Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Meningkatnya aktivitas transaksi valuta asing (valas) turut memberikan kontribusi terhadap pendapatan berbasis komisi atau fee based income perbankan.
Di tengah lemahnya nilai tukar rupiah, transaksi valas di sejumlah bank rupanya kian menggeliat. Salah satunya di Bank Danamon. Consumer Funding & Wealth Business Head Bank Danamon Ivan Jaya mengungkapkan, jumlah transaksi valas bank meningkat sekitar 25% hingga 30% dibandingkan tahun lalu.
"Jumlah transaksi kami amati dari tahun lalu ke sekarang naik sekitar hampir 25% sampai dengan 30%," ujar Ivan saat ditemui, Selasa (13/7/2026).
Tak hanya itu, dana valas yang mengendap di Bank Danamon per kuartal I-2026 juga tumbuh sekitar 52% secara tahunan.
Dari sisi pendapatan, Ivan menyebut fee based income yang berasal dari transaksi foreign exchange meningkat sekitar 35%. Tren pertumbuhan tersebut telah berlangsung konsisten sejak 2023.
Baca Juga: Manulife IM Sarankan Diversifikasi Portofolio di Tengah Gejolak Global
"Fee based income kami naik sekitar 35% dari sini. Tren ini sudah dari 2023 ke 2024, 2024 ke 2025, dan diteruskan sampai sekarang. Secara kumulatif, CAGR-nya berkisar 35%-40% setiap tahun," katanya.
Dari sisi perbankan syariah, Bank Syariah Indonesia (BSI) juga tak ketinggalan mencatatkan tren positif.
Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengatakan transaksi valas di BSI sejatinya merupakan layanan pelengkap untuk memenuhi kebutuhan nasabah yang memiliki aktivitas perdagangan internasional, investasi, maupun transaksi bisnis lintas negara.
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, volume rata-rata transaksi valas BSI bersama nasabah mencapai sekitar US$ 20 juta per hari. Pertumbuhan positif volume transaksi, kata Wisnu, utamanya didorong oleh bertambahnya jumlah nasabah yang bertransaksi serta meningkatnya kebutuhan transaksi bisnis mereka.
Pun, kontribusi layanan ini terhadap pendapatan bank cukup positif. "Kontribusi transaksi valas menjadi salah satu penopang pendapatan berbasis komisi atau fee based income, bukan sebagai sumber utama pendapatan bank," ujar Wisnu. Yang pasti, nilainya sejalan dengan volume transaksi yang dilakukan nasabah.
Wisnu juga menyebut pihaknya bakal terus memperkuat layanan treasury dan transaksi valas secara prudent dengan mengedepankan manajemen risiko serta menyediakan berbagai solusi sesuai kebutuhan nasabah.
Baca Juga: Perbankan Terus Dorong Pembiayaan Hijau, Portofolio Berkelanjutan Terus Dikembangkan
Di sisi lain, EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengatakan transaksi valas di BCA tak hanya dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar, tetapi juga kebutuhan valas dari nasabah.
Hera mengatakan pendapatan dari transaksi valas turut berkontribusi terhadap pendapatan selain bunga BCA. Pada kuartal I-2026, total pendapatan selain bunga BCA mencapai Rp 6,6 triliun, ditopang oleh pendapatan fee dan komisi yang tumbuh 14,2% secara tahunan.
"BCA berkomitmen untuk senantiasa memenuhi kebutuhan transaksi valas sesuai kebutuhan nasabah dalam berbagai jenis mata uang. Kami juga terus memastikan hadirnya platform perbankan transaksi yang aman dan andal," kata Hera.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














