Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tren simpanan masyarakat kelas menengah bawah mulai menunjukkan tanda perbaikan pada awal 2026. Kondisi ini tercermin dari simpanan nominal tier rekening bersaldo Rp 100 juta ke bawah yang mulai tumbuh, dan membaik dari bulan sebelumnya.
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, simpanan rata-rata masyarakat di bawah Rp 100 juta naik dari 3,6% pada Januari 2026 menjadi 4,4% pada Februari 2026.
Head of Deposit Product Management PT Bank Mandiri Tbk, Mega Ekaputri Pujianto, mengatakan simpanan segmen menengah bawah mulai tumbuh sekitar 3% secara bulanan pada awal 2026.
Baca Juga: LPS Ungkap Penyebab Suku Bunga Tinggi Simpanan Perbankan
Perbaikan ini didorong oleh membaiknya daya beli serta faktor musiman seperti pembayaran gaji dan meningkatnya aktivitas ekonomi.
“Namun penggunaan tabungan masih terjadi secara selektif untuk kebutuhan konsumsi dan biaya hidup,” ujarnya kepada kontan.co.id, Jumat (17/4/2026).
Ke depan, Bank Mandiri memproyeksikan pertumbuhan simpanan akan bergerak positif secara bertahap sepanjang tahun ini, dengan kisaran di atas 8%. Meski demikian, risiko dari dinamika ekonomi global dan domestik masih perlu dicermati.
Untuk mendorong penghimpunan dana, Bank Mandiri mengandalkan penguatan layanan digital, pengembangan produk yang relevan, serta peningkatan program loyalitas.
Perseroan juga terus mengoptimalkan dana murah (CASA) yang saat ini berada di atas 71% dari total dana pihak ketiga (DPK).
Senada, Direktur Network & Retail Funding PT Bank Tabungan Negara Tbk, Rully Setiawan, menyebut tren simpanan kelas menengah mulai membaik seiring stabilisasi daya beli dan pemulihan aktivitas ekonomi.
Baca Juga: Simpanan Jumbo Tumbuh Agresif, LPS Ungkap Penyebabnya
“Fenomena makan tabungan masih ada pada sebagian kelompok, namun tekanannya berkurang. Nasabah mulai kembali menabung secara bertahap,” jelasnya.
Rully memperkirakan, pertumbuhan simpanan pada 2026 akan berlanjut secara moderat. Meski risiko tekanan masih ada, ketahanan keuangan rumah tangga dinilai mulai membaik dibandingkan tahun lalu.
“Tren tabungan kelas menengah bawah diperkirakan stabil dengan pertumbuhan terbatas,” imbuhnya.
Untuk menggenjot tabungan, BTN memperkuat strategi melalui peningkatan layanan digital, penguatan tabungan transaksional berbasis ekosistem perumahan dan payroll, serta mendorong literasi keuangan.
Selain itu, bank juga menghadirkan produk tabungan yang fleksibel dan terjangkau guna menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Meski demikian, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai, perbaikan ini dinilai belum sepenuhnya mencerminkan penguatan fundamental. Bhima mengatakan, tren “makan tabungan” masih terjadi di masyarakat.
Baca Juga: Simpanan Valas CIMB Niaga Meningkat Sampai 16% Awal Tahun Ini
Menurutnya, kenaikan simpanan pada Februari lebih dipengaruhi faktor musiman, seperti pencairan tunjangan hari raya (THR) oleh sebagian perusahaan sejak akhir Februari.
“THR bisa mendorong kenaikan tabungan sementara. Namun tekanan ekonomi masih cukup besar, sehingga potensi penggerusan tabungan tetap ada,” ujarnya.
Bhima menjelaskan, tekanan berasal dari berbagai faktor, mulai dari kenaikan harga energi, bahan baku industri, hingga pelemahan nilai tukar rupiah yang memicu imported inflation.
Kondisi ini berpotensi menekan daya beli dan mendorong pelaku usaha melakukan efisiensi, yang pada akhirnya berdampak pada pendapatan masyarakat.
Selain itu, tingginya pinjaman online juga menjadi indikator tekanan likuiditas rumah tangga. Nilainya yang telah menembus Rp 100 triliun menunjukkan sebagian masyarakat mulai bertahan dengan utang, bukan lagi tabungan.
Baca Juga: LPS Siapkan Pembayaran Klaim Simpanan Nasabah BPR Pembangunan Nagari
“Sebagian kelas menengah rentan bertahan dari pinjaman ke pinjaman, yang pada akhirnya tetap menggerus tabungan,” tambahnya.
Dengan berbagai tekanan tersebut, Bhima memproyeksikan tren perbaikan simpanan kelas menengah bawah belum tentu berlanjut sepanjang tahun ini. Risiko penurunan tabungan masih terbuka jika tekanan ekonomi tidak mereda.
Di sisi lain, perbankan dinilai perlu menyiapkan strategi untuk menjaga pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Salah satunya dengan mendorong produk simpanan berbasis valuta asing (valas), yang dinilai lebih menarik di tengah pelemahan rupiah.
Selain itu, bank juga perlu mengoptimalkan penghimpunan dana dari deposan besar, termasuk mendorong peralihan dana dari giro ke deposito agar dana tersimpan lebih lama.
Baca Juga: Simpanan Korporasi BCA Tembus Rp 414 Triliun pada 2025
“Bank juga bisa memperkuat layanan wealth management untuk menarik dana dari nasabah dengan simpanan besar, sehingga likuiditas lebih terjaga,” imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













