Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menilai skala aset dan jaringan memiliki peran penting dalam mendorong inklusi keuangan syariah di Indonesia.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, bank syariah dengan aset dan jaringan yang besar akan memiliki peran dalam meningkatkan penetrasi pasar keuangan syariah hingga 7%–8%. Peningkatan tersebut didorong oleh konsistensi perbankan syariah dalam mengambil peran pada kegiatan literasi, inklusi, serta optimalisasi penetrasi produk dan layanan di masyarakat.
“Skala aset dan jaringan terbukti sangat berpengaruh dalam mendorong inklusi keuangan syariah,” ujar Anggoro kepada Kontan, Senin (5/1/2026).
Baca Juga: BCA Syariah Optimistis Perbankan Syariah Tumbuh Berkelanjutan pada 2026
Ia menambahkan, preferensi masyarakat terhadap layanan keuangan syariah juga terus meningkat. Berdasarkan riset pada 2022, segmen nasabah Universalist dan Conformist meningkat menjadi 59% dari sebelumnya sekitar 46,2%.
Segmen conformist merupakan nasabah yang secara prinsip memilih menggunakan bank syariah, sementara segmen universalist adalah kelompok yang cenderung menggunakan bank syariah apabila kualitas layanannya setara dengan bank konvensional.
Sementara itu, hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2025 menunjukkan tingkat literasi keuangan syariah telah mencapai 43,42%. Namun, indeks inklusi keuangan syariah masih relatif rendah, yakni 13,41%.
“Artinya, pemahaman masyarakat terhadap perbankan syariah semakin baik, tetapi masih terkendala dari sisi inklusi, yang salah satunya dipengaruhi oleh aksesibilitas,” jelas Anggoro.
Ia mengakui, jumlah jaringan bank syariah masih tertinggal dibandingkan bank konvensional. Oleh karena itu, perluasan jaringan menjadi salah satu fokus utama, baik melalui penguatan layanan digital maupun kolaborasi dengan mitra.
BSI memanfaatkan berbagai kanal layanan elektronik untuk mendekatkan produk kepada masyarakat, mulai dari 1.039 kantor layanan, BSI Call 14040, aplikasi mobile banking BYOND by BSI, 126 ribu BSI Agen, BSI Net Banking, hingga platform BEWIZE by BSI.
Strategi pengembangan produk dan perluasan akses tersebut mendorong pertumbuhan jumlah nasabah BSI menjadi sekitar 22 juta, meningkat dibandingkan 13 juta nasabah saat merger. Anggoro juga mencatat adanya peningkatan jumlah nasabah non-Muslim, seiring hadirnya layanan yang semakin inklusif, termasuk bullion bank.
Saat ini, BSI terus mengakselerasi pengembangan layanan bullion bank melalui BYOND by BSI. Melalui layanan ini, BSI menawarkan penitipan emas, perdagangan emas, serta simpanan emas. Anggoro menyebut BSI saat ini menjadi satu-satunya bank emas di Indonesia.
Baca Juga: Harga Saham Asuransi Harta Aman (AHAP) Melejit, BEI Beri Label UMA
“Bisnis emas masih menjadi salah satu fokus karena potensinya besar. Hingga November 2025, saldo emas BSI telah mencapai lebih dari 1,6 ton dengan pertumbuhan double digit,” ungkapnya.
Menurut Anggoro, tingkat kepemilikan emas di masyarakat Indonesia masih relatif rendah, padahal emas memiliki fungsi penting sebagai aset lindung nilai (safe haven). Investasi emas jangka panjang juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, seperti haji, pendidikan anak, hingga kebutuhan lainnya. Oleh karena itu, layanan bullion masih perlu terus disosialisasikan.
Selain pengembangan bullion bank, BSI juga terus menjalankan bisnis eksisting serta mengoptimalkan pengembangan bisnis yang berkelanjutan dan memberikan multiplier effect bagi ekosistem halal.
“Kolaborasi di segmen ritel UMKM, konsumer, emas, SME, hingga korporasi, serta penguatan kapasitas IT dan transaksi digital terus kami dorong untuk meningkatkan penetrasi keuangan syariah. Namun, kami tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian agar bisnis tumbuh secara sehat dan berkelanjutan,” tutur Anggoro.
Selanjutnya: Ambisi 1,55 Juta Ton Aluminium RI, Terganjal Isu Energi dan Sinkronisasi Kebijakan
Menarik Dibaca: Kim Seon-ho dan Go Youn-jung Siap Beri Kejutan Penggemar di Jakarta
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













