Reporter: Ferry Saputra | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menilai prospek bisnis reasuransi masih cukup positif pada tahun 2026.
Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengatakan, hal itu tak terlepas dari kebutuhan reasuransi yang tetap besar karena adanya aktivitas ekonomi, pembangunan infrastruktur, risiko properti, kredit, serta bencana alam.
"Ditambah, adanya risiko-risiko baru seperti siber, serta transisi energi, sehingga masih membutuhkan dukungan kapasitas reasuransi," katanya kepada Kontan, Sabtu (9/5/2026).
Baca Juga: OJK Bakal Terbitkan Ketentuan Pembatasan Penggunaan Platform BNPL
Meski demikian, Budi mengatakan bisnis reasuransi juga dihadapkan sejumlah tantangan. Dia menyebut industri masih menghadapi tekanan dari risiko bencana alam, perubahan iklim, volatilitas pasar global, peningkatan biaya reasuransi internasional, serta kebutuhan penyesuaian tarif dan syarat pertanggungan yang lebih prudent.
"Oleh karena itu, pertumbuhan bisnis reasuransi ke depan harus diarahkan pada pertumbuhan yang sehat, bukan hanya mengejar volume premi," tuturnya.
Lebih lanjut, AAUI berharap industri reasuransi nasional dapat mengambil momentum tersebut untuk memperkuat kapasitas domestik.
Budi juga berharap porsi risiko yang dapat ditahan reasuransi dalam negeri dapat meningkat secara bertahap, tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian dan perlindungan kepada pemegang polis.
Baca Juga: Saham Bank Danamon (BDMN) Terus Meroket, Ini Kata Analis
"Salah satunya lewat permodalan yang lebih kuat, kualitas underwriting yang lebih baik, penggunaan data yang lebih disiplin, serta kolaborasi yang lebih erat antara perusahaan asuransi dan reasuransi," ungkapnya.
Sebagai informasi, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, ekuitas industri reasuransi mencapai Rp 8,75 triliun per Maret 2026. Sementara itu, nilai aset mencapai Rp 43,31 triliun per Maret 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












