kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45949,73   8,09   0.86%
  • EMAS1.029.000 -0,10%
  • RD.SAHAM -0.04%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Agar bisa bertahan, bank digital dinilai bakal adu kuat ekosistem


Rabu, 08 Desember 2021 / 20:52 WIB
Agar bisa bertahan, bank digital dinilai bakal adu kuat ekosistem
ILUSTRASI. Customer Service melayani nasabah di Digital Lounge Bank Neo Commerce Jakarta, Selasa (26/10). ./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/26/10/2021.


Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski terbilang baru di Indonesia, bank digital telah lama hadir di luar negeri. Bercermin dari luar negeri, bank digital yang berhasil membukukan laba saat memiliki ekosistem yang kuat, seperti Kakao Bank asal Korea Selatan. 

Oleh sebab itu, bank digital dalam negeri, juga harus mampu membangun ekosistem. Investor asal Hongkong WeLab masuk Bank Jasa Jakarta yang kuat di bisnis mobil. Ini akan klop dengan bisnis Astra International sebagai mitra WeLab dalam menjalankan bisnis fintech peer to peer lending

Sedangkan BCA Digital akan didukung oleh sang induk BCA yang dimiliki oleh Grup Djarum. Ada juga BRI Agro atau Bank Raya yang ditopang oleh bank pelat merah, BRI. 

Lalu, Bank Fama yang baru saja diakuisisi oleh Emtek, bisa memanfaatkan ekosistem konglomerat ini. Juga ada bank kecil yang diakuisisi oleh fintech ataupun pelaku e-commerce, dengan harapan bisa memperkuat ekosistem digital yang sudah ada. 

Baca Juga: Kredit menganggur di sejumlah bank mulai melandai

Namun, tipikal pengguna e-commerce cenderung tidak loyal dan mudah bergeser dengan iming-iming promosi. Ada Ajaib yang telah mengakuisisi Bank Bumi Artha. Lalu Kredivo mencaplok Bank Bisnis. Juga ada Sea Bank Indonesia milik Shopee serta Bank Jagao yang mesra dengan GoJek. Hingga Akulaku yang baru saja menjadi saham pengendali Bank Neo Commerce. 

Dalam menilai siapa yang paling kuat dan loyal dalam menggarap ekosistem, Ekonom yang juga pakar keuangan dan pasar modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy tak memandang nilai valuasi bank digital yang sudah ada. 

“Yang ada grup besar di belakangnya seperti BCA, Astra, BRI mestinya oke, paling tidak untuk sumber pendanaannya. Berikutnya mungkin grup EMTK dan lainnya,” ujar Budi kepada Kontan.co.id pada Rabu (12/8). 

Ia menilai sangat penting bagi bank digital memiliki ekosistem yang memadai. Lantaran akan memberikan manfaat yang cukup signifikan bagi nasabahnya.  ”Itu sebabnya bank digital yang bisa jalan ialah yang punya ekosistem. Sedangkan yang  lain, ya cuma ikut-ikutan supaya dapat valuasi yang tinggi alias ikut gorengan,” jelasnya. 

Baca Juga: Bisnis paylater dan kartu kredit digital diperkirakan punya prospek besar

BCA sendiri terus memperkuat BCA Digital dengan suntikan tambangan modal senilai Rp 2,7 triliun baru-baru ini. Sehingga, BCA digital memiliki modal inti senilai Rp 4 triliun.  Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan siap gelontorkan dana bagi anak usaha yang membutuhkan. Mengingat, pendanaan di BCA juga masih likuid. 

Selama, anak usaha tersebut menguntungkan, menghasilkan, dan memiliki fundamental yang bagus. Bahkan, BCA mempertimbangkan untuk mengantarkan Bank BCA Digital melantai ke bursa efek melalui penawaran umum saham perdana atawa initial public offering (IPO).

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×