Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Danamon Indonesia Tbk mencatatkan kinerja positif dalam penjualan Surat Berharga Negara (SBN) sepanjang tahun 2025.
Di tengah dinamika pasar obligasi, minat nasabah terhadap instrumen investasi berisiko rendah ini tetap terjaga dan menopang pertumbuhan bisnis wealth management perseroan.
Consumer Funding & Wealth Business Head Bank Danamon, Ivan Jaya, menyampaikan bahwa sepanjang periode Januari–Desember 2025, Danamon membukukan pertumbuhan penjualan SBN sebesar 12% secara tahunan (year on year/YoY).
Baca Juga: Buana Finance (BBLD) Dapat Tambahan Kredit dari Bank Danamon dan OCBC NISP
“Pertumbuhan penjualan SBN ini didorong oleh peningkatan jumlah nasabah baru, seiring dengan tingginya permintaan pasar terhadap produk investasi, serta imbal hasil obligasi yang masih tetap menarik terutama pada paruh pertama 2025,” ujar Ivan kepada Kontan.co.id, Rabu (7/1).
Kinerja tersebut turut memberikan kontribusi positif terhadap pendapatan berbasis komisi (fee based income) perseroan.
Meski tidak merinci nilai nominal pendapatan, Ivan menyebut penjualan SBN memberikan tambahan pendapatan yang berarti bagi Danamon, sejalan dengan meningkatnya aktivitas transaksi nasabah di segmen investasi.
Memasuki 2026, Danamon memproyeksikan potensi bisnis SBN masih akan terus bertumbuh secara berkelanjutan. Salah satu pendorong utamanya adalah peluang reinvestasi yang besar, seiring dengan volume SBN jatuh tempo yang diperkirakan mencapai Rp 883,6 triliun atau tumbuh 13,9% YoY.
Baca Juga: Danamon Tetap Tumbuh di Bisnis Trade Finance di Tengah Gejolak Perdagangan Global
Di sisi lain, kebutuhan penerbitan kembali SBN untuk mendukung target pembiayaan anggaran neto pemerintah yang diproyeksikan mencapai Rp 749,2 triliun juga membuka ruang pertumbuhan penjualan SBN di perbankan.
Ditambah lagi, potensi pelonggaran kebijakan moneter pada 2026 dinilai dapat semakin meningkatkan daya tarik pasar obligasi.
Ivan juga menyoroti peluang masuknya kembali investor asing ke pasar domestik. Saat ini, kepemilikan asing di SBN masih tergolong rendah. Per akhir 2025, porsi kepemilikan asing tercatat sekitar Rp 881,5 triliun atau sekitar 14% dari total outstanding SBN, melanjutkan tren penurunan sejak 2022.
“Struktur kepemilikan yang didominasi investor domestik justru memperkuat stabilitas pasar obligasi. Dengan posisi asing yang minim, peluang investor global kembali memburu SBN terbuka lebar, apalagi di tengah yield yang masih atraktif,” jelas Ivan.
Selain itu, berkurangnya penerbitan instrumen alternatif seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga berpotensi mendorong alokasi investasi kembali ke SBN. Dengan prospek penurunan suku bunga global pada 2026, kenaikan harga obligasi pun diperkirakan bisa menjadi tambahan keuntungan bagi investor.
Baca Juga: Bank Danamon Beri Fasilitas Kredit Rp 100 Miliar untuk Anak Usaha Centratama (CENT)
Sejalan dengan itu, Danamon menegaskan komitmennya untuk terus mendukung program pemerintah dalam pembiayaan negara melalui penerbitan SBN. Partisipasi aktif perbankan dinilai tidak hanya menopang stabilitas fiskal, tetapi juga menyediakan alternatif investasi yang aman dan menarik bagi masyarakat.
Untuk menangkap peluang tersebut, Danamon terus memperkuat layanan wealth management. Perseroan menyediakan fitur pembelian SBN dan reksa dana secara online melalui aplikasi mobile banking D-Bank PRO.
Selain itu, Danamon juga melengkapi layanannya dengan fasilitas transaksi valuta asing yang komprehensif, mulai dari nilai tukar kompetitif, pemesanan banknotes, hingga layanan remitansi.
Baca Juga: Dorong Transmisi Energi Bersih, MUFG Bersama Bank Danamon Selenggarakan MUFG N0W
“Dengan berbagai dukungan tersebut, kami optimistis minat nasabah terhadap SBN akan terus meningkat dan memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan bisnis Danamon di tahun depan,” tutup Ivan.
Selanjutnya: Kinerja Emiten CPO Masih Prospektif pada 2026, Simak Rekomendasi Sahamnya
Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Kamis 8 Januari 2026, Kerja Cerdas
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













