Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meskipun kualitas kredit industri perbankan secara umum menunjukkan perbaikan, sejumlah bank masih perlu mengantisipasi meningkatnya risiko kredit.
Beberapa bank, terutama yang termasuk kategori Kelompok Bank Modal Inti (KBMI) 1, tercatat memiliki rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) di atas ambang wajar 5%.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, rasio NPL gross perbankan berada di level 2,22% per Juni 2025. Angka ini relatif stabil dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar 2,26%.
Namun, masih terdapat beberapa bank dengan rasio NPL tinggi. PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) mencatatkan NPL gross sebesar 10,86% per Juni 2025, naik dari 8% pada Juni 2024.
Baca Juga: Perbankan Mulai Antisipasi Risiko Kredit Macet Imbas Kebijakan Tarif Trump
Sementara itu, PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD) memiliki NPL gross sebesar 7,36% pada Juni 2025, meningkat signifikan dari 4,35% pada tahun sebelumnya.
PT Bank KB Indonesia Tbk (BBKP) juga masih menghadapi rasio NPL tinggi, meski menunjukkan perbaikan. NPL gross bank ini tercatat 10,08% per Juni 2025, menurun dari 11,31% pada Juni 2024.
VP Corporate Relations KB Bank, Adi Pribadi, menjelaskan bahwa NPL tinggi berasal dari portofolio kredit lama. Ia menegaskan bahwa portofolio kredit sejak 2021 menunjukkan kualitas baik dengan NPL gross di bawah 1%.
Menurutnya, hal ini menjadi indikator bahwa strategi penyaluran kredit KB Bank sudah berada pada jalur yang tepat.
“Dengan posisi laba bersih semester pertama yang cukup tebal, kami berencana memperkuat pencadangan CKPN, selain terus melakukan penjualan aset NPL dan hapus buku,” ujar Adi, Kamis (28/8).
Baca Juga: Waspadai Potensi Risiko Kredit Macet Perbankan Meningkat Pasca Lebaran 2025
Selain bank-bank KBMI 1, beberapa bank besar juga mengalami kenaikan rasio kredit bermasalah. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatat NPL gross sebesar 3,3% per Juni 2025, naik dari 3,1% pada periode sama 2024.
Direktur Manajemen Risiko BTN, Setiyo Wibowo, mengakui adanya peningkatan NPL pada kuartal II-2025, terutama dari segmen Kredit Pemilikan Rumah (KPR) non-subsidi. Menurutnya, tekanan berasal dari kemampuan bayar masyarakat kelas menengah-bawah.