengah. Mereka kini lebih fokus memenuhi kebutuhan pokok dan membayar cicilan utang, sehingga ruang untuk menabung makin kecil,” ujar Bhima kepada Kontan, Selasa (2/12/2025).

Baca Juga: Bunga Belum Naik, Simpanan Deposito Valas Sudah Mulai Melesat

Menurut Bhima, kelompok masyarakat pada desil 5 dan 6 menjadi yang paling rentan. Mereka tidak tercakup dalam bantuan langsung tunai (BLT) pemerintah, namun tetap mengalami tekanan ekonomi yang membuat kondisi finansial semakin rapuh. Hal ini mendorong sebagian rumah tangga mengurangi pengeluaran sekunder dan tersier serta menahan konsumsi yang tidak mendesak.

Bhima menilai tren simpanan rumah tangga masih berpotensi melemah pada tahun depan. Pemulihan diperkirakan tidak akan cepat, terutama karena tekanan pendapatan masih berlanjut.

“Trennya masih akan sluggish di 2026 karena menurunnya pendapatan pekerja formal, ditambah situasi bencana terkait perubahan iklim yang juga berdampak pada kondisi rumah tangga,” ungkapnya.

Selain pendapatan yang stagnan, naiknya biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi global juga berpotensi menahan perbaikan simpanan masyarakat. Meski ada kenaikan bulanan pada Oktober, Bhima menilai itu belum cukup untuk menandai pembalikan tren.

Di tengah tekanan daya beli dan peningkatan risiko kredit, bank perlu menyesuaikan strategi untuk menjaga kualitas portofolio serta mempertahankan dana murah rumah tangga.

Baca Juga: Simpanan Kelas Menengah di Bank Masih Seret, Ini Penyebab Utamanya

Bhima menyarankan perbankan untuk lebih memahami perubahan pola konsumsi masyarakat, terutama pada segmen menengah yang mulai mengubah prioritas keuangan. “Bank disarankan membaca ulang perubahan pola konsumsi dan risiko di kelompok menengah untuk memperbaiki kualitas kredit,” katanya.

Menurut Bhima, bank perlu memperkuat analisis risiko rumah tangga, terutama dalam penilaian kemampuan bayar, serta merancang produk tabungan yang lebih menarik bagi nasabah dengan pendapatan terbatas. Program literasi keuangan dan penawaran skema pembayaran fleksibel juga dapat menjadi strategi untuk menahan lonjakan NPL.

"Dengan tekanan pendapatan yang masih terasa hingga 2026, perbankan perlu bersiap melakukan penyesuaian strategi agar tetap menjaga stabilitas dana pihak ketiga dan menjaga kualitas kredit rumah tangga," imbuhnya.

Baca Juga: BSI Resmi Kantongi Izin Jasa Simpanan Emas

Selanjutnya: Tekanan Jual Investor Asing di Saham Himbara Belum Berakhir

Menarik Dibaca: Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (3/12), Provinsi Ini Alami Hujan Sangat Deras

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×