Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren pengalihan atau take over kredit pemilikan rumah (KPR) dari bank konvensional ke bank syariah terus menunjukkan pertumbuhan. Di tengah suku bunga floating yang masih menjadi pertimbangan nasabah, kepastian angsuran melalui skema margin tetap menjadi salah satu daya tarik pembiayaan KPR syariah.
PT Bank CIMB Niaga Tbk melalui unit usaha syariahnya mencatat pertumbuhan KPR take over yang cukup tinggi hingga Agustus 2026.
Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara mengatakan, pertumbuhan KPR take over secara tahunan mencapai 62% secara tahunan atau year on year (yoy).
"Tren KPR take over sangat bagus. YoY growth as of Agustus tumbuh sebesar 62%. Adapun realisasi pembiayaan KPR take over saat ini sudah mencapai Rp350 miliar," ujar Pandji kepada kontan.co.id, Rabu (30/9/2026).
Dengan realisasi tersebut, pembiayaan KPR take over menyumbang sekitar 23% dari total pembiayaan KPR CIMB Niaga Syariah.
Baca Juga: Sebanyak 71% Portofolio KPR KB Bank Diisi Porsi Produk Take Over
Menurut Pandji, terdapat sejumlah faktor yang mendorong nasabah melakukan take over KPR ke bank syariah. Salah satunya adalah mendapatkan harga atau pricing yang lebih murah dibandingkan bank sebelumnya.
Selain itu, nasabah juga mempertimbangkan fasilitas tambahan dana atau top up serta alasan untuk beralih ke pembiayaan syariah.
"Faktor yang mendorong nasabah melakukan take over di antaranya mendapatkan pricing lebih murah dibandingkan di bank asal, mendapatkan tambahan dana (top up), ingin hijrah ke syariah supaya tidak riba," jelasnya.
Melihat peluang tersebut, CIMB Niaga Syariah menargetkan pembiayaan KPR take over mencapai Rp500 miliar pada 2026.
Untuk mengejar target tersebut, perseroan menyiapkan sejumlah strategi, salah satunya program KPR Hijrah pre-approve.
CIMB Niaga Syariah juga menawarkan berbagai program pricing dan biaya serta menggandeng komunitas untuk memperluas pemasaran KPR take over.
PT Bank BCA Syariah juga melihat KPR syariah menjadi salah satu pilihan menarik bagi nasabah di tengah tren suku bunga yang meningkat.
Direktur BCA Syariah Pranata mengatakan, hingga Agustus 2026 total pembiayaan konsumer BCA Syariah mencapai Rp2,5 triliun, tumbuh 34,7% yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, pembiayaan KPR BCA Syariah tumbuh 24,2% yoy. Pembiayaan take over KPR turut memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan KPR perseroan.
Menurut Pranata, salah satu daya tarik KPR syariah adalah kepastian angsuran hingga jatuh tempo. Kondisi tersebut menjadi semakin relevan ketika suku bunga meningkat dan nasabah menghadapi risiko perubahan angsuran pada KPR dengan bunga floating.
Baca Juga: Bunga KPR Bank Konvensional Masih Tinggi, KPR Bank Syariah Jadi Primadona
BCA Syariah menawarkan promo margin 7% fixed untuk dua tahun pertama dan 7,5% untuk sisa tenor hingga jatuh tempo. Perseroan juga memberikan kemudahan biaya-biaya yang dapat diangsur dengan skema 0% selama dua tahun.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa selain faktor harga, kepastian cicilan menjadi salah satu pertimbangan nasabah ketika memilih untuk memindahkan pembiayaan KPR ke bank syariah.
Sementara itu, PT Bank bjb syariah juga mencatat pertumbuhan pembiayaan KPR take over dari bank lain.
Direktur Utama bjb syariah Arief Setyahadi mengatakan, take over pembiayaan KPR umumnya dilakukan ketika masa promo bunga fixed di bank sebelumnya telah berakhir. Setelah memasuki periode floating rate, angsuran nasabah dapat meningkat sehingga memengaruhi arus kas.
"Alasan lainnya take over ke bank syariah karena nasabah ingin mendapatkan angsuran dengan tingkat margin yang fix dan tidak mengganggu cash flow mereka yang rata-rata dari pendapatan (fixed income)," kata Arief.
Per 31 Agustus 2026, realisasi pembiayaan KPR take over dari bank lain di bjb syariah tumbuh 4% yoy.
Baca Juga: Bank Syariah Ketiban Berkah dari Tingginya Bunga KPR Bank Konvensional
Sementara itu, kontribusi pencairan KPR khusus take over dari bank lain terhadap penyaluran KPR bjb syariah tercatat mengalami kenaikan 16% yoy per 31 Agustus 2026.
Arief mengatakan, kepastian angsuran fixed selama periode pembiayaan menjadi salah satu alasan utama nasabah memilih take over ke bjb syariah.
Selain itu, faktor layanan juga turut menjadi pertimbangan. bjb syariah mengandalkan proses dengan service level agreement (SLA) yang cepat serta petugas yang membantu menjelaskan produk KPR secara end to end.
Sementara itu, bjb syariah juga menjadikan skema take over sebagai salah satu sumber pertumbuhan pembiayaan konsumer. Perseroan tetap menerapkan penyaluran secara selektif, baik kepada nasabah eksisting maupun nasabah baru.
Target pasar bjb syariah antara lain aparatur sipil negara (ASN), pegawai BUMN/BUMD, pegawai rumah sakit, dokter dan pekerja swasta dengan kolektibilitas lancar.
Adapun perseroan menargetkan pembiayaan take over KPR tumbuh 6% yoy pada 2026.
Baca Juga: BCA Syariah Catat Realisasi Pembiayaan KPR iB Hingga April 2026 Capai Rp 1,6 triliun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














