Reporter: Vivit Dewi | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ajaib Group meraih investasi strategis senilai US$ 270 juta atau sekitar Rp 4,8 triliun dari SBI Holdings, kelompok jasa keuangan asal Jepang yang tercatat di Bursa Efek Tokyo.
Investasi tersebut menjadi pendanaan terbesar yang diterima perusahaan teknologi Indonesia dalam lebih dari empat tahun terakhir. Dana segar ini akan digunakan untuk memperbesar sumber daya manusia (SDM) serta mendukung pengembangan produk Ajaib.
CEO & Co-Founder Ajaib Group Anderson Sumarli mengatakan, perekrutan akan difokuskan pada sejumlah fungsi perusahaan, terutama yang berkaitan dengan teknologi.
Baca Juga: Pembiayaan Pinjaman Daring Masih Banyak Dimanfaatkan untuk Kebutuhan Konsumtif
“Untuk investasi Rp 4,8 triliun ini tentunya kami ingin merekrut dan membesarkan SDM kami, terutama di bidang teknologi, jadi dari engineering, produk, bisnis, operations,” ujar Anderson dalam konferensi pers Ajaib Series C yang digelar di Bursa Efek Indonesia, Senin (31/8/2026).
Selain memperbesar tim, Ajaib juga akan mengalokasikan investasi untuk pengembangan layanan investasi di Indonesia.
“Kami ingin berinvestasi untuk mengembangkan produk-produk yang lebih baik lagi di Tanah Air, baik itu untuk membantu anak muda Indonesia berinvestasi saham Indonesia, saham luar negeri, ataupun aset digital,” kata Anderson.
Untuk saat ini, Ajaib telah menyediakan lima instrumen keuangan utama melalui aplikasinya, yakni saham, reksadana, obligasi seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan fixed rate (FR), exchange traded fund (ETF), serta aset kripto.
Basis pengguna Ajaib kini mendekati 7 juta orang, dengan lebih dari 80% nasabah merupakan investor pemula yang mayoritas berasal dari kalangan anak muda.
Di tingkat nasional, jumlah investor saham di Indonesia kini telah melampaui 10 juta orang. Anderson melihat pertumbuhan investor ritel tersebut terjadi ketika pendanaan perusahaan teknologi Indonesia justru mengalami penurunan.
Pada 2021, perusahaan teknologi di Indonesia menghimpun pendanaan sekitar US$ 9,4 miliar. Angka tersebut kemudian turun menjadi sekitar US$ 340 juta sepanjang 2025. “Ketika modal asing keluar, justru masyarakat Indonesia masuk,” ujar Anderson.
Baca Juga: Adu Kinerja 10 Bank Besar, Ini Bank dengan Pertumbuhan Laba Tertinggi di Semester I
Menurut Anderson, mayoritas investor yang masuk ke pasar modal merupakan investor ritel domestik. Banyak di antaranya merupakan investor pemula yang memulai investasi dengan nilai relatif kecil.
“Nasabah pertama kami adalah mahasiswa yang beli saham satu lot demi satu lot. Sampai saat ini saya masih ingat betul rasanya—deg-degan melihat portofolio investasi naik-turun meski hanya beberapa ribu rupiah,” kata Anderson.
Sementara itu, Komisaris Utama Ajaib Group Andi Gani Nani Wea menilai masuknya investasi dari SBI Holdings menunjukkan masih adanya kepercayaan investor asing terhadap Indonesia.
“Ketika banyak rumor investasi asing lari dari perdagangan saham di Indonesia, tapi buktinya Rp 4,8 triliun masuk ke Ajaib Group,” ujar Andi Gani.
Ia berharap masuknya investasi tersebut dapat mendorong lebih banyak modal global ke sektor teknologi Indonesia. Andi Gani juga mendorong penguatan edukasi finansial bagi generasi muda yang baru mulai berinvestasi.
Adapun porsi terbesar investasi Ajaib dari pendanaan tersebut akan tetap diarahkan ke Indonesia. Anderson mengatakan tambahan modal juga diharapkan dapat memperluas perekrutan dan mendukung perkembangan teknologi serta penciptaan lapangan kerja berkualitas di dalam negeri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














