kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.531.000   5.000   0,20%
  • USD/IDR 18.153   -6,00   -0,03%
  • IDX 5.097   39,78   0,79%
  • KOMPAS100 657   5,57   0,85%
  • LQ45 518   2,72   0,53%
  • ISSI 170   0,84   0,50%
  • IDX30 291   1,43   0,49%
  • IDXHIDIV20 391   -0,27   -0,07%
  • IDX80 76   0,57   0,76%
  • IDXV30 109   -0,28   -0,25%
  • IDXQ30 97   -0,51   -0,52%

Profitabilitas Bank Swasta Besar Melemah, Begini Strategi Genjot Laba & NIM di 2026


Senin, 02 November 2026 / 18:43 WIB
Profitabilitas Bank Swasta Besar Melemah, Begini Strategi Genjot Laba & NIM di 2026
ILUSTRASI. Transaksi ATM-Warga bertransaksi menggunakan ATM (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah bank swasta besar belum mampu menggenjot kinerja profitabilitasnya di sembilan bulan tahun ini. Tak cuman laba yang tak mampu tumbuh, margin bunga bersih alias net interest margin (NIM) bank terpantau susut. 

Ambil contoh di CIMB Niaga. Hingga September 2026, bank asal Malaysia ini cuma mampu mencetak laba sebesar Rp 4,49 triliun secara konsolidasian atau turun 14,75% dalam setahun. Tak cuman itu, NIM bank juga turun dalam setahun menjadi 3,82% dari 4%. 

Kendati begitu, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan bilang koreksi NIM yang terjadi masih rasional. Pun, koreksi laba lebih disebabkan oleh beban pencadangan yang meningkat. Kalau itu dikecualikan, ia bilang sejatinya kinerja laba masih cukup berdaya tahan (resilient). 

Baca Juga: Pasar Modal Bergejolak, Ini Strategi Prudential Indonesia Kelola Investasi

Kalau dilihat, beban pencadangan bank dalam periode ini memang melonjak 88,38% yoy menjadi Rp 2,36 triliun. “Memang kami menambah lapisan di pencadangan, terutama di portofolio kredit konsumtif sehubung dengan perlakuan akuntansi di bisnis auto berdasarkan regulasi,” jelas Lani kepada Kontan, Senin (2/11/2026). 

Demi mengatasi tantangan profitabilitas jangka pendek, CIMB Niaga bakal mengambil langkah adaptif tetapi tetap berhati-hati di tengah dinamika perekonomian yang penuh ketidakpastian. Fokusnya adalah memperkuat kualitas aset, mendorong pertumbuhan kredit yang selektif, mengoptimalkan pendapatan komisi yang berkelanjutan, serta menjaga efisiensi biaya. 

Bank swasta besar lainnya yang mencatatkan penurunan laba dalam periode ini adalah Maybank Indonesia, yakni sebesar 3,29% yoy menjadi Rp 956,85 miliar. Secara konsolidasian, NIM bank naik 4,41% dari 4,27%, tetapi secara bank only turun menjadi 3,07% dari 3,24%. 

Kendati begitu, Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan bilang pihaknya bakal terus berupaya memperkuat kinerja dan profitabilitas hingga akhir tahun melalui pertumbuhan bisnis yang berkualitas. 

“Kami juga akan terus memperkuat fundamental bisnis dan meningkatkan efisiensi operasional untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan,” jelas Steffano. 

Lebih lanjut ia bilang upaya peningkatan profitabilitas dan penguatan NIM bakal difokuskan pada pertumbuhan kredit yang berkualitas, peningkatan porsi dana murah (CASA), serta optimalisasi potensi di berbagai segmen bisnis. 

Secara khusus Steffano bilang pihaknya melihat peluang dari penguatan konektivitas regional Maybank Group dan sinergi antarentitas. Tentunya, tiap-tiap potensi yang ada dicermati dengan mempertimbangkan dinamika ekonomi dan pasar keuangan sebagai faktor yang dapat memengaruhi momentum pertumbuhan bisnis hingga akhir tahun.

Baca Juga: Great Eastern Optimistis Segmen Kendaraan Listrik Bisa Jadi Peluang Asuransi Umum

Di sisi lain Permata Bank terpantau mengalami penurunan laba 10,9% yoy menjadi Rp 2,56 triliun dalam periode ini, dengan NIM susut dari menjadi 3,86% dari 4,1%. Tak jauh berbeda, Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli mengaku pihaknya masih fokus menjaga fundamental bisnis di tengah dinamika pasar dan ketidakpastian global. 

Di luar itu, Meliza bilang bank sejatinya punya bekal untuk mendorong pertumbuhan dari kondisi permodalan yang solid. Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) bank memang solid di posisi 32,48%, meski turun dari posisi 34,96% pada tahun sebelumnya. 

“Rasio permodalan Permata Bank merupakan salah satu yang terkuat di antara bank-bank komersial di Indonesia. Fondasi yang kuat ini turut memberikan ruang likuiditas yang memadai dalam menjalankan strategi pertumbuhan, baik secara organik dan anorganik,” tutur Meliza. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU
11.11
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×