Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) mendorong pelaku industri halal, termasuk emiten dan institusi yang masuk dalam indeks saham syariah, mengalokasikan minimal 20% transaksi perbankannya melalui bank syariah. Usulan ini menjadi salah satu upaya untuk mempercepat peningkatan pangsa pasar perbankan syariah menuju 20%.
Ketua Umum Asbisindo sekaligus Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Anggoro Eko Cahyo mengatakan, industri perbankan syariah masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Namun, pencapaian target tersebut membutuhkan dukungan kebijakan, penguatan skala usaha, serta pengembangan produk dan kapabilitas bisnis.
“Untuk menuju pangsa pasar 20%, perbankan syariah membutuhkan keberpihakan kebijakan yang semakin kuat, skala usaha yang memadai, serta keunikan produk dan kapabilitas bisnis yang semakin luas,” ujar Anggoro dalam siaran pers, Selasa (3/11/2026).
Baca Juga: TWP90 Pindar Naik Jadi 4,73% pada Agustus 2026, AFPI : Masih di Bawah Batas OJK
Menurut dia, keterhubungan ekosistem halal dengan perbankan syariah perlu diperkuat agar potensi ekonomi syariah dapat mendorong penghimpunan dana dan penyaluran pembiayaan ke sektor riil.
Selain mendorong penggunaan bank syariah oleh pelaku industri halal, Asbisindo juga mengusulkan optimalisasi pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) melalui perbankan syariah untuk memperluas pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Asbisindo turut meminta penyelarasan ketentuan perpajakan dan regulasi bagi pengembangan produk inovatif, seperti Cash Waqf Linked Deposit (CWLD) dan Sharia Restricted Investment Account (SRIA). Kepastian regulasi juga dinilai diperlukan untuk mengembangkan ekosistem bisnis emas dan bullion.
Dari sisi penguatan industri, Asbisindo mendorong kejelasan arah konsolidasi perbankan syariah, termasuk implementasi Kelompok Usaha Bank (KUB) dan penguatan permodalan.
Baca Juga: ACA Sebut Risiko Kendaraan Listrik Masih Sangat Terukur
Menurut Asbisindo, skala usaha yang memadai dibutuhkan agar bank syariah mampu meningkatkan investasi teknologi, mempercepat transformasi digital, memperkuat ketahanan siber, serta meningkatkan efisiensi layanan.
Pengembangan sumber daya manusia juga menjadi perhatian melalui Asbisindo Institute, antara lain lewat sertifikasi kompetensi khusus perbankan syariah dan program pengembangan calon pemimpin industri.
Sementara itu, untuk meningkatkan daya saing produk, Asbisindo mendorong pengembangan bisnis pada ekosistem haji, emas, dan ZISWAF, serta perluasan kapabilitas melalui konsep universal banking.
Dalam ekosistem haji, asosiasi meminta kepastian kebijakan terkait pembiayaan atau dana talangan haji yang sesuai ketentuan dan prinsip kehati-hatian. Asbisindo juga mendorong kejelasan implementasi akad Ijarah dan Ijarah Muntahiyah Bittamlik (IMBT), termasuk dalam aspek pencatatan akuntansi dan status pembiayaan.
Baca Juga: Profitabilitas Asuransi Umum Tertekan, Berikut Tantangannya hingga Akhir 2026
Anggoro menegaskan, target pangsa pasar 20% perlu dicapai melalui penguatan sisi permintaan dan penawaran secara bersamaan. Dengan demikian, peningkatan penggunaan layanan bank syariah perlu diimbangi dengan penguatan modal, teknologi, talenta, serta inovasi produk.
“Kami optimistis perbankan syariah memiliki ruang untuk tumbuh jauh lebih besar. Kuncinya adalah sinergi. Dengan dukungan OJK dan pemerintah, keberpihakan kebijakan yang tepat, penguatan skala industri, serta inovasi yang berkelanjutan,” kata Anggoro.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














