kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.012.000   68.000   2,31%
  • USD/IDR 16.905   -13,00   -0,08%
  • IDX 8.272   -2,31   -0,03%
  • KOMPAS100 1.164   0,60   0,05%
  • LQ45 835   1,00   0,12%
  • ISSI 295   -1,17   -0,39%
  • IDX30 437   0,09   0,02%
  • IDXHIDIV20 522   2,39   0,46%
  • IDX80 130   0,02   0,01%
  • IDXV30 143   -0,62   -0,43%
  • IDXQ30 140   0,46   0,33%

Kredit Konsumsi Perbankan Masih Melambat, Daya Beli Belum Pulih Secara Merata


Minggu, 22 Februari 2026 / 16:51 WIB
Kredit Konsumsi Perbankan Masih Melambat, Daya Beli Belum Pulih Secara Merata
ILUSTRASI. Teller menghitung uang nasabah di BAnk Mandiri, JAkarta (KONTAN/Baihaki). Kredit konsumsi 2025 melambat signifikan, terutama KKB yang anjlok 6,6%. Kondisi ini mirip pandemi. Apa pemicunya?


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pertumbuhan kredit konsumsi sepanjang 2025 menunjukkan pola yang mirip masa pandemi. Pergerakan tiap segmen tak seragam, mencerminkan pemulihan daya beli masyarakat yang belum merata.

Data Bank Indonesia (BI) mencatat, pada Desember 2025 kredit konsumsi hanya tumbuh 6,4% secara tahunan (yoy), melambat dibandingkan 10,5% yoy pada tahun sebelumnya. Pelemahan ini terutama dipicu koreksi pada kredit kendaraan bermotor (KKB) yang turun 6,6% yoy.

Dua segmen lain masih tumbuh, tetapi melambat. Kredit pemilikan rumah (KPR) hanya naik 6,8% yoy, sementara kredit multiguna tumbuh 7,7% yoy.

Pola serupa pernah terjadi pada 2020 saat pandemi. Kala itu, KKB anjlok 25,5% yoy dan menjadi penekan utama kredit konsumsi. Meski KPR dan kredit multiguna masih tumbuh masing-masing 3,6% yoy dan 1,2% yoy, total kredit konsumsi tetap terkontraksi 1% yoy.

Baca Juga: Kredit Konsumsi Perbankan Masih Tumbuh Terbatas hingga Agustus 2025

Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional sekaligus Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, Hery Gunardi, menilai tren kredit mencerminkan ketahanan daya beli debitur yang belum merata. 

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tahun lalu lebih banyak ditopang kelompok kelas atas, sementara daya beli masyarakat menengah ke bawah masih tertahan sejak 2019.

“Ruang konsumsi masyarakat menengah dan bawah masih terbatas. Sebaliknya, kelas atas relatif lebih stabil. Ini menjelaskan mengapa segmen premium seperti kredit properti lebih resilien,” ujarnya, Kamis (19/2/2026).

Ia menambahkan, pemulihan likuiditas rumah tangga memang mulai terjadi, namun terkonsentrasi pada nasabah dengan saldo tinggi. Di segmen menengah dan bawah, pertumbuhannya cenderung stagnan, kondisi yang tercermin pada kinerja kredit.

Pengamat perbankan Moch Amin Nurdin menilai lesunya daya beli kelas menengah ke bawah, basis utama pembeli kendaraan roda dua dan kendaraan entry level menjadi penyebab utama koreksi KKB. 

Baca Juga: Kredit Konsumer Melambat Lagi, Daya Beli Belum Pulih?

Pada saat yang sama, tekanan ekonomi justru mendorong kredit multiguna karena sering dimanfaatkan untuk refinancing atau menjaga arus kas rumah tangga.

“Pertumbuhannya bisa meningkat ketika tekanan ekonomi moderat terjadi,” katanya, Minggu (22/2/2026).

Amin memproyeksikan kredit konsumsi berpeluang membaik pada 2026, meski pemulihannya belum seragam. 

KPR diperkirakan tetap menjadi mesin pertumbuhan, KKB sangat bergantung pada penurunan suku bunga dan perbaikan daya beli, sementara kredit multiguna mengikuti kebutuhan likuiditas rumah tangga.

Strategi Bank Menjaga Momentum

Di level perbankan, kredit konsumsi PT Bank Central Asia Tbk pada 2025 tumbuh tipis 0,2% yoy, jauh melambat dari 12,4% yoy setahun sebelumnya. KPR dan pinjaman pribadi masih tumbuh masing-masing 5% yoy dan 9,8% yoy, namun KKB terkoreksi hingga 13,3% yoy.

Meski demikian, manajemen BCA tetap optimistis. Bank ini mengandalkan prospek ekonomi yang positif dan likuiditas yang solid, termasuk melalui gelaran BCA Expoversary yang menawarkan promo bunga khusus KPR dan KKB untuk menjaga volume penyaluran.

Sementara itu, PT Bank Syariah Indonesia Tbk mampu menjaga pertumbuhan yang lebih seragam. Hingga Desember 2025, pembiayaan KPR (BSI Griya) tumbuh 6,03% yoy, KKB (BSI Oto) melonjak 18,99% yoy, dan pembiayaan multiguna (BSI Mitraguna) tetap stabil.

Baca Juga: Kredit Konsumsi Oktober 2025, KPR Lesu, KKB Anjlok Tajam

Manajemen BSI menilai kinerja tersebut ditopang keunggulan skema syariah yang memberi kepastian margin di tengah fluktuasi suku bunga. 

Untuk 2026, prospek tetap positif dengan katalis berbeda di tiap segmen: insentif pemerintah untuk KPR, tren kendaraan listrik untuk KKB, serta kebutuhan esensial nasabah payroll untuk pembiayaan multiguna.

Dengan berbagai strategi tersebut, perbankan berharap kredit konsumsi dapat kembali menguat seiring perbaikan daya beli yang lebih merata.

Selanjutnya: Kadin Mengimbau Prabowo Membatalkan Rencana Impor 105.000 Unit Mobil Bagi KDMP

Menarik Dibaca: Promo Paket Bukber Burger King Hematnya Bikin Puasa Tenang, Mulai Rp 32 Ribuan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×