Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana menghapus kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) I. Menyusul itu, muncul ekspektasi kenaikan nilai buku perusahaan pada bank-bank digital untuk memenuhi syarat KBMI II.
Di samping itu, Miftahul menilai saham-saham bank digital secara porsi lebih kecil dibandingkan dengan saham big banks. Dus, dampak pergerakan saham-saham tipe tersebut bakal lebih volatil, serta tak memerlukan capital yang besar untuk mendorong kenaikan harganya.
Miftahul melihat performa saham big banks tahun ini berpotensi membaik dengan dorongan tren suku bunga dan perbaikan kualitas serta penyerapan kredit. Ia merekomendasikan BBRI dengan target harga akhir tahun di Rp 4.620 per saham.
Baca Juga: CIMB Niaga Syariah: Pangsa Pasar Perbankan Syariah Bisa Capai 15% pada 2030
Sementara Abida menilai pergerakan saham perbankan masih bakal cenderung sideways hingga moderat baik. Katalis lain yang bakal memengaruhi adalah arus modal asing serta pembagian dividen dan aksi korporasi yang umumnya terjadi di kuartal I dan II.
Pilihan saham Abida masih jatuh kepada big banks, yakni BBCA, BBNI, dan BMRI, masing-masing dengan target harga tiga bulan di level Rp 10.800, Rp 4.700, dan Rp 5.500.
Selain itu, ia juga merekomendasikan saham lapis dua, yakni PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) masing-masing dengan target harga tiga bulan di level Rp 1.300 dan Rp 3.200.
Selanjutnya: Aturan Terbaru di APBN 2026, Kemenkeu Bisa Rekomposisi Rupiah-Valas
Menarik Dibaca: Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (12/1) Jabodetabek, Hujan Lebat di Daerah Ini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













