kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.980.000   16.000   0,81%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

Risiko Kredit Macet Mengintai, NPL Sejumlah Bank Tembus di Atas 5%


Sabtu, 30 Agustus 2025 / 15:21 WIB
Risiko Kredit Macet Mengintai, NPL Sejumlah Bank Tembus di Atas 5%
ILUSTRASI. Kredit Perbankan: Teller menghitung uang di salah satu bank, Jakarta, Senin (13/1/2025). Meskipun kualitas kredit industri perbankan secara umum menunjukkan perbaikan, sejumlah bank masih perlu mengantisipasi meningkatnya risiko kredit. ?


Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meskipun kualitas kredit industri perbankan secara umum menunjukkan perbaikan, sejumlah bank masih perlu mengantisipasi meningkatnya risiko kredit. 

Beberapa bank, terutama yang termasuk kategori Kelompok Bank Modal Inti (KBMI) 1, tercatat memiliki rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) di atas ambang wajar 5%.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, rasio NPL gross perbankan berada di level 2,22% per Juni 2025. Angka ini relatif stabil dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar 2,26%.

Namun, masih terdapat beberapa bank dengan rasio NPL tinggi. PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) mencatatkan NPL gross sebesar 10,86% per Juni 2025, naik dari 8% pada Juni 2024.

Baca Juga: Perbankan Mulai Antisipasi Risiko Kredit Macet Imbas Kebijakan Tarif Trump

Sementara itu, PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD) memiliki NPL gross sebesar 7,36% pada Juni 2025, meningkat signifikan dari 4,35% pada tahun sebelumnya.

PT Bank KB Indonesia Tbk (BBKP) juga masih menghadapi rasio NPL tinggi, meski menunjukkan perbaikan. NPL gross bank ini tercatat 10,08% per Juni 2025, menurun dari 11,31% pada Juni 2024.

VP Corporate Relations KB Bank, Adi Pribadi, menjelaskan bahwa NPL tinggi berasal dari portofolio kredit lama. Ia menegaskan bahwa portofolio kredit sejak 2021 menunjukkan kualitas baik dengan NPL gross di bawah 1%.

Menurutnya, hal ini menjadi indikator bahwa strategi penyaluran kredit KB Bank sudah berada pada jalur yang tepat.

“Dengan posisi laba bersih semester pertama yang cukup tebal, kami berencana memperkuat pencadangan CKPN, selain terus melakukan penjualan aset NPL dan hapus buku,” ujar Adi, Kamis (28/8).

Baca Juga: Waspadai Potensi Risiko Kredit Macet Perbankan Meningkat Pasca Lebaran 2025

Selain bank-bank KBMI 1, beberapa bank besar juga mengalami kenaikan rasio kredit bermasalah. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatat NPL gross sebesar 3,3% per Juni 2025, naik dari 3,1% pada periode sama 2024.

Direktur Manajemen Risiko BTN, Setiyo Wibowo, mengakui adanya peningkatan NPL pada kuartal II-2025, terutama dari segmen Kredit Pemilikan Rumah (KPR) non-subsidi. Menurutnya, tekanan berasal dari kemampuan bayar masyarakat kelas menengah-bawah.

Namun, ia menegaskan bahwa kenaikan tersebut masih dalam batas terkendali. BTN menyiapkan langkah mitigasi berupa penguatan penagihan, restrukturisasi kredit secara selektif, serta kerja sama dengan pemerintah dan pengembang untuk menjaga kualitas debitur.

“Kami melihat tren NPL akan cenderung stabil, bahkan berpotensi membaik seiring perbaikan ekonomi nasional, penyaluran FLPP yang lebih terukur, serta digitalisasi monitoring debitur,” kata Setiyo.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menegaskan bahwa perbankan perlu menjaga prinsip kehati-hatian di tengah ketidakpastian global maupun domestik.

Baca Juga: Perbankan Hati-Hati Hadapi Kredit Macet Korporasi

Menurutnya, risiko kredit perbankan masih terjaga, tercermin dari tren penurunan NPL dan Loan at Risk (LaR), termasuk pada bank KBMI 1. Per Juni 2025, NPL gross KBMI 1 tercatat 2,61% dan LaR 10,37%, lebih rendah dibandingkan periode sebelum pandemi Covid-19.

“Mitigasi risiko kredit juga tercermin dari tingkat pencadangan CKPN terhadap NPL yang cukup tinggi dibanding kelompok KBMI lain,” ujar Dian.
 

Selanjutnya: Menguasai Uang: 7 Prinsip Fundamental untuk Kemakmuran

Menarik Dibaca: Harga Emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian hari ini Sabtu (30/8/2025) Kompak Naik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×