kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.980.000   16.000   0,81%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

Porsi Pembiayaan Produktif Clipan Finance di Bawah Rata-Rata Industri


Selasa, 15 Juli 2025 / 14:17 WIB
Porsi Pembiayaan Produktif Clipan Finance di Bawah Rata-Rata Industri
ILUSTRASI. Porsi pembiayaan PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN) ke sektor produktif berada di bawah rata-rata industri multifinance per Mei 2025.. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Porsi pembiayaan PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN) ke sektor produktif berada di bawah rata-rata industri multifinance per Mei 2025.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, porsi pembiayaan multifinance ke sektor produktif tercatat sebesar 46,47% per Mei. Angka itu sudah masuk ke dalam target yang sudah direncanakan sebesar 46%-48% pada periode 2026-2027.

"Porsi pembiayaan produktif perusahaan lebih dari 30% dari total pembiayaan," ungkap Direktur Utama Clipan Finance Harjanto Tjitohardjojo kepada Kontan, Selasa (15/7).

Harjanto tak memungkiri lesunya daya beli masyarakat saat ini berpotensi menekan hampir seluruh sektor, tak terkecuali sektor produktif. Dia juga menilai ke depannya masih ada sejumlah tantangan yang akan memengaruhi pembiayaan ke sektor produktif.

Baca Juga: Rasio NPF Clipan Finance Indonesia (CFIN) di Bawah 3% hingga Kuartal I-2025

Tantangannya, yaitu kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih dan masih dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, seperti ketidakpastian ekonomi global, penurunan harga komoditas, serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya stabil.

Untuk mendorong pembiayaan ke sektor produktif, Harjanto menerangkan Clipan Finance akan mengoptimalkan ketentuan dari OJK mengenai relaksasi peningkatan batas maksimum pembiayaan fasilitas modal usaha hingga Rp 10 miliar. Ditambah, memaksimalkan aturan yang memberikan kemudahan bagi pembiayaan fasilitas modal usaha dengan batas modal tertentu tanpa agunan.

"Selain itu, perusahaan juga terus melakukan penguatan manajemen risiko untuk mendorong pertumbuhan yang positif," kata Harjanto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×