Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren pengetatan likuiditas di industri perbankan, yang ditandai dengan tingginya rasio LDR, tidak membuat PT Bank Sahabat Sampoerna mengerem laju ekspansi.
Dengan strategi diversifikasi pendanaan dan fokus pada ekosistem Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), perusahaan optimistis memenuhi target pertumbuhan kredit hingga akhir tahun 2026 tanpa harus merombak rencana bisnis awal.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan nasional terus bergerak merangkak naik.
Baca Juga: Penjualan Mobil Listrik Melonjak, Mengapa Asuransi Masih Berhati-hati?
Tercatat pada Agustus 2026, posisi LDR untuk kelompok bank bermodal inti (KBMI) 1 menyentuh angka 85,61%, sedangkan kelompok KBMI 2 berada di batas yang lebih ketat yakni mencapai 88,72%.
Kondisi industri tersebut turut beririsan dengan postur likuiditas PT Bank Sahabat Sampoerna. Merujuk pada laporan keuangan kuartal III 2026, PT Bank Sahabat Sampoerna mencatatkan rasio LDR sebesar 88,82%, sedikit meningkat dibandingkan periode September 2025 yang berada di level 88,30%.
Direktur Finance & Business Planning PT Bank Sampoerna Henky Suryaputra menjelaskan bahwa meski ruang rasio intermediasi tampak mengetat, perusahaan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudent liquidity management) serta menyiapkan instrumen buffer likuiditas yang mumpuni di Bank Indonesia maupun penempatan surat berharga.
"Kondisi likuiditas PT Bank Sahabat Sampoerna saat ini berada dalam posisi yang sehat dan memadai untuk menopang pertumbuhan bisnis," ungkap Henky kepada Kontan, Senin (2/11/2026).
Untuk menjaga keseimbangan neraca tersebut, perusahaan terus meramu ulang strategi struktur Dana Pihak Ketiga (DPK).
Pada September 2026, penghimpunan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) ditopang oleh instrumen giro senilai Rp 1,13 triliun dan tabungan sebesar Rp 1,10 triliun.
Sementara itu, porsi dana mahal atau deposito mendominasi dengan capaian Rp 9,00 triliun.
Penguatan dana murah, lanjut Henky, kini menjadi prioritas utama ketimbang ikut terjebak dalam perang suku bunga deposito yang berisiko membengkakkan cost of fund.
Baca Juga: Pendapatan Anjlok, Pool Advista (POLA) Rugi Rp 1,68 Miliar hingga September 2026
Bank memanfaatkan pengembangan layanan Banking-as-a-Service (BaaS) dan integrasi payment gateway ke dalam bisnis mitra guna mengendapkan dana operasional mereka sebagai bantalan giro dan tabungan.
Di sisi penyaluran pembiayaan, PT Bank Sahabat Sampoerna memastikan tetap mempertahankan target kredit sesuai Rencana Bisnis Bank (RBB) yang diserahkan ke otoritas.
Pemenuhan target di sisa tahun 2026 akan ditopang oleh segmen prioritas yakni UMKM, serta diversifikasi ke segmen wholesale.
Bank menyiasati keterbatasan likuiditas melalui pendekatan channelling bersama fintech lending dan ekosistem digital, di mana pencairan dapat dilakukan secara bertahap (staggered disbursement) menyesuaikan ketersediaan kas.
"Modal kami alokasikan untuk ekspansi bisnis dan mitigasi risiko, bukan untuk menutup defisit pendanaan. Kami juga tidak mengerem kredit, melainkan melakukan selective growth, menyalurkan kredit secara berhati-hati pada sektor-sektor yang memiliki tingkat risiko terukur dan yield yang memadai," papar Henky.
Ke depan, sinergi antara pendekatan nasabah yang terintegrasi dan kolaborasi ekosistem digital diharapkan mampu menjaga kesinambungan fundamental bank.
Melalui manajemen arus kas (asset-liability management) yang memadukan aset kredit tenor pendek-menengah dengan sumber kewajiban, Bank Sampoerna memproyeksikan perputaran likuiditas akan tetap bergulir sehat di tengah tantangan rasio industri yang makin ketat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














