kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45867,20   12,42   1.45%
  • EMAS1.371.000 1,18%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Bank digital bidik ekosistem digital dalam mengerek bisnis


Sabtu, 11 Desember 2021 / 12:54 WIB
Bank digital bidik ekosistem digital dalam mengerek bisnis
ILUSTRASI. Penggunaan aplikasi perbankan digital.


Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Wahyu T.Rahmawati

Bank Neo Commerce juga akan mengandalkan Akulaku sebagai pemegang saham. Direktur Utama Bank Neo Commerce Tjandra Gunawan bilang juga akan melakukan terus jalin kerja sama dengan group besar Alibaba sebagai investor Akulaku. 

“Banyak perusahaan di Indonesia yang diinvestasi oleh Alibaba Group. Nah, kami akan melakukan sinergis dengan tujuan memberikan layanan terbaik bagi nasabah. Kami percaya, dengan sinergi dan kolaborasi kami bisa meminimalisir biaya-biaya, jadi bukan kompetisi,” jelas Tjandra. 

Dia menyebut, Bank Neo Commerce telah bekerja sama dengan Sunline, Tencent, Alicloud, Arrash, dan Huawei dalam mengembangkan infrastruktur digital bank. Dalam menjalankan model bisnis, Bank Neo terus mengembangkan layanan kebutuhan sehari-hari pengguna seperti top up, utility, makanan dan minuman, serta transportasi. Juga layanan lewat QR payment yang direncanakan rilis pada tahun depan.

Baca Juga: Ekonomi bertahap pulih, bisnis remitansi bank mulai bergeliat

Lalu, Bank Fama yang baru saja diakuisisi oleh Emtek, bisa memanfaatkan ekosistem konglomerat ini. Juga ada bank kecil yang diakuisisi oleh fintech ataupun pelaku e-commerce, dengan harapan bisa memperkuat ekosistem digital yang sudah ada. 

Namun, tipikal pengguna e-commercecenderung tidak loyal dan mudah bergeser dengan iming-iming promosi. Ada Ajaib yang telah mengakuisisi Bank Bumi Artha. Lalu Kredivo mencaplok Bank Bisnis. Juga ada Sea Bank Indonesia milik Shopee serta Bank Jago yang mesra dengan GoJek. 

Dalam menilai siapa yang paling kuat dan loyal dalam menggarap ekosistem, Ekonom yang juga pakar keuangan dan pasar modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy tak memandang nilai valuasi bank digital yang sudah ada. 

Baca Juga: Belasan multifinance tumbang di tahun ini

“Yang ada grup besar di belakangnya seperti BCA, Astra, BRI mestinya oke, paling tidak untuk sumber pendanaannya. Berikutnya mungkin grup EMTK dan lainnya,” ujar Budi kepada Kontan.co.id.

Dia  menilai sangat penting bagi bank digital memiliki ekosistem yang memadai. Lantaran akan memberikan manfaat yang cukup signifikan bagi nasabahnya. 

”Itu sebabnya bank digital yang bisa jalan ialah yang punya ekosistem. Sedangkan yang  lain, ya cuma ikut-ikutan supaya dapat valuasi yang tinggi alias ikut gorengan,” kata Budi. 

Baca Juga: Bisnis fintech agregator mulai ramai pemain

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×