kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.902.000   75.000   2,65%
  • USD/IDR 17.000   -49,00   -0,29%
  • IDX 7.184   136,22   1,93%
  • KOMPAS100 993   21,00   2,16%
  • LQ45 727   10,98   1,53%
  • ISSI 257   5,98   2,38%
  • IDX30 393   4,71   1,21%
  • IDXHIDIV20 487   -0,17   -0,03%
  • IDX80 112   2,02   1,84%
  • IDXV30 135   -0,77   -0,57%
  • IDXQ30 128   1,38   1,08%

Ini Kata AAUI Soal Potensi Penempatan Investasi Asuransi Umum di Instrumen Emas


Rabu, 01 April 2026 / 15:31 WIB
Ini Kata AAUI Soal Potensi Penempatan Investasi Asuransi Umum di Instrumen Emas
ILUSTRASI. AAUI Sebut Penyusunan Produk Asuransi Khusus Fintech Lending Perlu Dilakukan Hati-hati (KONTAN/Ferry Saputra)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, porsi penempatan investasi industri asuransi komersial di instrumen emas terbilang masih sangat kecil. Per Januari 2026, nilainya sekitar Rp 3,4 miliar atau 0,0005% dari total investasi industri asuransi.

Terkait hal itu, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memandang bahwa emas belum menjadi penempatan utama portofolio industri asuransi. Untuk industri asuransi umum sendiri, Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengatakan data publik yang tersedia belum merinci perusahaan mana saja yang sudah menempatkan investasi di emas, tetapi secara umum AAUI melihat portofolio industri masih didominasi instrumen yang lebih likuid, lebih terukur volatilitasnya, dan lebih sesuai dengan karakter kewajiban asuransi.

Baca Juga: NPF Industri Naik, Ini Strategi BRI Finance Perketat Penyaluran Pembiayaan

"Instrumen tersebut, seperti Surat Berharga Negara (SBN), deposito, reksadana, obligasi korporasi, dan saham. Pada 2025, total investasi asuransi umum tercatat Rp 131,44 triliun, dan AAUI juga melihat komposisi portofolio secara umum belum banyak berubah," katanya kepada Kontan, Rabu (1/4).

Lebih lanjut, Budi mengatakan kenaikan harga emas yang tinggi belakangan ini, tentu menarik secara pasar, apalagi harga emas global sempat mencetak rekor pada Januari 2026, serta masih sensitif terhadap ketidakpastian geopolitik dan arah suku bunga. 

Namun, bagi industri asuransi, dia bilang keputusan investasi tidak semata-mata mengikuti tren harga, tetapi harus mempertimbangkan kecocokan aset-liabilitas, likuiditas, tata kelola, manajemen risiko, serta batasan kehati-hatian. 

"Jadi, kecilnya porsi emas saat ini bukan berarti industrinya tidak melihat peluang, tetapi lebih menunjukkan bahwa industri masih menempatkan aspek stabilitas dan kecukupan likuiditas sebagai prioritas utama," ujar Budi.

Baca Juga: Pembangunan Kampung Nelayan Dinilai Jadi Peluang bagi Asuransi, Ini Respons Jasindo

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×