kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Kenaikan UMP jadi bom waktu bagi Adira Finance


Jumat, 30 November 2012 / 11:38 WIB
ILUSTRASI. Inez Perfect Glow Matte Lipstick Dark Bronze


Reporter: Mona Tobing

YOGYAKARTA. Kenaikan upah minimum provinsi (UMP) yang telah diketuk oleh Pemerintah DKI Jakarta, ternyata dianggap menjadi bom waktu bagi perusahaan multifinance. Kenaikan UMR tersebut akan membengkakkan beban operasional perusahaan.

I Dewa Made Susila, Direktur Keuangan Adira Finance mengeluh, sebagai industri padat karya kenaikan upah karyawan sebesar 40% itu terlalu memberatkan. Padahal, menurutnya, bisnis pembiayaan tengah masuk tren melambat akibat Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 43/PMK.010/2012 soal kenaikan uang muka.

"Biaya tenaga kerja di Adira terhadap beban operasional bisa mencapai 70%. Kami memiliki 29.000 pekerja,” jelas Dewa Jumat (30/11) dalam acara Indonesia Outlook 2013 oleh PT Bank Danamon.

Makin beratnya biaya yang harus dikeluarkan belum tentu sebanding dengan pendapatan yang diraup Adira.

Dalam laporan keuangan pada triwulan III tahun ini, beban operasional Adira melonjak hingga 54% dari Rp 2,23 triliun menjadi Rp 3,43 triliun. Beban anak usaha Bank Danamon itu menggelembung karena rasio pencadangan kerugian menjulang hingga 124% dari Rp 277 miliar menjadi Rp 509 miliar.

Sedangkan di sisi beban dari gaji dan tunjangan naik 21% dari Rp 958,4 miliar menjadi Rp 1,163 triliun di September 2012.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×