Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kanal distribusi keagenan dan bancassurance masih menjadi kontributor utama terhadap premi industri asuransi jiwa hingga awal tahun 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono mengungkapkan, berdasarkan data Januari 2026, porsi premi dari kanal keagenan mencapai sekitar 22,09%, sementara bancassurance sebesar 26,21% dari total premi asuransi jiwa melalui seluruh jalur distribusi.
“Ke depan, kedua kanal tersebut diperkirakan tetap menjadi sumber utama pertumbuhan premi industri pada 2026,” ujarnya dalam jawaban tertulis PPDP OJK, Selasa (17/3/2026).
Baca Juga: OJK Nilai Gejolak Geopolitik Berpotensi Tingkatkan Risiko pada Industri Asuransi Umum
Menurut Ogi, kanal bancassurance berpotensi mencatat pertumbuhan yang relatif stabil. Hal ini didukung oleh kuatnya basis nasabah perbankan serta integrasi layanan keuangan yang semakin erat antara sektor perbankan dan asuransi.
Sementara itu, kanal keagenan dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan yang signifikan. Peningkatan produktivitas agen serta perluasan penetrasi produk proteksi di masyarakat menjadi faktor pendorong utama bagi kinerja kanal ini.
"Kanal bancassurance berpotensi tumbuh relatif stabil seiring dengan kuatnya basis nasabah perbankan, sementara kanal keagenan masih memiliki peluang pertumbuhan melalui peningkatan produktivitas agen serta perluasan penetrasi produk proteksi di masyarakat," tuturnya.
Baca Juga: OJK Nilai Pembangunan 5.000 Kampung Nelayan Peluang bagi Industri Asuransi
Sebagai informasi, secara total OJK mencatat pendapatan premi asuransi jiwa mencapai Rp 17,97 triliun pada Januari 2026. Nilai tersebut turun 6,15% secara tahunan (year on year/YoY).
Penurunan premi ini mengindikasikan adanya tantangan yang masih dihadapi industri asuransi jiwa di awal tahun, meskipun prospek pertumbuhan tetap terbuka melalui optimalisasi kanal distribusi utama.
Ke depan, strategi penguatan distribusi, inovasi produk, serta peningkatan literasi keuangan masyarakat diperkirakan akan menjadi kunci dalam mendorong kinerja industri sepanjang 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













