Reporter: Ferry Saputra | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau ASABRI (Persero) membeberkan kinerja terbaru hingga Mei 2026.
Direktur Utama ASABRI Jeffry Haryadi Manullang mengatakan, ASABRI mengalami rugi sebesar Rp 403 miliar per Mei 2026. Di mana, ASABRI mengalami rugi komprehensif yang tercatat sebesar Rp 641 miliar per Mei 2026.
Jeffrey menjelaskan, salah satu faktor yang menyebabkan ASABRI merugi karena adanya tekanan nilai pasar investasi yang menyebabkan hasil investasi juga tertekan.
Baca Juga: Bank Kian Agresif Gelontorkan Capex TI Demi Percepat Transformasi Digital
"Diketahui, selama Januari 2026 hingga Juni 2026 terjadi penurunan pasar modal yang sangat tajam dan sempat menyentuh di bawah angka Rp 6.000. Kondisi itu menyebabkan terjadinya penurunan nilai dari aset-aset investasi yang harus dibukukan sebagai penurunan hasil investasi," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi VI DPR RI, Rabu (8/7/2026).
Jika menilik paparan, benar saja hasil investasi ASABRI tertekan 87,75% secara year to date (ytd) dari 3,43 triliun sepanjang 2025 menjadi sebesar Rp 416 miliar hingga Mei 2026.
Sementara itu, ASABRI tercatat membukukan pendapatan asuransi sebesar Rp 795 miliar per Mei 2026, atau menurun 57,3% secara ytd. Adapun nilai aset ASABRI mencapai Rp 55,87 triliun per Mei 2026, atau menurun 0,18% secara ytd.
Jeffrey menerangkan, ekuitas ASABRI mengalami penurunan menjadi minus Rp 1 triliun per Mei 2026. Adapun penurunan itu dipengaruhi rugi komprehensif yang dibukukan perusahaan.
"Sampai Mei 2026, realisasi ekuitas kembali mengalami penurunan terutama adanya rugi komprehensif," tuturnya.
Berdasarkan data, ASABRI mencatatkan jumlah liablitas mencapai Rp 56,88 triliun per Mei 2026, atau meningkat 0,98% secara ytd.
Baca Juga: OJK Bantah Bank Asing Ramai-Ramai Tarik Dana dari Indonesia
Lebih lanjut, Jeffrey menerangkan ASABRI senantiasa terus menjaga memperbaiki tata kelola dan menempatkan dana-dana investasi di dalam instrumen investasi yang prudent. Hal itu dilakukan guna menjaga likuiditas tetap aman, serta menyelaraskan antara waktu aset dan kewajiban.
"Dengan demikian, tidak ada missmatch antara kewajiban yang jatuh tempo dan aset yang bisa dicairkan. Kami berharap dalam jangka panjang sampai batasan tertentu masih bisa cover semua kewajiban," kata Jeffrey.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














