kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.006,18   -2,11   -0.21%
  • EMAS991.000 1,02%
  • RD.SAHAM -0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.07%

Asuransi jiwa masih butuh peran agen di tahun depan


Kamis, 05 Desember 2019 / 19:52 WIB
Asuransi jiwa masih butuh peran agen di tahun depan
ILUSTRASI. Karyawan berada di depan logo-logo perusahaan asuransi jiwa di kantor Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Jakarta, Selasa (25/6). KONTAN/Carolus Agus Waluyo


Reporter: Ahmad Ghifari | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) optimistis prospek jalur keagenan di tahun 2020 masih dibutuhkan di tengah hadirnya insurtech. Tahun ini, Asuransi jiwa memacu layanan digital sebagai upaya untuk mendongkrak kinerja bisnis. Selain itu, layanan digital juga mampu meningkatkan kemudahan dan kepuasan nasabah.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu mengatakan, khusus untuk asuransi jiwa, masih dibutuhkan para agen dalam memasarkan produk. Hal itu dikarenakan tingkat kesadaran masyarakat terhadap asuransi jiwa masih rendah. 

Baca Juga: AFTECH: Asuransi yang tak garap insurtech bisa alami penurunan pendapatan

Meskipun telah memiliki aplikasi dan telah memiliki situs website, masyarakat masih membutuhkan penjelasan yang bagaimana itu sebagai tugas dari agen.

"Untuk penjualan itu belum semua karena apalagi generasi milenial saat ini lebih tertarik kepada lifestyle. Ini merupakan tugas dari AAJI dan perusahaan asuransi jiwa dalam memberikan edukasi dan literasi keuangan secara konstan agar semakin paham mengenai produk asuransi jiwa," kata Togar kepada Kontan.co.id, Kamis (5/12).

Kesiapan industri asuransi jiwa menghadapi tren digitalisasi menurut Togar di back office sudah banyak perusahaan asuransi jiwa menggunakan digitalisasi, misalnya untuk customer service bahkan telah memakai robot. Mengenai klaim sudah banyak perusahaan yang melakukan seperti itu.

Karena dari teknologi mampu menjangkau daerah terpencil. Di sisi lain, masalah yang saat ini terjadi menurut Togar adalah masyarakat masih banyak tidak suka membaca dan lebih suka diberi penjelasan dari para agen. Nah, sedangkan dari para agen sendiri banyak yang memberikan janji berlebihan atau membual. Namun masyarakat masih banyak yang percaya karena masih banyak malas membaca.

Baca Juga: Godok aturan main insurtech, ini yang akan bakal diatur OJK

"Insurtech itu lebih luas semua data sudah terkoneksi seperti database, yang dapat mengetahui riwayat nasabah. Penjual secara digital saat ini sudah banyak yang sudah melakukannya. Baik dari perusahaan sendiri, para agen, para broker, dan juga yang bukan broker dan juga agen jadi hanya penyedia platformnya," jelas Togar.

Dari digitalisasi apakah bisa meningkatkan jumlah premi dan pemegang polis. Menurut Togar tidak, karena premi yang dijual pasaran tidak besar rata-rata 10 juta per tahunnya. Para agen juga berperan penting dalam memberikan nasehat dan pandangan kepada calon tertanggung atau konsumen agar mendapatkan pemahaman dalam merencanakan keuangan dan juga kesehatan mereka di masa depan.

Adapun cara meningkatkan SDM  menurut Togar yaitu dengan meningkatkan pendidikan, setiap perusahaan harus melakukan itu kepada para agen. Pendidikan para agen sangat luas tidak hanya soal penjualan, tetapi bagaimana cara mempromosikan, dan bagaimana cara ia memahami produk itu secara detail, mampu menguasai polisnya, menjaga hubungan dengan customer.

"Apakah akan meminggirkan fungsi tenaga pemasar asuransi? Tidak akan, kecuali seluruh masyarakat Indonesia sudah mengerti tentang asuransi jiwa," ucap Togar.

Sementara perusahaan asuransi jiwa Cigna Indonesia memacu layanan digital sebagai upaya untuk mendongkrak kinerja bisnis. Selain itu, layanan digital juga mampu meningkatkan kemudahan dan kepuasan nasabah.

Baca Juga: WanaArtha Life resmi masuki bisnis DPLK

Meski demikian, Dini Maharani, Direktur dan Chief Distribution Officer Cigna Indonesia mengatakan, peran agen asuransi masih sangat penting dan signifikan buat Cigna dikarenakan saat ini penjualan asuransi melalui digital dilakukan untuk produk produk asuransi sederhana tanpa melalui proses seleksi kesehatan dengan manfaat pertanggungan yang terbatas.

Sementara melalui agen asuransi masyarakat bisa mendapatkan perlindungan dengan manfaat pertanggungan maksimal dan juga varian produk asuransi yang lebih beragam dimana salah satunya yang juga memiliki manfaat investasi.

"Saat ini lebih dari 80% penjualan asuransi melalui agen Cigna sudah dilengkapi dengan E-apps dimana melalui E-apps agent bisa melakukan penjualan dimana saja kapan saja dan tidak perlu datang ke kantor untuk menyerahkan aplikasi hard copy nasabah," kata Dini.

Adapun jumlah agen di Cigna saat ini sekitar 500 orang dimana dibanding akhir tahun lalu bertumbuh sebanyak 10%.

Baca Juga: Disinggung Kemenkeu, Adhi Karya (ADHI): Posisi debt to equity ratio masih aman

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×