Reporter: Ferry Saputra | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Angka rasio klaim lini asuransi kredit di industri asuransi umum terbilang masih tinggi. Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat, rasio klaim asuransi kredit berada di level 95,7% per akhir 2025, atau meningkat dibandingkan pencapaian per akhir 2024 yang sebesar 91,3%.
PT Asuransi Asei Indonesia yang memiliki portofolio asuransi kredit juga mewaspadai sejumlah faktor yang bisa meningkatkan rasio klaim ke depannya. Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe mengatakan ketidakpastian ekonomi global, mulai dari perlambatan perdagangan, volatilitas nilai tukar, hingga tekanan pada sektor usaha, berpotensi meningkatkan risiko gagal bayar debitur ke depannya.
"Ketika kondisi keuangan debitur melemah, probabilitas kredit bermasalah akan meningkat dan akhirnya dapat mendorong klaim pada produk asuransi kredit," katanya kepada Kontan, Rabu (11/3/2026).
Namun, Dody mengatakan tidak semua peningkatan risiko otomatis akan tercermin dalam lonjakan rasio klaim pada tahun berjalan. Sebab, dalam asuransi kredit terdapat lag effect, yaitu klaim yang muncul sering kali berasal dari pembiayaan yang diterbitkan pada periode sebelumnya.
Baca Juga: Pengamat Menilai Tekanan Rupiah Bayangi Kualitas Kredit Valas Perbankan
"Dengan kata lain, dinamika klaim saat ini sering merefleksikan kualitas portofolio kredit beberapa waktu sebelumnya," tuturnya.
Oleh karena itu, Dody bilang perusahaan asuransi perlu lebih berhati-hati dalam mengelola eksposur risiko, terutama pada sektor-sektor ekonomi yang sensitif terhadap siklus global. Dia mengatakan Asuransi Asei juga terus memantau rasio tersebut secara ketat.
Walaupun level klaim di industri relatif tinggi, Asei berupaya menjaga rasio klaim tetap dalam batas yang sehat melalui beberapa strategi utama. Dody menyampaikan strateginya berupa memperkuat proses underwriting dan risk selection.
"Sebab, seleksi terhadap portofolio kredit merupakan kunci utama. Tentu akan lebih selektif terhadap sektor usaha, profil debitur, serta kualitas lembaga pembiayaan yang menjadi mitra," ungkapnya.
Selain itu, Dody menyebut Asei juga menerapkan risk-based pricing agar penetapan premi mencerminkan tingkat risiko yang sebenarnya. Dia bilang industri asuransi juga mulai menyesuaikan tarif premi berdasarkan pengalaman klaim, tren Non Performing Loan (NPL), serta karakteristik debitur.
Baca Juga: Jelang Lebaran, Gadai ValueMax Rasakan Tren Peningkatan Pembiayaan Gadai
Strategi lainnya, yakni memperkuat risk sharing dengan lembaga pembiayaan. Regulasi terbaru asuransi kredit juga mendorong mekanisme pembagian risiko antara perusahaan asuransi dan pemberi kredit agar pengelolaan risiko menjadi lebih seimbang. Selain itu, Asei juga melakukan monitoring portofolio secara lebih aktif untuk mendeteksi lebih dini potensi kredit bermasalah.
Dengan langkah-langkah tersebut, Dody berharap rasio klaim dapat lebih terkendali dan bisnis asuransi kredit tetap berkelanjutan dalam jangka panjang.
Berdasarkan laporan keuangan di situs resmi perusahaan, Asei membukukan pendapatan premi sebesar Rp 674,17 miliar per akhir 2025. Adapun aset perusahaan tercatat sebesar Rp 2,69 triliun dan ekuitas sebesar Rp 361,26 miliar per akhir 2025.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News











